Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Sepedahan

Pertama Kali ke Ranu Klakah

Sebagai penduduk asli Lumajang, sepertinya saya cukup kurang jalan-jalan ketika SMA karena baru bulan lalu sampai ke Ranu Klakah. Selain Ranu Klakah, saya juga belum pernah ke Stasiun Klakah, hehe. Namun, akhirnya bulan lalu sampai juga dengan bersepeda. Stasiun Klakah Sebenarnya, rute ke ranu dan stasiun ini cukup jauh, paling jauh dibanding rute-rute lain, tapi buat saya ini lebih ringan karena elevation gainnya tidak semengerikan ke Loji Besuksat atau ke Senduro, jadi tinggal tahan kayuh terus saja. Selain itu, hal yang cukup seram di rute ini adalah, karena saya tidak pakai helm karena belum punya, disalip truk besar cukup bikin takut, tapi toh alhamdulillah bisa sampai dengan selamat dan aman. Pintu Masuk Ranu Klakah Ranu Klakah Ranu Klakah Pagi Hari Ketika sampai di sana sekitar jam 7 pagi, warung-warung masih belum buka. Mungkin karena memang masih terlalu pagi, alhasil hanya bisa foto di jalan utama saja. Jam segitu juga tidak ada biaya untuk masuk, tinggal masuk saja bebas lew

Menanjak ke Pura Mandara Giri Semeru Agung

 Pada 28 November 2021 lalu saya kembali menjajal jalanan Lumajang ke arah Senduro. Awalnya ingin sampai ke perkemahan Glagaharum, tapi saya sudah kadung lapar dan capek hingga akhirnya berhenti di pura Mandara Giri Semeru Agung saja. Sebenarnya, awal tahun ini saya juga sudah pernah ke sini, tapi bedanya kali ini saya pakai roadbike baru jadi punya pengalaman yang baru juga. Selain itu, sekarang saya juga menggunakan heart rate monitor sehingga bisa memastikan HR dikisaran 150 agar gowes tetap santai dan tidak terlalu capek. Dari sisi rute, saya rasa cukup salah pilih rute karena dari pulo - jokarto - karanganom, jalannya tidak cocok roadbike, lebih pas ketika pakai MTB dulu. Selepas dari karanganom, mengikuti jalanan utama dengan beberapa tanjakan curam sebelum masuk ke hutan jatian di senduro. Pokoknya, kalau sudah sampai ke hutan jatian senduro, sudah bisa lebih santai karena ke sananya, cukup landai sampai pura. Hutan Jatian Senduro Pura Mandara Giri Semeru Agung bersama si Hitam

Sobat Upgrade Plus-Plus

 Pada bulan april lalu saya membuat tulisan tentang pilihan saya untuk menjadi sobat upgrade ketimbang harus membeli sepeda balap baru yang harganya mencapai paling tidak 6 juta rupiah. Bulan demi bulan, saya mencoba mengganti komponen sepeda Polygon fork rigid saya mulai dari bottom bracket, hub free hub, ruji, dan yang paling baru adalah pedal di hari minggu lalu. Sebenarnya, saya punya prinsip, upgrade semaksimal mungkin sampai tidak bisa diupgrade atau costnya tidak efektif lagi. Contohnya, fork rigid ini sudah susah untuk diganti ban jadi ban balap karena ukuran rangka sepedanya terlalu kecil dan akan perlu pemotongan manual, jadi cerita mengganti ban balap harus diurungkan. Selain itu, FD nya juga sudah patah dan mencari FD yang sejenis lumayan susah dan biasanya malah harus ganti semuanya yang mana berarti mesti merogoh kocek lebih dalam. Upgrade Plus-Plus Balik ke cerita saya april lalu, salah satu alasan saya tidak mau beli sepeda balap baru ya karena harganya sangat mahal bag

Restoration Ride #4: Gagal ke Gunung Sawur & HR Sensor Baru

Sabtu kemaren adalah sabtu keempat bersepeda dalam rangkaian restoration ride selepas berpuasa satu bulan. Rencana awalnya, restoration ride ini jadi ajang untuk bisa sampai ke Gunung Sawur, tapi ternyata gagal, capek bos. Nah, untuk minggu depan, sepertinya bakal dicoba rute baru, bukan mengejar EG, tapi mengejar jarak dan kecepatan. Maklum, 4 minggu selalu mengejar EG kan bosen juga. Jadi paling tidak, minggu depan harusnya bisa untuk dapat 40KM. toh, sekarang ada bantuan sensor untuk mengetahui kondisi jantung, jadi bisa lebih waspada. Magene Heart Rate Sensor Ceritanya minggu lalu beli HR sensor merk Magene seharga 260rb, cocok dengan XOSS dan sudah dicoba di sepedahan kemaren. So far produknya ok, walaupun masih agak terdistrak saat hasil pembacaan tidak sesuai karena ada kemungkinan sensor tidak nempel ke dada karena pemasangan yang kurang pas. Namun, dengan harga segitu, menurut saya worth it untuk bisa memantau kondisi diri.  Di kesempatan kemaren, avg HR saya di 144 bpm, artin

