Skip to main content

Komitmen Terpanjang Dalam Hidup

 Menurutmu, apa komitmen terpanjang yang kamu sudah/akan kamu lalui?

Bagi saya,

Komitmen menjadi pegawai di perusahaan? Bukan

Komitmen menjadi suami/istri? Bukan

Komitmen menjadi orang tua. Bagi saya, sampai saat ini, setelah tiga tahun menjadi orang tua, itulah komitmen terpanjang yang akan saya lakukan.

Menjadi Orang Tua

Saya resmi menjadi orang tua pada April 2018, ketika anak pertama saya, seorang perempuan, lahir ke dunia sekitar pukul 03.30. Bagaimana perasaan saya saat itu? Senang, terharu, dan sangat lega. Saya lega karena ibu dan anaknya selamat dan sehat setelah proses persalinan itu. Bagaimana perasaan saya 9 bulan atau bahkan dua tahun sebelumnya? Takut, trauma.

Perasaan pertama adalah takut. Selama istri saya mengandung, saya sering kali merasa takut akan banyak hal terkait kesehatan dan keselamatan ibu dan anak yang masih dalam kandungan. Bayangkan, ada banyak hal yang mungkin terjadi selama masa mengandung pun ketika dilahirkan. Pikiran-pikiran itu yang membuat saya takut, disamping perasaan senang ada anak yang akan lahir ke dunia. Perasaan takut itu tentu diminimalkan dengan usaha seperti rutin cek kandungan, mengonsumsi makanan yang bergizi, vitamin, dan lain sebagainya. Namun, tetap saja rasa takut seperti itu muncul karena proses mengandung anak manusia ini banyak sekali faktor X nya. Setelah maksimal berusaha, maka hanya pasrah dengan doa yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa takut tersebut.

Perasaan kedua adalah trauma. Anak saya lahir setelah istri pernah mengalami keguguran pada tahun 2016. Ntah apa penyebabnya, tapi proses setelah keguguran membuat saya trauma. Istri harus menjalani kuret dengan bius total, dan saya melihat dia terbius total di ruangan setelah operasi kuret. Malam harinya, langsung pulang dengan berbekal obat yang harus diminum beberapa waktu setelahnya dengan rasa sakit ditenggorokan jika selesai mengonsumsi obat-obat itu. Belum lagi perasaan sedih yang datang tiba-tiba karena teringat sensasi hamil yang pertama kali dirasakannya. Saya trauma dengan hal-hal seperti itu yang sangat mungkin terjadi di setiap kehamilan.

Seperti yang saya katakan di awal, menjadi orang tua ini adalah komitmen yang paling panjang. Menjadi pegawai di perusahaan bisa segera berakhir ketika resign atau kontrak habis. Komitmen menjadi suami/istri bisa berakhir ketika bercerai. Namun, komitmen menjadi orang tua, tidak pernah bisa selesai. Individu anak ini hanya akan lahir karena ada individu suami dan individu istri yang sama-sama menginginkan anak. 

Ketika menjadi pegawai di perusahaan, ada kontrak yang disepakati kedua belah pihak. Ketika dua orang menjadi suami istri, ada proses dan kesepakatan untuk menjalin hubungan. Namun, untuk seorang anak, apakah ada kesepakatan bersama? Bahwa sang anak juga memang ingin dilahirkan? Oleh karena itu, sangat penting bagi saya untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sang anak yang telah lahir baik dari segi materi, moril, afeksi, dan lain sebagainya. 

Anak Pertama

Aya adalah anak pertama saya, seorang gadis manis, pintar, sehat, cerdas, sholehah, kuat, ceria, baik hatinya, dan segala sifat baik yang mungkin disematkan. Saya sangat sadar betul bahwa saya masih belum bisa menjadi orang tua yang sempurna atau paling tidak mendekati sempurna. Dia harus berhadapan dengan saya yang sangat menyayanginya, tapi di waktu yang sama juga masih sering kali kurang sabaran. Menjadi ayah baginya adalah hal yang menyenangkan, begitu banyak kebahagiaan yang ia hadirkan dengan keberadaannya. Namun, tetap, menjadi orang tua adalah komitmen seumur hidup yang sangat panajng dan tidak enteng. Melelahkan? Iya. Itu harus diakui, tapi itu adalah bagian dari sebuah komitmen ketika berdoa agar diberikan momongan. Masak iya sudah berdoa, tapi tidak berkomitmen pada hasil doa tersebut?

