Skip to main content

Pengalaman Belajar Investasi Selama 3 Tahun

 Kalau uang disimpan di tabungan saja, nanti bakal habis kena biaya administrasi

Banyak yang bilang, kalau kita bisa lho dapat uang tanpa harus kerja. Istilahnya, biarlah uang yang bekerja untuk kita. Terus, banyak ajakan seperti,

"Ayo invest di saham"

"Ayo invest di crypto"

"Ayo invest di deposito"

"Ayo invest di emas"

dan lain sebagainya.

Sebagai awam, tentu bingung dong harus investasi di mana? Sebagai sesama awam, yang sudah mencoba beberapa instrumen investasi sejak 2018, saya mau sedikit bercerita, semoga memberi gambaran bagi rekan-rekan yang mau mencoba. Disclaimer on ya, hanya sharing pengalaman pribadi saya saja.

Memulai Investasi

Sejak pertama kali punya rekening bank di SMA, rasa-rasanya uang yang dipunya hanya disimpan di dalam tabungan. Kalau misal dapat rejeki karena selesai proyek atau suatu kerjaan, uangnya akan segera masuk ke rekening tabungan saja. Padahal, kalau misalkan nominal kecil, ada biaya administrasi rekening yang lumayan juga, katakanlah 25 ribu per bulan. Kalau uang yang ada di tabungan katakanlah 2 juta rupiah dengan bunga per tahunnya 0.2% yang mana artinya setiap bulan mendapatkan bunga sekitar 333 rupiah, lama-lama uangnya akan habis kan termakan oleh biaya admin rekening? Oleh karena itu, sejak 2018 saya mencoba untuk menggunakan instrumen investasi lain yaitu reksadana.

Apa itu Reksadana?

Mengacu kepada Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat (27) didefinisikan bahwa Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. (
https://www.idx.co.id/produk/reksa-dana/)
Sederhananya, reksdana ini produk investasi yang kita menitipkan uang kita pada pihak tertentu dan dikelola oleh yang namanya manajer investasi. Istilahnya, bagi orang yang ingin berinvestasi tapi tidak punya pengalaman dan ingin untuk mendelegasikan investasinya ke pihak lain, hal tersebut dipercayakan pada produk reksadana dan manager investasinya.

Menariknya, reksadana sendiri terbagi menjadi empat jenis yakni:
  1. Reksadana pasar uang
  2. Reksadana pendapatan tetap
  3. Reksadana saham
  4. Reksadana campuran
Pembagian jenis ini berdasarkan kemana saja uang yang dikumpulkan itu diinvestasikan misal untuk ke pasar uang, ke utang, ke saham, dan lain sebagainya. Detil dari masing-masing, bisa dibaca pada situs idx.co.id. 

Pada 2018 lalu, ketika mencoba menggunakan reksadana sebagai instrumen investasi di Bukareksa, saya memilih dua tipe reksadana yakni pasar yang dan campuran. Pemilihan Bukareksa sebagai tempat pembelian juga karena waktu itu ingin belajar dahulu tentang reksadana dan bisa dilakukan dengan pembelian yang murah mulai dari 10 ribu rupiah saja. Jadi, tidak perlu modal besar.

Beralih ke Saham

Setelah beberapa waktu menggunakan reksadana, saya sudah lebih percaya diri untuk mencoba instrumen investasi lain dan mulailah beralih ke saham. Setelah membuka akun di sebuah sekuritas, tepatnya pada 7 Februari 2019 saya perdana membeli sebuah saham, untuk belajar.
Ada beberapa alasan mengapa saya pindah dari reksadana seperti pergerakan harga di reksadana terlalu lambat yang mana kita baru tahu investasi kita untung atau tidak pada keesokan hari, sedangkan dengan kepercayaan diri saat itu, rasanya sudah cukup siap untuk memantau investasi lebih lama di saham yang harganya berubah sewaktu-waktu dan dapat dijual saat itu juga. Pada reksadana, penjualan memerlukan waktu beberapa hari.

Namun, kembali lagi, karena dulu mentalnya hanya siap profit tapi tidak siap harga saham turun, akhirnya sempat vakum beberapa waktu pada rentang 2019, 2020, dan baru kembali aktif di 2021 setelah menetapkan diri untuk menggunakan saham sebagai investasi jangka panjang dengan menharapkan dividen perusahaan. 

Kalau saya cek beberapa saham yang saya jual di tahun 2019 dulu, ada beberapa sih yang sahamnya sekarang naik tajam, tapi tidak sedikit juga yang harganya di-situ-situ saja atau bahkan lebih rendah dari harga yang saya punya dulu. Balik lagi, karena mentalnya belum siap, ya akhirnya sell on panic di harga yang lebih rendah. Rugi deh.

