Skip to main content

Posts

Showing posts from 2021

Tentang Pantai

 Entah kenapa, pantai atau laut bisa sangat menarik untuk saya. Entah itu suasananya, gemuruh ombaknya, aromanya, atau bahkan keberadaannya sendiri. Bagi saya, tak peduli darimana asalnya, pada akhirnya, semua air akan kembali lagi bermuara ke pantai. Pun, buat saya, perasaan akan bermuara pada ia yang dituju dengan atau tanpa disadari. ..... Salah satu hal yang sangat saya rindukan saat di Bandung adalah..pantai. Bandung mungkin memang menawarkan banyak hal: hutan, kebun indah, air terjun, danau, dan lain sebagainya, tapi tetap saja ada yang terasa kurang, pantai. .... Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aneh juga kalau saya merasa cukup punya keterikatan dengan pantai, toh, tidak ada kenangan dengan di pantai. Namun, justru mungkin itu juga yang membuat pantai spesial, saya punya tempat untuk sendiri, saya punya tempat untuk hanya sebatas duduk atau berdiri memandangi ombak yang kadang-kadang mendekati kaki saya setelah terdorong angin. .... Oh iya, pantai yang saya sambangi tadi pagi na

Kapan Harus Take Profit Dari Saham?

 Ketika sudah untung minimal 20%! Mungkin ada yang berpikiran demikian, tapi kalau buat saya sih enggak perlu setinggi itu. Dalam pikiran saya, saham ini instrumen investasi yang harus lebih baik dari reksadana pasar uang syariah. Jadi katakanlah di reksadana pasar uang syariah keuntungan tahunan yang bisa saya dapat adalah 6% maka setiap bulan keuntungannya adalah 0.5% yang mana ini adalah batas bawah saya untuk take profit. Idenya gini, kalau misal kita invest di saham tapi ternyata return bulanannya dalam satu bulan kurang dari return yang didapatkan dari reksadana, ya untuk apa? Jadi harus diatas itu. Nah, persoalannya di atasnya ini seberapa tinggi? 3%, 5%, atau bahkan 20%? Balik lagi, buat saya sih angka 3-5% sudah untung, karena jauh lebih dari reksadana, apalagi jangka waktunya kurang lebih satu bulan. Deposito aja 3-5% itu untuk satu tahun kan?  Hal ini juga yang menjadi rem untuk tidak greedy  dengan pikiran sendiri ah, tunggu dulu, ntar pasti naik.   Padahal ternyata besokny

Masih Tetap Ngoprek (?)

 Kalau dibilang, pekerjaan saya yang sekarang ini bisa dianggap banting setir. Sebelumnya, walaupun posisi saya sebagai System Engineer, tapi sebenernya intense banget di software engineeringnya. Nah, sekarang, ketika dapat posisi baru sebagai DevOps Engineer, pekerjaan utamanya ya beneran DevOps, automation, dan software engineering ini tidak seintense sebelumnya. Tampilan dev.aryya.id Dev.Aryya.Id Saya sih sadar kalau terlena dengan keadaan ini, bisa-bisa tahun depan saya udah bakal kaku untuk ngoding intense lagi. Akhirnya saya membulatkan tekat untuk mengaktifkan http://dev.aryya.id/  . Idenya sih sederhana, apa yang sudah saya oprek, akan saya publikasikan di sana supaya bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Sekarang baru ada 3 hal yang published di sana: CVE Checker: api ini untuk mengecek CVE dari sebuah package dengan memberi masukan berupa full name dari package tersebut (rpm maupun deb) atau memberi info nama:versi dari package tersebut dns-record-query: api ini sesederhana untu

Belajar Self Reward

 Dari sekian banyak hal yang menurut saya susah, salah satunya adalah self reward.Biasanya, kalau sudah punya keinginan untuk beli atau cari self reward, selalu ada pertanyaan balik: Ini keinginan atau kebutuhan? Emang barang yang sebelumnya udah enggak fungsional? Kalau jadi beli, gimana nasib barang pendahulunya? Gimana move on dari barang yang sebelumnya? Biasanya, akhirnya, setelah mempertanyakan ke diri sendiri, enggak jadi self reward atau membeli sesuatu. Makanya, sampai sekarang saya paling heran kenapa beberapa orang bisa sangat sering gonta ganti gadget mulai dari HP ataupun laptop. Sebagai gambaran saja, selama 9 tahun kebelakang, saya hanya punya 3 laptop. Laptop pertama ketika kuliah yang dibeli di 2012, Asus N43SL. Kedua adalah laptop HP 2570p second yang saya beli di akhir 2016 seperti yang saya cerita di  https://blog.aryya.id/2016/12/upgrading-laptop-for-better-life.html dan masih saya gunakan sampai saat ini. Ketiga adalah laptop dari kantor di tahun 2021 ini setelah