Dulu ketika Aya belum lahir, saya tidak bisa membayangkan bagaimana rupanya. Bagaimana sikapnya, bagaimana sifatnya, bagaimana kedekatan yang akan terjalin. Namun, sekarang, yang lebih mustahil dari itu adalah, saya tidak bisa membayangkan hidup saya tanpa adanya dirinya. Dia yang lahir tanpa ditanya, "Apakah kamu mau lahir di keluarga kami?" ketika dia lahir, otomatis cinta dan sayang saya terbagi untuk dirinya juga. Tak masalah, karena toh istri saya juga berdoa kehadiran buah hati. Jadi sangat wajar jika kasih sayang yang dulu dialokasikan untuk istri, dialihkan ke anak. Saya juga memaklumi jika kasih sayang istri ke saya dialihkan ke anak. Lagi-lagi, ada banyak hal yang harus dia lalui, tanpa diminta persetujuan terlebih dahulu.

Anak Satu-Satunya?

Sampai di sini, saya tida bisa membayangkan jika harus memiliki anak kedua. Bagaimana harus membagi sayang yang sudah saya berikan ke Aya, dan harus saya berikan ke adiknya. Pastilah ada perasaan yang berbeda yang akan dia rasakan, perhatian yang teralihkan, dan berbagai hal lain. "Saya tidak bisa membayangkan membagi cinta ke selain Aya", kira-kira itu jawaban umum saya jika ditanya apakah ingin memiliki anak kedua.

Apakah itu saja? Tentu tidak, jawaban umum itu hanya jawaban aman saja, yang bisa diterima semua orang. Tapi jauh lebih dalam lagi, tidak masuk di akal saya, sebagai seorang ayah yang masih jauh dari kata sempurna, masih tidak sabaran, masih tidak bisa memberikan fasilitas yang terbaik untuk anak, masih harus 8 jam bekerja untuk mencari uang sehingga waktu bersama anak adalah sebelum dan setelah waktu itu, untuk memiliki anak kedua. Tentu, Allah menitipkan anak sebagai amanah pada keluarga yang mampu, artinya jika nanti kami memilki anak kedua, pastilah Allah menganggap kami mampu mengemban amanah itu. 

Namun, sampai saat ini, banyak hal-hal yang tidak masuk di akal saya dengan kondisi saya seperti ini untuk memiliki anak kedua. "Ingin punya anak lagi, kangen sama bau bayi dan lain sebagainya", pernyataan seperti ini juga tidak masuk di akal saya. Bagaimana bisa keinginan untuk mengobati kerinduan akan bau bayi harus diwujudkan dengan anak kedua, tanpa memikirkan matang-matang bagaimana nanti semua harus dilalui. Bagaimana mengalokasikan tenaga, pikiran, kesabaran, perhatian kepada dua anak. Menambah anak artinya menambah individu untuk disayangi dan dicintai, dengan segala konsekuensinya. Artinya, ada tenaga ekstra, perhatian ekstra, dan lain-lain. Apa apa iya saya sudah sanggup untuk itu? Apa nanti malah lebih sabar, atau malah akan sering marah-marah karena terlalu capek akibat menangani banyak hal? Belum lagi kemungkinan dua anak akan punya kecenderungan untuk memilih diperhatikan oleh siapa. 

Banyak hal yang saya pikirkan jika sudah menyangkut memiliki anak lagi. Sebagai manusia, pikiran-pikiran yang menakutkan itu seringkali muncul. Namun, apalah saya sebagai manusia yang miskin ilmu dan pengetahuan. Saya hanya selalu berdoa, agar Allah selalu memberikan yang terbaik kepada kami. Karena hanya Allah yang tahu mana yang terbaik, sedangkan kami hanya menerka-nerka berdasarkan apa yang kami ketahui, inginkan, dan takutkan.

Semoga Allah memudahkan jalan saya untuk menjadi orang-tua yang lebih sempurna untuk Aya.
Amin.

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A