Skip to main content

Belajarlah Wahai Anak Muda!



Dahulu kala hiduplah seorang lelaki tua bernama Doyanta yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk reot di samping sungai. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rumahnya, hanya sebuah gubuk dari bambu yang mungkin akan dengan mudah diterbangkan oleh angin pada zaman sekarang, betapa tidak, peti kemas saja yang begitu berat di Tanjung Priok bisa roboh tertiup oleh angin di zaman yang sudah edan ini. Rumah nya tak begitu besar malah dapat dibilang kecil, tak ada penerangan selain lilin kecil yang memberikan sedikit pencahayaan ketika malam hari selain rembulan yang terkadang pun pergi meninggalkan dirinya. Hidupnya sepi, sendiri, tak ada yang tau bagaimana masa lalu lelaki tua tersebut.

Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk merebahkan tubuhnya yang kurus kering itu di kursi yang tak jauh lebih gemuk dari butuhnya, mungkin sama ringannya. Matanya menerawang jauh menembus hutan, gunung, dan mungkin lautan. Beberapa waktu dia asyik hidup dalam dunianya sendiri, lalu lalang pejalan kaki, siulan burung yang begitu merdu di kala hari, serta teriknya matahari tak mampu menembus alam yang sedang ia nikmati. Tak ada yang mampu menyadarkannya kecuali dirinya sendiri. Setiap kali tersadar, tak ada yang nampak di wajahnya kecuali raut muka sedih, wajahnya yang keriput makin kusut terlebih kian hari umurnya makin bertambah, rambutnya kian memutih, dan gigi-gigi yang dahulu kuat mengoyak daging pun kini tak lebih dari hitungan jari.

