Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2015

Idul Adha Keempat

Setelah cukup lama tidak menulis, akhirnya kini saya kembali menulis. Saya akan coba bercerita beberapa pengalaman saya tentang Idul Adha sebagai seorang mahasiswa. Dua Ribu Dua Belas Dua ribu dua belas adalah tahun awal masuk perkuliahan. Ketika wajah saya dan ribuan kawan baru saya di ITB masih polos dan tanpa beban (mestinya) dan untuk pertama kalinya lah saya menjalani Idul Adha jauh dari orang tua. Maklumi saja, sejak kecil saya tidak pernah nge-kos atau mondok, jadi ya selalu bareng orang tua.  Untungnya, di Bandung ada saudara yakni pakde dan adik saya. Yasudah, kami menghabiskan malam Idul Adha di rumah pakde yang ada di Antapani. Datang, makan, ngobrol-ngobrol, sholat, ngobrol, lalu pulang. [Tidak Ada Dokumentasi] Dua Ribu Tiga Belas Ini dia tahun yang cukup bersejarah. Intinya sih saya menghabiskan waktu-waktu sebelum Idul Adha di Cirebon setelah bertahun-tahun hanya tahu nama, akhirnya kesampaian juga bertandang ke sana. Untuk kebaikan bersama, cerita tidak didetil

Wanita Tepi Pantai

Karena laut akan tetap menjadi rendah hati Ia kan mampu menjaga rahasia hingga tak ada lagi yang mampu mengingat Senyuman, candaan, bahkan pelukan Akan ada orang yang begitu enggan menjauh dari laut Sebab ia tau bahwa laut menerima semua perasaan yang ia curahkan Sebab ia mengerti bahwa laut tak akan pernah berubah Ia mengikuti irama yang telah ada Pada akhirnya, aku masih di sini Menikmati hembusan agin dan udara yang khas Aku menunggumu sembari duduk di bibir pantai selatan Berharap suatu saat nanti engkau datang, duduk, dan membiarkanku merebahkan kepalaku di pundakmu sekali lagi (Ria, Ada Senyummu di Ujung Laut Selatan, 2017)

Tentang Menikah : Akselerasi Diri

Sudah tiga puluh empat hari semenjak saya tak lagi menjadi seorang lajang. Kalau kata orang Jawa, saya sudah tidak bisa dipanggil “lancing”, sebutan untuk seorang jejaka. Ada banyak hal yang saya dapatkan, pikirkan, alami, inginkan, dan sebagainya. Beberapa, akan saya coba tuliskan, semoga menjadi manfaat. Bismillah. Ribuan Pertanyaan Perlu saya akui bahwa sebelum menikah, saat menikah, dan setelah menikah begitu banyak pertanyaan yang muncul. Semuanya bervariasi sesuai dengan pewaktuannya. Kreatif sekali memang para penanya itu. Ketika sebelum menikah, biasanya pertanyaan yang umum ditanya antara lain: “Kapan nikah?” “Sama siapa nikah?” “Ntar nikah di Bandung apa di Lumajang?” “Udah punya mobil?” “Udah punya modal buat nikah?” Dan sebagainya. Anehnya, pertanyaan yang sifatnya materiil justru tidak datang dari keluarga saya atau keluarga istri saya. Kalau saya ingat, dulu ketika tahun 2013 saya mengutarakan niat saya sendirian, orang tua istri saya tak bertanya, “