Pengalaman Belajar Investasi Selama 3 Tahun

 Kalau uang disimpan di tabungan saja, nanti bakal habis kena biaya administrasi Banyak yang bilang, kalau kita bisa lho dapat uang tanpa harus kerja. Istilahnya, biarlah uang yang bekerja untuk kita. Terus, banyak ajakan seperti, "Ayo invest di saham" "Ayo invest di crypto" "Ayo invest di deposito" "Ayo invest di emas" dan lain sebagainya. Sebagai awam, tentu bingung dong harus investasi di mana? Sebagai sesama awam, yang sudah mencoba beberapa instrumen investasi sejak 2018, saya mau sedikit bercerita, semoga memberi gambaran bagi rekan-rekan yang mau mencoba. Disclaimer on ya, hanya sharing pengalaman pribadi saya saja. Memulai Investasi Sejak pertama kali punya rekening bank di SMA, rasa-rasanya uang yang dipunya hanya disimpan di dalam tabungan. Kalau misal dapat rejeki karena selesai proyek atau suatu kerjaan, uangnya akan segera masuk ke rekening tabungan saja. Padahal, kalau misalkan nominal kecil, ada biaya administrasi rekening yang lum

Pertama Kali Drive Thru

"Adek suka burger, dulu dibelikan burger sama ibuk", cerita Aya dengan bersemangat. Ceritanya dulu di Bandung, ibunya sering beri burger Carl Jr. dan Aya suka dengan burgernya. Alhasil, hari ini saya berencana untuk membeli burger di Jember yang jaraknya 70-an km dari Lumajang. Tidak ada Carl Jr di sini, jadi ya....harus beli di Mc D.  Drive Thru McD Jember lokasinya di Jalan Hayam Wuruk, kiri jalan kalau dari arah Lumajang. Sebenarnya, tinggal ikuti jalan utama (mungkin jalan nasional), pasti ketemu McD di kiri jalan. McD Jember Saya sih sudah beberapa kali beli makanan di McD, tapi juga tidak sering-sering amat, karena tidak suka banget dan harganya gak begitu cocok. Namun, kalau mau cari burger ya sepertinya McD pilihan yang oke. Nah, biasanya, kalau saya beli makanan di McD, selalu dine in, tapi karena masih PPKM jadinya ya pakai drive thru, ini pengalaman pertama saya. Pertama? Jelas, lha wong saya baru aktif nyetir mobil tahun ini, dan baru dapat sim A beberapa waktu te

Dari bangsatya.com Menjadi aryya.id

 Bagi pembaca blog saya yang sudah sejak dulu kala, mungkin sejak 2012, pasti ingat bahwa dulu blog ini domainnya adalah bangsatya.com. Sedikit kilas balik, bangsatya.com ini diambil dari dua kata, bang dan satya. Satya adalah bagian nama saya dan bang adalah panggalan akrab kawan-kawan saya kepada saya, walaupun memang kalau digabung ya jadinya kadang bangsat-ya .com Beberapa tahun lalu, domain bangsatya.com expired dan tidak saya perpanjang lagi karena memang sudah tidak aktif blogging. Toh, bakal jadi cost yang tidak perlu kalau dipertahankan. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, ada baiknya punya blog dengan nama pribadi. Niat awalnya pakai.com TLD tapi aryya.com sudah ada yang ambil, akhirnya menetapkan pilihan ke aryya.id supaya lebih oke saja bahwa memang ownernya orang indonesia. Dengan begitu, kan lebih enak kalau disearch di google, domain yang muncul lebih relevan dari yang awalnya bangsatya.com menjadi aryya.id. Lebih oke kan? Membeli Domain Sebenarnya, proses membeli doma

Restoration Ride #4: Gagal ke Gunung Sawur & HR Sensor Baru

Sabtu kemaren adalah sabtu keempat bersepeda dalam rangkaian restoration ride selepas berpuasa satu bulan. Rencana awalnya, restoration ride ini jadi ajang untuk bisa sampai ke Gunung Sawur, tapi ternyata gagal, capek bos. Nah, untuk minggu depan, sepertinya bakal dicoba rute baru, bukan mengejar EG, tapi mengejar jarak dan kecepatan. Maklum, 4 minggu selalu mengejar EG kan bosen juga. Jadi paling tidak, minggu depan harusnya bisa untuk dapat 40KM. toh, sekarang ada bantuan sensor untuk mengetahui kondisi jantung, jadi bisa lebih waspada. Magene Heart Rate Sensor Ceritanya minggu lalu beli HR sensor merk Magene seharga 260rb, cocok dengan XOSS dan sudah dicoba di sepedahan kemaren. So far produknya ok, walaupun masih agak terdistrak saat hasil pembacaan tidak sesuai karena ada kemungkinan sensor tidak nempel ke dada karena pemasangan yang kurang pas. Namun, dengan harga segitu, menurut saya worth it untuk bisa memantau kondisi diri.  Di kesempatan kemaren, avg HR saya di 144 bpm, artin

Agar Bersepeda Lebih Tenang

 Sejak kembali aktif bersepeda awal tahun ini, saya mencoba untuk bersepeda sederhana saja, apa adanya. Di awal saya memang sempet tanya-tanya temen sepeda yang oke gimana dan sebagainya, juga sudah sempat browsing sepeda yang kira-kira bisa dipakai untuk bersepeda rutin. Namun, toh saya tidak cocok dengan tipe bersepeda yang harus mengeluarkan duit sampe berjuta-juta. Takutnya bersepedanya musiman, udah terlanjur keluar uang, eh moodnya ilang. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menggunakan sepeda yang sudah ada dan upgrade bertahap. Tahapan Upgrade Awalnya, untuk tracking aktivitas, saya menggunakan Strava. Sayangnya, untuk beberapa daerah, sering terjadi permasalahan di GPS sehingga rutenya tidak sesuai dengan kenyataan. Alhasil, upgrade pertama yang saya lakukan adalah membeli tracking device ini yakni XOSS G+. Barulah setelah itu upgrade bertahap komponen sepeda seperti Bottom Bracket, Hub Free Hub, dan rantai.Itu semua juga, dilakukan beberapa bulan setelah bersepeda dan nyici

Restoration Ride #3

 Melanjutkan cerita sepedahan yang pernah saya tulis di Jadwal Baru Sepedahan , sabtu kemaren saya kembali menyempatkan bersepeda setelah satu minggu full bekerja. Targetnya jelas, untuk minggu ketiga ini, saya harus bisa mencapai 30 KM pulang-pergi. Target itu, alhamdulillah bisa terpenuhi di minggu ini. Satu hal yang saya sadari lagi kemaren, agar lebih tahan lama dalam bersepeda, cadence harus dijaga pada nilai tertentu.Sayangnya, saat ini masih pakai perasaan karena tidak ada sensornya walaupun XOSS punya fitur tambahan itu. Kalau cek di ecommerce, harga sensor ini sekitar 160-200K. Buat saya, terlalu mahal kalau dipakai hanya seminggu sekali. Jadi, ya skip dulu. Restoration Ride #4 Minggu depan, masuk minggu ke-4 restoration ride saya setelah libur sepedahan sebulanan selama puasa kemaren. Setelah melewati 7km 20km, 30km, maka besok harusnya sampai di 40km. Target saya sih, antara 20km menanjak atau 1,5 jam mengayuh tanpa henti.Rutenya juga masih sama, tapi dengan destinasi yang b

Komitmen Terpanjang Dalam Hidup

 Menurutmu, apa komitmen terpanjang yang kamu sudah/akan kamu lalui? Bagi saya, Komitmen menjadi pegawai di perusahaan? Bukan Komitmen menjadi suami/istri? Bukan Komitmen menjadi orang tua. Bagi saya, sampai saat ini, setelah tiga tahun menjadi orang tua, itulah komitmen terpanjang yang akan saya lakukan. Menjadi Orang Tua Saya resmi menjadi orang tua pada April 2018, ketika anak pertama saya, seorang perempuan, lahir ke dunia sekitar pukul 03.30. Bagaimana perasaan saya saat itu? Senang, terharu, dan sangat lega. Saya lega karena ibu dan anaknya selamat dan sehat setelah proses persalinan itu. Bagaimana perasaan saya 9 bulan atau bahkan dua tahun sebelumnya? Takut, trauma. Perasaan pertama adalah takut. Selama istri saya mengandung, saya sering kali merasa takut akan banyak hal terkait kesehatan dan keselamatan ibu dan anak yang masih dalam kandungan. Bayangkan, ada banyak hal yang mungkin terjadi selama masa mengandung pun ketika dilahirkan. Pikiran-pikiran itu yang membuat saya taku

