Skip to main content

Surat untuk Masa Remajaku



Hai masa remajaku,

Surat in kutulis khusu untukmu, ya hanya untukmu walaupun nyatanya baru kali ini aku menulis surat untukmu. Bagaimana lagi, hanya kali ini saja aku serasa terpisahkan denganmu. Kamu  yang dulu selalu menghiasi keseharianku dengan canda, tawa, cinta,cita, rindu, tapi tidak cemburu.
Hai masa remajaku, bagaimana kabarmu kini? Sepertinya sudah beberapa waktu aku tak bersama denganmu. Memisahkan dirimu dari ragaku yang tetap sama seperti dulu. Sebuah raga yang masih menampung otak yang sama, hati yang sama, bahkan impian yang sama.

Hai masa remajaku, bukan tanpa alasan aku memberi jarak antara aku dengan dirimu. Bukan tanpa rasa rindu terhadapmu, tidak, rasa rindu itu ada. Namun, aku pun punya impian yang ingin aku gapai. Impian bersama seorang wanita yang kurelakan berjam-jam waktuku untuk menempuh perjalanan kerumahnya untuk mengutarakan niatku pada orang tuanya. Niatku untuk menikahinya. Wanita yang membuatku untuk pertama kalinya begitu blak-blakan di depan orang tuaku sendiri, mengubah suasana kamar kos yang awalnya tak berperasaan menjadi penuh dengan luapan perasaan hingga air mata. Seorang wanita yang sering membuatku merasa cemburu. Ya, dia, kau pasti tau siapa dia karena sebagian darinya adalah dirimu.

Hai masa remajaku, aku tau kau cemburu. Aku tau kau ingin memukulku dengan amarahmu karena ku meninggalkanmu. Bukan maksudku membuatmu merasa tak berarti. Jujur, engkau amat berarti bagiku. Engkau adalah bagian dari kisah hidupku dengan berbagai lakon yang ada pada dirimu.
Sebuah dusta bila kubilang kau tak menyenangkan. Kau menyenangkan, sangat menyenangkan hingga terkadang aku sangat ingin kembali bersamamu. Merasakan berbagai warna yang dulu sering kurasakan. Kau sangat menyenangkan, membuatku seakan tak bisa lepas, seakan. Kau sangat menyenangkan dnegans egala warnamu, lakonmu, dan cerita sedih senang mu. Kau adalah harta yang akan selalu kumiliki sampai ku mati. Ya, hartaku. Harta yang tak dimiliki oleh orang lain. Hanya aku. Hanya aku, kau, lakon dalam dirimu, dan Tuhan yang tahu betapa tak terpisahkannya kita dahulu.
Hai masa remajaku, sungguh tak banyak lagi waktuku tuk bersamamu karna mungkin satu tahun lagi aku benar-benar harus melepasmu. Melarungmu dalam lautan kenangan. Menguburmu dalam timbunan perasaan. Sebisa mungkin aku jauh darimu karna aku tau pasti betapa kuatnya engkau mampu menarikku sekalinya aku berada di dekatmu. Medan-medan kausamu tak mampu ku bendung. Garis-garis kenangan yang kau tawarkan tak kuasa ku hindari. Kau adalah racun dalam darah. Kau adalah pengisi setiap hembusan nafasku. 

Hai masa remajaku, sebuah kehormatan bagiku belajar banyak hal darimu. Sebuah kesenangan mampu mengetahui buruk dan baikmu, merasakan apa yang tak orang lain mampu rasakan bahkan dapatkan.  Kau bagai lautan yang tak pernah lebih tuk menampung setiap kenanganku. Kau adalah lautan kenangan yang mana aku bisa berlayar diatasmu.

Hai masa remajaku, ingatkah kau tentang saat itu. Saat kau menjadi saksi bisu indahnya cahaya bulan purnama diselingi suara serangga malam. Hai masa remajaku, ingatkah kau dengan saat itu, saat di mana kesunyian sekolah menjadi saksi bisu canda tawa kami. Ingatkah kau tentang saat di mana aku terjaga dengan seseorang, menghabiskan malam dengan cerita yang tak kunjung berujung. Hai masa remajaku, ingatkah kau dengan kenangan di mana aku berada di puncak gunung dan memandang lautan pasir di  bawahku? Ingatkah kau? Ingatkah kau ketika tuh pertama kalinya aku cemburu? Cemburu pada seseorang yang dulu disukai oleh orang yang ku sayang? Ingatkah kau? Tak ada alasan bagimu untuk lupa karena mereka adalah kamu. Masa remajaku.

Hai masa remajaku, tak banyak waktu tersisa untukku dan untukmu. Banyak orang yang mempertanyakan keputusanku untuk melepasmu. Mengakhiri perjalanan panjang bersamamu. Banyak sekali yang mempertanyakannya. Namun, satu yang ku tahu pasti, saat itu pasti datang dengan atau tanpa kerelaanmu. Saat itu pasti datang, di mana engkau benar-benar tergantikan olehnya.

Hai masa remajaku, kau kan tetap ada di tempat yang hanya aku dan Tuhan yang tau.
Surat ini ku tulis sebagai tanda pisahku denganmu. Semoga kau mengerti.
Salam Bangsatya,
Buruk.Baik.Menginspirasi.

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A