Agar Bersepeda Lebih Tenang

 Sejak kembali aktif bersepeda awal tahun ini, saya mencoba untuk bersepeda sederhana saja, apa adanya. Di awal saya memang sempet tanya-tanya temen sepeda yang oke gimana dan sebagainya, juga sudah sempat browsing sepeda yang kira-kira bisa dipakai untuk bersepeda rutin. Namun, toh saya tidak cocok dengan tipe bersepeda yang harus mengeluarkan duit sampe berjuta-juta. Takutnya bersepedanya musiman, udah terlanjur keluar uang, eh moodnya ilang. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menggunakan sepeda yang sudah ada dan upgrade bertahap. Tahapan Upgrade Awalnya, untuk tracking aktivitas, saya menggunakan Strava. Sayangnya, untuk beberapa daerah, sering terjadi permasalahan di GPS sehingga rutenya tidak sesuai dengan kenyataan. Alhasil, upgrade pertama yang saya lakukan adalah membeli tracking device ini yakni XOSS G+. Barulah setelah itu upgrade bertahap komponen sepeda seperti Bottom Bracket, Hub Free Hub, dan rantai.Itu semua juga, dilakukan beberapa bulan setelah bersepeda dan nyici

Jadwal Baru Sepedahan

 Ceritanya, setelah sepedahan pertama setelah libur sebulanan kemaren, minggu lalu saya sepedahan lagi. Kalau di sepedahan pertama jaraknya hanya 7km dengan EG kecil, di kesempatan kedua in saya sengaja ingin lebih jauh lagi. Maklum, setelah lama tidak sepedahan, badan terasa kurang kuat dan gampang kesemutan. Rute ke Barat Sebelum puasaan dulu, rute ke barat ini favorit. Selain karena menanjak, juga karena suasananya yang adem ayem tentram dan jarang dilalui kendaraan besar sehingga polusi yang masuk, walaupun sudah pakai masker, jadi lebih sedikit. Satu hal yang saya rasa dengan sepeda ini, makin enteng sejak upgrade HFH murah meriah kemaren. Memang sih, kalau sudah lama tidak sepedahan, selain yang harus dikembalikan itu stamina, mental juga harus dikembalikan. Masih ingat kemaren ketika di 5km pertama saja sudah ngos-ngosan ngebayangin bakal sejauh mana, males lanjut, istilah sini aras-arasen. Namun, kalau sudah lewat 5km itu, ya bablas saja. Ketika berangkat kemaren saya juga suda

Dimulai dari Nol

 Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk merasakan ramadhan dan lebaran tahun ini. Biasanya, setelah sebulan berpuasa, sampai di masa saling bermaaf-maafan dan muncul kalimat, "dimulai dari nol ya, dosanya semoga sudah dimaafkan". Sebagai pemilik blog ini, saya juga ingin mengucapkan "Mohon maaf lahir batin, semoga amal ibadah kita diterima dan berkah." Dimulai dari Nol yang lain Ngomong-ngomong, sebenarnya tulisan ini dibuat bukan karena even lebaran untuk bermaaf-maafan, tapi karena barusan, untuk pertama kalinya bersepeda setelah "puasa" satu bulan. Lebih tepatnya, 1 bulan 6 hari karena terakhir sepedahan di 10 April 2021. Rasanya? ngos-ngosan. Pernah baca atau denger di salah satu video di youtube, katanya kalau sepedahan ini enggak bisa lebih dari 3 hari jedanya. Kalau lebih dari itu, ya seperti mulai dari 0. Sepertinya sih benar. Kalau dilihat rute pagi ini, ternyata waktu tempuhnya sama dengan rute 4 April 2021. Padahal, sepeda yang d

Sobat Upgrade: Rantai dan Hub Free Hub

 Setelah merencanakan upgrade komponen sepeda karena kalau beli sepeda baru rasanya kemahalan, akhirnya proses upgrade dimulai. Ada dua komponen yang coba diupgrade dengan keterbatasan yang ada. Kondisinya, sepeda yang hendak diupgrade adalah keluaran tahun 2005-an, alhasil banyak komponen yang ngetren sekarang, tidak cocok, tidak terkecuali rantai dan hub free hub. Awalnya, saya mengira upgrade ini gampang, tinggal beli komponen yang harganya cocok, lalu tinggal pasang. Ternyata, enggak gitu, karena sepeda yang jadi target adalah sepeda tua, maka harus dicocokkan dengan lebih teliti apakah komponen itu kompatibel. Untuk rantai, awalnya saya berniat membeli rantai yang harganya di kisaran 150-200 ribu. Sudah nemu beberapa yang cocok, tapi di deskripsi produk ada tulisan 10speed. Padahal sepeda saya hanya 6 speed. Setelah tanya-tanya ke toko sepeda yang ada di kota, benar dugaan bahwa memang tidak bisa memaksakan rantai 10 speed ke 6 speed karena ukuran, bukan panjangnya, yang berbeda.