Menjalani Adaptasi Kebiasaan Baru

 Bukan, tulisan ini bukan tentang corona, tapi tentang pengalaman kerja di kantor baru. Ceritanya, minggu ini adalah minggu pertama sejak minggu onboarding selesai yakni minggu lalu. Artinya, baru dua hari berjalan. Minggu lalu sempat kaget juga karena task yang saya dapat lebih banyak ke transfer knowledge dan eksplorasi, tapi ya wajar karena masih baru jadi harus observasi lingkungan dan juga untuk tahu apa problem yang nanti bisa dicarikan solusinya. Selama seminggu kemaren, rasanya agak aneh juga, karena serasa tidak ada sesuatu yang di-achieve, karena tidak ada ticket yang bisa diclose. Alhasil, setelah mengamati beberapa hal dan diskusi beberapa hal, inisiatif mengerjakan hal-hal yang saya rasa bisa memberi value ke pekerjaan. Hasilnya, ketika biweekly meeting kemaren, ada statement semacam, "He join for a week. He did a excellent job." . Lega sekali rasanya. Meskipun di mana-mana saya merasa sangat PD, toh pada kenyataannya kadang saya juga merasa insecure. "Am i

Jadwal Baru Sepedahan

 Ceritanya, setelah sepedahan pertama setelah libur sebulanan kemaren, minggu lalu saya sepedahan lagi. Kalau di sepedahan pertama jaraknya hanya 7km dengan EG kecil, di kesempatan kedua in saya sengaja ingin lebih jauh lagi. Maklum, setelah lama tidak sepedahan, badan terasa kurang kuat dan gampang kesemutan. Rute ke Barat Sebelum puasaan dulu, rute ke barat ini favorit. Selain karena menanjak, juga karena suasananya yang adem ayem tentram dan jarang dilalui kendaraan besar sehingga polusi yang masuk, walaupun sudah pakai masker, jadi lebih sedikit. Satu hal yang saya rasa dengan sepeda ini, makin enteng sejak upgrade HFH murah meriah kemaren. Memang sih, kalau sudah lama tidak sepedahan, selain yang harus dikembalikan itu stamina, mental juga harus dikembalikan. Masih ingat kemaren ketika di 5km pertama saja sudah ngos-ngosan ngebayangin bakal sejauh mana, males lanjut, istilah sini aras-arasen. Namun, kalau sudah lewat 5km itu, ya bablas saja. Ketika berangkat kemaren saya juga suda

Dimulai dari Nol

 Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk merasakan ramadhan dan lebaran tahun ini. Biasanya, setelah sebulan berpuasa, sampai di masa saling bermaaf-maafan dan muncul kalimat, "dimulai dari nol ya, dosanya semoga sudah dimaafkan". Sebagai pemilik blog ini, saya juga ingin mengucapkan "Mohon maaf lahir batin, semoga amal ibadah kita diterima dan berkah." Dimulai dari Nol yang lain Ngomong-ngomong, sebenarnya tulisan ini dibuat bukan karena even lebaran untuk bermaaf-maafan, tapi karena barusan, untuk pertama kalinya bersepeda setelah "puasa" satu bulan. Lebih tepatnya, 1 bulan 6 hari karena terakhir sepedahan di 10 April 2021. Rasanya? ngos-ngosan. Pernah baca atau denger di salah satu video di youtube, katanya kalau sepedahan ini enggak bisa lebih dari 3 hari jedanya. Kalau lebih dari itu, ya seperti mulai dari 0. Sepertinya sih benar. Kalau dilihat rute pagi ini, ternyata waktu tempuhnya sama dengan rute 4 April 2021. Padahal, sepeda yang d

Bermain Dengan Google Data Studio - Twitter Data Visualization

 Sebagai seorang System Engineer yang juga sering harus present soal data, dan membuat data vizualization walaupun memang kaitannya dengan system seperti log, saya adalah penggemar berat ELK (Elasticsearch Logstash Kibana). Kenapa? selain karena sudah kenal sejak lama, sering dipakai di banyak kesempatan, powerful untuk searching,dan bisa on-premise setup. Namun, akhir-akhir ini saya tegoda untuk mengeksplor lebih dalam Google Data Studio. Bukan tanpa sebab, bagi saya, GDS ini lebih sederhana untuk awam dan multisource provided seperti Google Spreadsheet, Google Cloud Storage, dkk. Artinya, pengguna awal tidak perlu mensetup server sendiri untuk membuat visualisasi. Apalagi, untuk menggunakan layanan ini hanya perlu google account saja. Twitter Visualization Saya sering meng-utilize ELK sampai titik tertentu dalam visualisasi mulai dari vessel tracking, flight route visualization, bahkan twitter visualization (aalytic bisa dikerjakan di saat processing,bukan di sisi ELK). Nah, karena s