Kala itu matahari menyinari bumi begitu teriknya, keringat warga bercucuran, pak tua itu tetap saja asyik dalam dunianya. Tiba-tiba datanglah seorang pemuda ke rumah pak tua tersebut. Tak perlu susah payah baginya untuk menemukan rumah reot yang takkan bertahan lama lagi itu. Dilihatnya seorang pak tua yang duduk di atas kursi tanpa ada gerakan sedikitpun, angannya bermain-main, ada apakah gerangan.
“Pak tua, pak tua”
“Pak tua, permisi pak tua”, ucap pemuda itu. Tak ada tanggapan dari orang tua itu.
“Pak tua, saya ingin bicara sama pak tua.”, berulang kali dia berucap, tapi tatapan kosong lah yang ia dapatkan.  Hatinya letih, ia memutuskan untuk menunggu pak tua itu walaupun dia tak tau kapan pak tua itu akan kembali ke dunia yang sebenarnya.
“Hei anak muda, kenapa kau ada di rumahku”, tanya pak tua
“Oh, engkau sudah bangun rupanya pak tua”
“Namamu adalah golekita, ada yang ingin aku bicarakan denganmu wahai pak tua”
“Golekita? Siapa dirimu anak muda, tak pernah aku mendengar nama itu di daerah sini”
“Aku memang tak berasal dari desa ini, aku berasal dari desa yang jauh di sana dimana matahari begitu enggan untuk berbagi kehangatan”
“Lalu apa tujuanmu kemari, toh aku tak mengenalmu sebelum ini”, pak tua semakin heran dengan pemuda yang tiba-tiba datang kepadanya itu.
Aku adalah pemuda miskin pak tua, aku tak punya rumah, wajahku tak rupawan, aku selalu di pandang sebelah mata oleh orang-orang di desaku”
“7 hari yang lalu aku memulai bertapa di dalam goa keramat di desaku hingga aku tertidur beberapa saat, di sana aku memintakepada para ‘penguasa’ “
“Kekayaan yang berlimpah agar aku tak merasakan yang namanya kelaparan, bosan sudah aku hidup dengan menahan lapar setiap hari. Kedudukan yang tinggi di negeri ini agar tak ada lagi orang-orang yang memandangku sebelah mata hanya karena aku orang miskin dan tak punya. Aku pun meminta wanita yang cantik parasnya untuk memuaskanku setiap saat”, nampak jelas guratan kesedihan di wajah pemuda itu. Tubuhnya yang tak subur, parasnya yang tak tampan, dan pakaian yang tak menawan, semuanya meyakinkan pak tua tersebut tentang permintaan yang ia lontarkan pada para “penguasa”.
Lantas mengapa engkau kesini wahai anak muda. Aku bukanlah sesembahan tempatmu meminta, aku juga tak punya daya untuk mengabulkan permintaanmu. Coba kau lihat sekelilingmu, kemiskinan, kelaparan, dan kesepian adalah santapanku setiap hari, mereka adalah teman setiaku, mungkin sampai aku mati.”, tutur pak tua itu sedih
Entah lah pak tua, dalam mimpiku aku melihat begitu banyak uang hingga aku mampu bermain-main dengannya, ku lihat pula mahkota yang bila ku pakai pasti kan menyilaikan orang yang memandangku serta menyakiti leherku, dan yang terpenting adalah ku lihat diriku sedang menikmati sentuhan dari para wanita, ya para wanita, tak hanya ada satu melainkan banyak sekali wanita yang menemaniku, memuaskanku, hasrat yang selalu bergejolak dalam diriku. Dalam mimpi ku itu pula ku dengar suara yang memerintahkan ku untuk datang ke desa ini, sebuah desa yang  dikelilingi oleh sungai dengan seorang tua yang hidup tak jauh darinya, aku pun melihat sosokmu secara sekilas karena itu aku tak mungkin salah, kau memang yang aku lihat di mimpiku itu. Suara itu menjanjikan petunjuk lain setelah aku datang ke sini.”
“Sungguh aneh mimpi mu itu wahai anak muda. Mungkin memang sudah takdir bagi kita untuk bertemu. Sekali lagi aku minta maaf karena tak bisa memenuhi mimpi-mimpi yang kau alami itu. Tapi, apakah kau yakin dengan semua yang engkau inginkan itu?”
“Lihatlah aku wahai anak muda, tubuh ku kurus, tak ada jabatan yang menempel padaku, parasku pun makin tak tampan melainkan menua. Dahulu aku adalah seorang lelaki yang cukup tampan, tak begitu miskin tapi berkecukupan, aku pun tak tinggal di desa ini melainkan di kota dimana perputaran uang begitu cepat dan suasana begitu ramai. Suatu ketika sampailah aku di masa-masa kejayaanku, perkerjaan ku yang awalnya hanya seorang pedagang kecil berubah menjadi seorang saudagar yang kaya raya, tentu dengan usaha yang amat keras. Bila aku mau, aku pun mampu membeli budak sepertimu kalau itu. Orang-orang di kota segan padaku karena aku menjadi seorang petinggi di kota itu, setiap kebijakan tak  lepas dari persetujuanku dan lima belas petinggi lainnya. Aku pun memiliki pujaan hati, amat cantik parasnya bagiku, amat idnah tuturnya tuk di dengar, begitu menawan lekukan tubuhnya, tapi entah mengapa dia menolak cintaku, cinta yang tlah ku pendam begitu lamanya.”
“Sadar akan posisiku yang begitu strategis, banyak godaan yang datang melintang, aku sudah cukup bersyukur dengan kekayaan yang kupunya kala itu, aku pun bersyukur dengan posisi yang terhormat di masyarakat. Tapi aku tetap hanya seorang lelaki muda dengan dunia yang kesepian, aku tergoda akan bujuk rayu wanita, aku tergoda akan montok tubuh wanita, aku tergoda akan ucapan manja wanita, aku tergoda akan desahan wanita, aku tergoda dengan wanita, perhiasan dunia.”
“Bukankah itu wajar wahai pak tua, engkau punya segalanya, tentu mudah bagimu untuk mendapatkan wanita apalagi kau sendiri”
“Ya anak muda, awalnya semua berjalan dengan baik, wanita simpananku bisa ku atur sebagaimana ku inginkan, setiap hari ku dengar desahannya di kamarku, ku penuhi pergelangannya dengan emas-emas yang begitu indah, leher yang dahulunya polos pun berubah menjadi tempat kalung-kalung intan menggantung. Tapi, tau kah engkau wahai anak muda? Kepuasanku terhadapnya begitu cepat hilang, entah apa yang terjadi tapi tak ada kenikmatan yang ku dapat lagi dari wanita simpananku itu, aku mulai lagi mencari, mencari wanita untuk memuaskanku, tak peduli berapapun uang yang ku harus berikan, satu demi satu wanita yang ada ku coba, satu demi satu wanita memberikan ku rasa bosan, hingga akhirnya aku sadar, harta yang dahulunya begitu bergelimang di tanganku kini semakin menipis, perdagangan yang dahulunya menjadi ladangku untuk meraup keuntungan pun makin sepi, aku pun rela mengakali timbangan saat itu demi mendapatkan keuntungan yang berlipat, ak ada yang ku pikirkan selain mengembalikan semua kekayaanku. Aku tetap masih dalam buaian halus para wanita simpananku, kecuranganku dalam berdagang masih belum mampu mengembalikan kekayaan yang dahulu ku punya, ku jual suaraku kepada mereka yang mempunyai kepentiang pribadi, ku gadaikan martabatku, harga diriku, kejujuranku hanya demi uang yang ujung-ujungnya bermuara di para wanita simpananku. Sungguh mereka adalah tempat uang-uangku berlabuh.”
“Lalu mengapa engkau berakhir seperti ini wahai pak tua, bukankah engkau sudah bermain curang?”
“Semua tak selalu berjalan baik wahai anak muda, dari kecurangan ku dalam menjual suara, banyak orang yang menaruh dendam kepadaku karena hak yang seharusnya mereka terima terampas. Mereka membuat persekongkolan untuk menjatuhkanku hingga suatu hari ku tertangkap basah sedang meniduri seorang istri dari petinggi lain, aku pun berada di posisi yang salah. Sang petinggi itu mencaciku,menghujaniku dengan pukulan tangan yang penuh amarah, ku lihat matanya begitu ingin membunuhku. Aku pun diadili oleh hakim yang terkenal jujur disana, hukuman berat bisa-saja menjatuhiku, tapi dia begitu bijak, dia memberikan pilihan kepadaku untuk menerima hukuman penjara yang begitu berat tersebut atau bebas dengan syarat aku harus menyerahkan semua kekayaanku dan meninggalkan kota itu. Bukan karena aku menyuapnya, tapi dia mempertimbangkan jasa-jasaku terhadap kota tersebut. Dengan berat hati aku pun meninggalkan kota itu beserta segala kekayaan, tahta, serta wanita ku di sana. Aku berakhir di desa ini wahai anak muda, di samping kali yang begitu deras airnya, tapi tak banjir ketika hujan deras turun, aku merasa aman di sini.”
“Wahai pak tua, sungguh tragis hidup yang engkau alami itu, tapi sungguh aku ingin merasakan kenikmatan dunia itu, sudah bosan diriku seperti ini, suara yang ku dengar dalam mimpi itu berkata bahwa aku akan mendapatkan petunjuk setelah bertemu denganmu”, pemuda itu masih bertanya-tanya
Tidak kah kau bisa mengambil pelajaran wahai anak muda? Lihatlah aku ini, aku hancur karena mengikuti nafsuku dan terbuai dalam ketiga hal tersebut, ketakutan akan kemiskinan membuatku curang dalam berdagang, posisi yang begitu strategis menjadikanku rela menjual jiwaku, wanita yang begitu menggoda membuatku menghalalkan segala cara untuk  mendapatkan kepuasan walau hanya beberapa saat.Tidak kah kau bisa mengambil pelajaran? Hati ku terlalu lemah kala itu untuk menerima itu semua hingga akhirnya aku  lepas dari jalur yang seharusnya kutempuh. Sudahkah hatimu kuat menahan godaan yang pasti akan menhadangmu wahai anak muda?”
“Entahlah pak tua, aku tak tau”
“Janganlah engkau sepertiku yang menyerah mengejar cinta yang ku punya hingga aku akhirnya memuaskan diri dengan apa yang ada, lambat laun apa yang sekarang kau katakan cinta itu takkan lagi bias kau rasakan, hanya kenikmatan sesaat yang terus engkau cari sampai kau menyadari bahwa kau tak lagi mencintai orang yang patut engkau cintai. Jangan lah engkau sepertiku anak muda, belajarlah dari kesalahanku, ku habiskan beberapa waktu di setiap hariku hanya untuk berdiam di kursi reot itu, cobalah engkau terka apa yang ku pikirkan ketika duduk di sana hingga tak ku hiraukan kicauan burung yang begitu merdu di atas atap rumahku”
“Entah lah pak tua, beri tahu sajalah aku ini”
“Sepertinya engkau benar-benar berhati lemah wahai anak muda. Dalam setiap lamunanku, masa lalu lah yang selalu menghiasi duniaku, aku terbuai dalam kemenangan masa lalu dimana segalanya bisa ku dapatkan. Aku berandai-andai, terus berandai andai bagaimana diriku kini bila dahulu aku tak membuat kesalahan itu. Mungkin kini aku masih tinggal di kota, menikmati makanan lezat, serta disegani oleh banyak orang walaupun mungkin aku masih sendirian, tapi itu lebih baik dari keadaanku sekarang. Penyesalan seperti itulah yang aku temui setiap hari selama 38 tahun belakangan ini. Pergilah anak muda!, renungkan setiap perkataanku yang ku lontarkan dengan penuh harapan padamu, aku bukan Tuhan yang mampu memberimu gelimang kekayaan, tingginya jabatan , maupun sentuhan wanita.
“…..”, pemuda itu pergi meninggalkan pak tua. Tak ada kata yang ia ucapkan, kepalanya tertunduk, punggung yang awalnya begitu nampak itu perlahan hilang di tengah kegelapan.