Mengombinasikan Semuanya

Ketika dua tahun kebelakang saya mencoba belajar investasi tanpa punya financial goal, sekarang, saya mencoba berinvestasi sesederhana untuk mendapatkan pendapatan pasif untuk menutupi biaya-biaya bulanan seperti biaya listrik, biaya internet, dan lain sebagainya. Sukur-sukur kalau untuk membayar biaya tersebut, semuanya sudah bisa dari hasil investasi, bukan lagi mengambil dari gaji.

Atas dasar itu dan pengalaman yang lalu-lalu saya mencoba mengombinasikan beberapa instrukmen investasi yang menurut saya cocok dengan profil risiko saya yang low tapi returnya lumayan. Paling tidak, bisa lebih dari biaya admin rekening supaya uang tidak habis. Dari hasil cari-cari, berikut adalah return yang mungkin di dapat pada beberapa instrumen investasi yang syariah.


Menarik kan? Dalam setahun, kita bisa dapat untung 5-8% dengan invest di reksadana dan bisa start dengan uang 100ribu. Saya tidak mencantumkan reksadana campuran dan saham karena tidak cocok dengan profil resiko yang saya anut, tapi memilih langsung invest ke saham agar bisa dapat dividen tahunan. Namun ingat, dibalik return yang tinggi, ada risiko gagal bayar dan sebagainya, makanya perlu jeli untuk memilih produk reksadana yang tepat. 

Instrumen Investasi Lain

Untuk instrumen lain, ada banyak yang belum saya coba. Tapi, kembali ke petuah dari Ko Sam, di Channel Samual & Claudya, investasi itu bukan untuk punya uang sebanyak-banyaknya, tapi untuk mencapai financial goal. Jadi, selama saya merasa cukup dengan yang saya punya sekarang, ya tahan dulu untuk mencoba produk lain yang belum saya pahami seperti cypto. Memang, returnnya tinggi sekali pada beberapa kasus, tapi turunnya juga enggak karuan pada beberapa kasus. Dibanding cryptosaya lebih memilih saham karena ada dividen yang didapat setiap tahun jika harus hold saham tersebut terus menerus sedangkan pada crypto hal tersebut tidak ada. Kalau hold ya hold, sebelum harga naik dan jual, ya tidak ada keuntungan lain. Tapi kembali lagi, ini semua sesuai dengan profil risiko masing-masing, kalau cocok, kenapa tidak?
Hal yang sama juga berlaku pada emas dan tanah, menurut saya tanah masih tidak cocok dengan saya karena modalnya harus besar dan tidak seliquid instrumen investasi lainnya. Belum lagi drama di lapangan karena ada pengguna lahan liar dan lain sebagainya.

Penutup

Sebagai penutup tulisan ini, saya kembali mengingatkan bahwa setiap orang punya goal yang berbeda. Saya mencoba bercerita pengalaman saya selama ini agar pembaca memiliki gambaran instrumen investasi apa yang sebenarnya mungkin untuk digunakan. Kalau saja saya sudah terpapar informasi terkait instrumen investasi di atas sejak 2012, pasti saya juga akan mengalihkan sebagian uang tabungan ke instrumen tersebut.

Sekian tulisan kali ini, selamat belajar.

salam.

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Sobat Upgrade Plus-Plus

 Pada bulan april lalu saya membuat tulisan tentang pilihan saya untuk menjadi sobat upgrade ketimbang harus membeli sepeda balap baru yang harganya mencapai paling tidak 6 juta rupiah. Bulan demi bulan, saya mencoba mengganti komponen sepeda Polygon fork rigid saya mulai dari bottom bracket, hub free hub, ruji, dan yang paling baru adalah pedal di hari minggu lalu. Sebenarnya, saya punya prinsip, upgrade semaksimal mungkin sampai tidak bisa diupgrade atau costnya tidak efektif lagi. Contohnya, fork rigid ini sudah susah untuk diganti ban jadi ban balap karena ukuran rangka sepedanya terlalu kecil dan akan perlu pemotongan manual, jadi cerita mengganti ban balap harus diurungkan. Selain itu, FD nya juga sudah patah dan mencari FD yang sejenis lumayan susah dan biasanya malah harus ganti semuanya yang mana berarti mesti merogoh kocek lebih dalam. Upgrade Plus-Plus Balik ke cerita saya april lalu, salah satu alasan saya tidak mau beli sepeda balap baru ya karena harganya sangat mahal bag

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari