Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2015

Memilih Cinta Dalam Perbedaan

Setelah tahu bahwa rata-rata waktu yang saya butuhkan untuk membuat tulisan hanya sekitar 20 menit maka saya menyempatkan membuat tulisan hari ini. Supaya? Supaya saya terbiasa lagi menulis, menghilangkan rasa jenuh, dan berbagi pendapat maupun pengalaman. Walaupun sedang banyak tugas yang harus dikerjakan. Mari kita mulai. Suatu ketika saya membaca status line seorang adik tingkat yang kurang lebih isinya seperti berikut. "Persamaan yang menyatukan kita, tapi perbedaan yang menguatkan." Awalnya oke-oke saja hingga ada satu pertanyaan yang jleb banget. “Tapi kalau beda agama gimana kak?” Gotcha! Pertanyaan pamungkas keluar, dan suasana menjadi hening. Mungkin karena belum ada jawaban yang bisa memuaskan banyak pihak terkait pertanyaan tersebut. Cin(t)a Salah satu film yang menurut saya patut ditonton terkait perkara ini adalah Cin(t)a. Film yang mengambil latar tempat kampus ITB dan tokoh nya yakni mahasiswa ITB ini bercerita tentang dua orang yang sali

Trade-Off Setelah Menikah

Sampai sekarang masih saja ada beberapa orang yang bertanya, “Ya, gimana setelah nikah?”. Sebenarnya, jawaban dari pertanyaan tersebut sangat-sangat luas sebab tidak ada pembatas mengenai bidang yang spesifik. Namun, saya akan coba menjawab. Kalau dulu sebelum menikah saya bisa ke mana saja dan kapan saja, ya sekarang sih tidak bisa. Ngoprek sampai malam di kampus atau bahkan menginap, ah, sudah biasa. Sekarang? Wah, sudah jarang bro! Untungnya di kos sekarang internet kenceng, thanks IndiHome hahaha “Lho, kok enggak bisa pergi ke mana aja dan kapan aja?” , bukan karena tidak bisa, tapi lebih karena tidak mau. Kalau saya pergi, nanti yang menemani istri saya di rumah siapa? Kalau saya pergi, yang memastikan istri saya sehat wal afiat siapa? Jadi, bersama bukan kebutuhan dia saja, tapi kebutuhan saya juga. Ya bagaimana, ketika saya pergi sendiri, saya jadi kepikiran, dia sehat? Dia sudah makan? Sekarang ngapain? Khawatir! Semoga bukan paranoid. Yang jelas saya ingin memastik

Kapan Gue Harus Move on!

via quotes-status.com Buat anak muda jaman sekarang, mestinya move on bukan lagi kata yang asing di telinga. Buat yang masih belum tau move on, gampang nya sih move on itu beranjak dari sesuatu, enggak terikat lagi dengan sesuatu atau seseorang. Sekarang, dikit-dikit pasti lah bilang move on, entah itu dari lagu, anime, bahkan pasangan. Nah, gue yakin udah banyak orang yang ngasih tips cara move on makanya kali ini gue bakal coba ngebahas kapan lo harus move on dari mantan lo! Ada beberapa saat atau momen ketika lo bener-bener harus move on! Pertama, ketika lo punya seseorang yang beneran sayang sama lo. Someon e who really lov e you via urbandater.com Udah deh, enggak perlu berlama-lama terpaku sama mantan lo seberapa menyenangkan dia, seberapapun dia cantik, ganteng, tajir, supel, atau apapun itu. Akhiri aja, apalagi kalau lo tau ada orang yang bener-bener sayang sama lo tanpa dia mempermasalahkan lo kayak gimana. Sayangnya, orang-orang lebih fokus sama apa yang dia ke

Ah Ngapain Ikut Konferensi Sih!

Saya yakin, pasti ada orang yang bertanya-tanya, “Ah, ngapain sih ikut konferensi?”. Saya sangat yakin orang seperti itu ada, walaupun tak banyak, minimal satu yaitu saya sendiri. Sejujurnya, saya masih bingung mengapa banyak orang rela mengikuti suatu konferensi dengan menghabiskan waktu, tenaga, bahkan biaya yang tidak sedikit. Itulah yang saya pertanyakan, paling tidak sampai siang tadi sebelum penutupan konferensi kedua saya. Ada yang bilang bahwa kita tidak bisa menyukai suatu kegiatan sebelum kita mengetahui isi kegiatan tersebut dan kita tidak bisa mengetahui kegiatan tersebut ketika kita tidak pernah mencoba. Terbukti, setelah dua kali ikut konferensi, saya jadi makin mengenal apa itu konferensi dan apa yang bisa saya dapatkan di sana. (Indonesia Security Conference) IDSECCONF 2015 Konferensi pertama yang saya ikuti adalah IDSECCONF 2015. Bukan sebagai peserta melainkan sebagai pembicara. Sejujurnya saya mengikuti konferensi ini karena saya merasa tertantang untuk menul

Semoga Engkau Bahagia

Sejujurnya, saya adalah seorang yang sangat pemalu. Itulah sebabnya saya lebih sering mengungkapkan sesuatu melalui tulisan. Biar saja orang tau apa yang saya rasakan tanpa melihat saya salah tingkah. Hari ini adalah dua bulan lebih tiga belas hari sejak saya menikah dengan Nova. Seringkali, saya bertanya kepadanya, “kamu bahagia dengan saya?”, dia selalu menjawab iya, dan ketika saya tanya, “mengapa?”, selalu ada jawaban mengapa dia bisa bahagia. Lantas, bila saya ditanya balik olehnya, saya akan berhenti di pertanyaan kedua saja, “kamu bahagia dengan saya?” Ya, sangat bahagia. “Mengapa?” maka pertanyaan tersebut akan membuat saya terdiam Bukan karena tak ada jawabannya, tapi karena memang saya tak terbiasa mengungkapkan sesuatu secara langsung terlebih yang sarat dengan emosi. Saya bahagia, karena, dia adalah istri yang selalu bisa membuat saya tertawa. Entah dengan kebocahannya, tingkah anehnya, cara tidurnya, dan berbagai hal lain. Dia, yang belum sempurna, tapi mau belajar dan tid

Tidak Siapkah Kita Menikah Tanpa Sekolah Pra Nikah?

