Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Lost Stars

Please don't see just a boy caught up in dreams and fantasies Please see me reaching out for someone I can't see Take my hand let's see where we wake up tomorrow Best laid plans sometimes are just a one night stand I'd be damned Cupid's demanding back his arrow So let's get drunk on our tears and Karena terkadang yang terindah tak bisa dilihat dan tak bisa digapai Karena terkadang yang terbaik hanya bisa dirasakan sesaat Dan terkadang keindahan harus dibayar dengan airmata God, tell us the reason youth is wasted on the young It's hunting season and the lambs are on the run Searching for meaning But are we all lost stars, trying to light up the dark? Lantas mengapa waktu begitu cepat berlalu Begitu cepat padahal diri ini masih ingin di sana Who are we? Just a speck of dust within the galaxy? Woe is me, if we're not careful turns into reality Don't you dare let our best memories bring you sorrow Yesterday I saw a lion kiss a deer Turn the

Arti Cinta

Karena terkadang mencintai berarti memberi jarak Dari ia yang menjadi kunci naik turunnya cinta dalam dada Bukan untuk pergi Bukan pula untuk menyakiti Melainkan untuk menjaga hati Karena dekat tanpa melekat adalah siksa Dan cinta tanpa bisa memiliki adalah racun dalam darah Maka memberi jarak untuk sementara adalah yang terbaik Karena setiap jalan selalu ada akhirnya Dan bisa jadi, kita berakhir di tempat yang sama Keabadian cinta Saat kata tak lagi lebih berarti dari penantian yang sudah begitu lama

Wanita Tepi Pantai

Karena laut akan tetap menjadi rendah hati Ia kan mampu menjaga rahasia hingga tak ada lagi yang mampu mengingat Senyuman, candaan, bahkan pelukan Akan ada orang yang begitu enggan menjauh dari laut Sebab ia tau bahwa laut menerima semua perasaan yang ia curahkan Sebab ia mengerti bahwa laut tak akan pernah berubah Ia mengikuti irama yang telah ada Pada akhirnya, aku masih di sini Menikmati hembusan agin dan udara yang khas Aku menunggumu sembari duduk di bibir pantai selatan Berharap suatu saat nanti engkau datang, duduk, dan membiarkanku merebahkan kepalaku di pundakmu sekali lagi (Ria, Ada Senyummu di Ujung Laut Selatan, 2017)

Mudah Untuk Melupakan

Terkadang berpisah adalah cara caling mudah untuk melupakan Dan bertemu adalah cara termudah untuk saling menyambung rindu Ketika waktu begitu membisu hingga cepat berlalu Tapi langit tak pernah berubah dan setia Kita saling berkembang tanpa tau jalan lain yang ditapaki Membuat kesalahan adalah hal biasa Terkadang waktu yang akan membenarkannya Ketika hati terbakar bara Sering kali waktu pula yang memadamkannya Dengan sendiri nya Ketika ada orang yang menganggapmu sahabat Percayalah dia mempercayaimu Dan dia bertaruh engkau pun menganggapnya demikian Maka hargai lah dia Karena sahabat tak lahir karena diminta Ia lahir dengan sendirinya Tanpa paksaan Ia yang dengan mudah membuatmu tertawa Tapi juga dengan mudah mebuatmu menangis Ia yang dengan sederhana dan tanpa perasaan menginjak kakimu Atau me-bully mu tapi dengan rangkulan hangatnya Aku cukup sebal kepada waktu Karena ia begitu lincah tanpa dilatih Karena ia begitu berharga

Melarung Rasa

Mereka berteriak ke arahku Namun terdengar tak begitu jelas Mereka berteriak ke arahku Aku hanya menebak Sebenarnya aku tak begitu bisa mendengar dengan jelas Hingga ada tangan yang menarikku Aku tersadar Kini ku berada tak lagi dalam air Kini ku bisa mendengar teriakan mereka dengan jelas “Wahai anak muda, mengapa engkau menenggelamkan dirimu?” Mereka bertanya Aku pun kebingungan Bagaimana bisa aku menenggelamkan diriku? Padahal melarung adalah tujuanku “Apa yang kau larung wahai anak muda?” Mereka kembali bertanya Tak kudapati benda yang hendak ku larung Bukan batu bertuah, keris keramat, atau jimat sakti Lantas aku berpikir Mengapa aku tenggelam? Hingga aku sadar Bahwa tak cukup hanya berada di tepian Aku harus membasahi seluruh tubuhku Untuk melarung ia yang mendarah daging Rasa cintaku padamu

Kota ini letih

Mungkin bila aku tinggal lebih lama di sini Aku akan mengerti seberapa letihnya kota ini Hampir lima ratus tahun umurnya, yang diakui Nampaknya ia telah renta Terlampau banyak beban yang harus ia tanggung Kendaraan bermotor yang membebani punggung kota Beserta dahaknya yang menghalangi pandangan Kota ini letih Dan lagi letih hati Ketika ia harus terpaksa membisu Menyimpan rahasia orang-orang yang ada di dalamnya Dengan gemerlap cahaya dari lampu Bukan lagi dari bintang dan bulan Rahasia dari kamar-kamar   yang tetap menyala lampunya ketika malam meskipun Ramadhan Rahasia dari orang-orang yang berjalan bergandeng tangan meskipun tak saling kenal Kota ini letih, bukan karena umurnya, tapi bebannya Beban yang seharusnya bisa ia bagi bersama sang bulan dan bintang-bintang