Comments

  1. bagus ya cerpennya, diselipin pesan pesan pribadi dari penulis hati hati kalau cari jodoh hehhehe

    ReplyDelete
  2. haha, kalau bisa sekali nyari langsung dapet yang bener :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

6 Tips Aman Berbelanja Online di Luar Negeri

Di era globalisasi dan teknologi seperti sekarang, berbelanja bukanlah sesuatu yang susah betapa tidak, hanya perlu meluangkan waktu beberapa saat saja di rumah, barang yang kita inginkan pun bisa kita dapatkan dengan cepat. Kali ini saya akan berbagi tips aman berbelanja online di luar negeri. Alat pembayaran Umumnya, ada dua alat pembayaran yang diterima oleh seller yakni paypal dan kartu kredit. Sebagian dari kita tentu agak kesusahan bila harus membayar dengan kartu kredit karena tidak semua orang berkesempatan memiliki kartu tersebut terlebih ada umur minimal untuk memilikinya. Namun, masalah tersebut dapat diatasi dengan dua cara yakni membeli virtual credit card atau menggunakan paypal. Virtual credit card memungkinkan rekan-rekan untuk memiliki kartu virtual dengan saldo yang rekan-rekan butuhkan, biasanya sih cocok untuk yang sekali transaksi. Sedangkan, paypal pun memberikan kemudahan karena banyak jasa penjualan balance atau saldo paypal sehingga rekan-

Hari pertama : Salam kenal dari BangSat

Salam kenal, Ca-Kawan :D Setelah sekian lama nge-blog karena keinginan sendiri tanpa keterikatan dan tuntutan maka sekarang saya sedang mencoba menaklukkan tantangan Bang Claude yakni “ Tantangan Ngeblog 30 Hari ”. Maklum, orang bergolongan darah B kan suka tantangan :p. Kalau biasanya saya bisa ngeblog sesuka hati, maka sekarang saya harus ngeblog dengan beberapa kriteria yang mungkin tidak asing, tapi tak begitu mudah dilakukan. Konsisten dan On Demand . Inilah poin penting yang menurut saya menjadi dasar diadakannya chalange ini. Oke, nama saya Aryya Dwisatya Widigdha. Saya biasa dipanggil Yayak, Aryya, Dwi, Satya, Widi, atau bahkan BangSat. Tiap nama panggilan punya sejarah masing semisal Yayak adalah nama panggilan dari orang-orang yang paling pertama mengenal saya seperti orang tua, saudara, teman sejak TK/SD. Aryya, panggilan dari rekan-rekan SMP dan SMA. Dwi, Satya, dan Widi merupakan panggilan yang kerap kali dilayangkan oleh kawan-kawan blogger, pecinta IT, dan