Sebagai mahasiswa tingkat empat atau sering disebut sebagai mahasiswa tingkat akhir sudah barang tentu ada banyak hal yang dipikirkan. Kehidupan pasca sarjana merupakan salah satu hal yang pasti dipikirkan bahkan dirisaukan oleh mahasiswa tingkat empat. Ada banyak hal yang terkait kehidupan pascasarjana seperti pekerjaan hingga pernikahan. Masing-masing orang memiliki sikap yang berbeda mengenai hal tersebut. Ada yang sejak kuliah sudah mencari pekerjaan hingga mencari calon untuk menjadi pendamping wisuda (PW) lalu pendamping di pelaminan nanti. Menyiapkan (Untuk) Pernikahan Bagi yang sudah memikirkan pernikahan pada tingkat ini, mulailah dia berpikir tentang apa, siapa, dan bagaimana sebuah pernikahan tersebut terjadi, terjalin, dan hidup. Beruntung, saat ini internet sudah mudah diakses sehingga informasi terkait hukum pernikahan, motivasi menikah, tata cara menikah, hingga bagaimana menjalin rumah tangga bisa didapatkan. Ada pula yang merasa semua itu tidak cukup hingga mengi

I Scream for Ice Cream Bandung 2012-2015

Banyak orang yang sangat menyukai ice cream termasuk saya dan Nova. Di Bandung, ada salah satu tempat makan ice cream yang tidak biasa karena ice cream yang dijual dibuat sendiri. Tempat yang saya maksud adalah I Scream for Ice Cream. Tempat jajan ice cream yang berlokasi di Jalan Harian Bangat ini sudah menarik mata saya sejak tahun 2012 lalu ketika saya masih tingkat I. Sayangnya, baru kesampaian jajan di sana tahun 2015 ini. Kalau dulu sedang ingin ke sana, eh tempatnya tutup, kalau lagi ada keperluan lain dan hanya lewat, tempatnya buka. Belum jodoh kalau kata orang. Fyi, tempat ini buka pukul 10.00-17.00 WIB, CMIIW. Ada beraneka ragam menu es dan ice cream  yang ditawarkan dengan variasi topping. Harganya pun tidak terlalu menggigit dompet. Untuk satu scoop dan 2 topping, harga yang perlu Anda bayar hanya 18000, dua scoop dan dua topping hanya 30000. Untuk kesempatan kemarin, kami hanya membeli ice cream dua scoop (coklat susu dan cokelat) dengan dua topping (chococips dan

Menjadi Manusia Yang Sama

21 tahun lebih 1 bulan dan 5 hari, nampaknya itulah waktu yang telah saya sia-siakan. Paling tidak itulah kesimpulan sederhana yang bisa saya tarik setelah saya mendapatkan pemahaman baru hari ini. Sering kali saya mendengar ungkapan demikian, “Orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari hari kemarin dan orang yang merugi adalah orang yang sama dengan hari kemarin.” Well, saya merasa saya masih tetap sama dengan saya di hari kemarin sepertinya saya merugi. UNTUK BERUBAH Setelah perenungan singkat saya hari ini, saya mendapatkan kesimpulan bahwa untuk berubah maka seseorang harus melakukan minimal dua hal ini yakni berpikir dan bertindak. Berpikir     “Engkau tidak akan mendapatkan apa-apa ketika engkau tidak pernah memikirkan nya”. Apa yang kita lakukan layaknya angin. Bila kita tak bisa memaknai angin tersebut maka jadilah ia angin lalu yang berhembus setiap saat dan tak memberikan perbedaan. Berbeda jika kita bisa memaknainya kapan ia datang, bagai

Ketika (Harus) Jauh Dari Orang Tua

Merantau Menjadi anak daerah yang pergi kuliah di kota lain memang memiliki banyak cerita suka dan duka. Salah satu duka yang paling terasa adalah jauh dari keluarga dan rumah. Paling tidak, itu yang saya rasakan. Masuk tahun keempat sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung membuat saya makin sadar bahwa hampir empat tahun saya jauh dari orang tua saya, tapi makin membuat saya sadar bahwa saya tak sedekat itu dahulu. Saya merasa lebih menghargai waktu itu ketika masa-masa ini. Ah, penyesalan memang datangnya terlambat. Tak Sendiri Bedanya saya ketika tingkat tiga dan tingkat empat adalah jumlah orang tua saya. Dulu saya punya dua orang tua, sekarang empat! Ya kan saya sudah menikah dan di Bandung bersama istri yang sama-sama sedang menjalani kehidupan sebagai mahasiswa tingkat IV ITB. Sedikit banyak beristri membuat saya tak sendirian dan tak merasa kesepian. Walaupun demikian, toh tetap saja saya kangen dengan orang tua saya. Ingin Lebih Dekat Memang, ada banyak cara