Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2015

Ah, Aku Masih Mata Duitan

Sebut saja hari itu adalah Sabtu, 21 November 2015. Ketika beberapa minggu sebelumnya sudah ada kawan yang menghubungi untuk mengisi sharing terkait blogging pada acara pembinaan suatu beasiswa. Ah, ini kan teman ku, masak aku tolak, ya aku terima saja, toh aku juga cukup suka nge-blog, jadi ya agak bisa lah dipertanggungjawabkan, pikirku. Waktu berlalu, hingga ada orang lain yang menghubungi saya untuk menindaklanjuti kegiatan ini. Usut punya usut ternyata kegiatan itu tidak dilakukan di Bandung melainkan Jatinangor. Wah, jauh juga ya? Seingat saya, hanya sekali saya ke Jatinangor yakni saat tingkat I dulu ketika menjadi peserta Diklat Dasar Aktivis Terpusat (DDAT) 2013. Wah, harus atur jadwal nih, wah harus nyiapin biaya nih. Mulailah pikiran-pikiran terkait materi muncul dalam benak saya. Pengalaman menjadi pembicara di beberapa di beberapa kegiatan membuat saya agak materialistis, banyak mikir tentang duit. Ah, ternyata saya masih serendah itu. Ketika Hari Itu Tiba Tanggung jawa

Mempertentangkan Hal Yang Sama

Merantau nampaknya sedikit banyak membuat pikiran saya menjadi lebih terbuka. Lingkungan yang berbeda, cara memandang yang berbeda, hingga tekstual yang berbeda membuat pikiran dipaksa sedikit demi sedikit untuk tidak kaku dan itu-itu saja. Ia dipaksa menerima kenyataan bahwa ada berbagai versi terkait hal yang sudah kita kenali selama ini. Berbeda Tapi Sama Saya punya pengandaian seperti berikut. Suatu hari saya punya dua teman yang sedang berulang tahun, lantas saya hendak memberikan kado kepadanya. Saya hanya memiliki satu jenis kado tapi ada beberapa jenis bungkus. Setiap teman saya mendapatkan satu buah kado yang bungkusnya berbeda. Secara sekilas, kedua teman saya merasa bahwa kado yang saya berikan berbeda. Padahal sama, hanya bungkusnya saja yang berbeda. Hal-hal seperti ini sering kali kita temui dalam keseharian. Parahnya adalah kita sampai ngotot-ngototan menegakkan keyakinan kita padahal esensi dari keyakinan yang lain ya sama saja. Peyeum bin Tape Kalau saya tany

Menjadi Part-Timer Administrator Jaringan

Berdebu! Sepertinya itulah keadaan blog saya setelah ditinggalkan selama 17 hari tanpa ada postingan baru tapi dengan harapan ada komentar baru yang muncul. Kali ini saya akan bercerita lagi, masih terkait dengan tulisan sebelumnya yakni menjadi seorang part-time-worker¬. Menjadi Part Timer Menjadi part-timer berarti ada sebagian waktu yang kita sisihkan untuk mengerjakan tugas kita. Sebagai seorang ¬part-timer administrator jaringan, tentu harus ada sebagian waktu yang harus saya alokasikan untuk mengelola jaringan tempat saya mengabdi. On Call Duty Salah satu hal yang ditakutkan oleh banyak orang ketika menjadi seorang part-timer adalah on call duty atau bahasa kerennya, siap sedia setiap saat ketika diperlukan (dipanggil). Lho, mas kan lagi kuliah, kalau tiba-tiba on call duty gimana? Well, saya juga bingung! Hahaha. Untungnya part-timer administrator jaringan memberikan banyak keleluasaan terkait waktu. Prinsip nya sederhana, no problems, no call. Selama reliability dan availabili

Mengapa Kita Harus Mencoba Bekerja Paruh Waktu

via https://media.licdn.com/mpr/mpr/p/5/005/07f/059/2d19d9e.jpg Masa-masa kuliah tingkat IV ini sepertinya lebih “manusiawi” daripada perkuliahan pada semester sebelumnya. Walaupun SKS yang diambil sama, saat ini saya mengambil hanya 20 SKS, tapi rasanya beban perkuliahan semester ini lebih manusiawi. Ya bayangkan saja, dari 20 SKS, 4 SKS tidak selalu ada waktu tatap muka, hanya tugas sesekali saja. Jadinya serasa 16 SKS, dan benar-benar jauh lebih terasa santai daripada semester sebelum-sebelumnya walaupun beban perkuliahan semester ini tidak kalah berat. What really dangerous for you is Saya pernah membaca entah di mana, bahwa yang lebih berbahaya dari waktu sibuk adalah waktu senggang. Well, saat waktu senggang inilah kita merasa bebas dari berbagai hal dan merasa semua baik-baik saja tanpa tuntutan padahal nyatanya ada banyak hal yang harus dikerjakan dan kita bereskan. Menjalani perkuliahan yang serasa 16 SKS ini berpotensi untuk bermalas-malasan, mager, merasa tidak ada