Skip to main content

Merayakan Malam Pergantian Tahun dengan Aman


Senin, 31 Desember 2012

Kondom Sang Pengaman - gamabr diambil dari:assets.kompas.com

Hari ini, hari yang kutunggu bertambah satu tahun…
Sepenggal lirik lagu tersebut mungkin cocok bagi orang-orang yang merayakan ulang tahunnnya hari ini. Hari ini? Iya hari ini, hari terakhir di tahun 2012 dan besok adalah hari pertama tahun 2013. Hari penutup di tahun naga air yang telah dilalui bersama. Menurut saya pribadi sebenarnya enggak ada yang spesial dari tanggal ini, sama saja seperti tanggal-tanggal lain yang sudah dilalui entah dengan penuh makna atau tanpa makna sama sekali.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pada malam pergantian tahun nanti banyak sekali perayaan yang dilakukan di berbagai tempat di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Sampai-sampai nanti malam ada beberapa kota yang memberlakukan car free night, nah loh, malam bebas mobil. Kota-kota besar dibanjiri pengunjung yang datang mungkin hanya untuk merayakan pergantian tahun baru. Berteriak bersama sama, menghabiskan waktu yang mungkin mereka pikir hanya ada setahun sekali, pastinya. Tapi kalau dipikir momen nanti malam hanya ada setahun sekali maka pergantian dari tanggal 8 September ke 9 September juga sama-sama Cuma ada satu tahun sekali, tidak akan pernah bisa terulang di tahun yang sama, kenapa enggak dirayain juga ya? Hehe

Tahun baru, semangat baru, gebetan baru! Top! Tapi kayaknya enggak semua orang yang memiliki prinsip demikian. Itu Cuma guyonan aja, hehehe. Tapi apa salahnya juga ya? Wkwkwkw. Oke, back to the main topic that I want to share.  Sebenarnya topik yang ingin saya angkat adalah tentang hubungan antara malam pergantian tahun dengan jumlah penjualan kondom yang meningkat. Entah apa kaitannya sebenarnya, mungkin ada sekelompok orang yang “merayakan” malam pergantian tahun dengan cara yang lebih aman, yaitu dengan berhubungan sex dengan memakai kondom. Mengapa saya mengatakan hal itu lebih aman? Ya iya lah, karena pake kondom. Kalau enggak pake kondom kan lebih enggak aman (baca: katanya). Bukan tanpa alasan sih saya pingin nulis kayak gini, mengingat beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca tentang naiknya jumlah penjualan kondom menjelang pengumuman kelulusan hasil ujian nasional, nah loh, kelulusan dirayakan dengan cara yang demikian. Enak? Ya mungkin saja, saya mah enggak bisa bilang karena belum pernah coba, tapi sepertinya memang enak :D (baca: http://regional.kompas.com/read/2011/05/17/1528262/Hari.Kelulusan..Kondom.Laris.Manis)

Sudut-sudut kota yang mungkin biasanya bersih tapi tak terjamah / kurang diperhatikan, mungkin nanti malam akan dipenuhi dengan lusinan orang-orang yang ingin merayakan malam pergantian tahun mereka. Keesokan harinya, sampah-sampah plastik dengan diameter yang tidak lebih dari 5cm mungkin pula akan menghiasi sudut-sudut kota yang  jarang menjadi pusat perhatian tersebut. Mungkin juga nanti malam akan dihiasi jeritan-jeritan perawan yang kehilangan keperawanannya karena direnggut orang yang ia percaya untuk menjaganya hingga walaupun dia berteriak kencang tak ada orang yang mendengarnya karena begitu meriahnya hiruk pikuk pergantian malam tahun baru yang jauh melebihi kerasnya jeritannya. 

Apa yang saya tulis kali ini hanya perkiraan, bisa juga disebut dugaan berdasarkan intuisi seorang anak muda ditambah apa yang telah ia baca beberapa waktu lalu. Benar atau tidaknya, tinggal menunggu beberapa hari lagi hingga muncul berita-berita tentang topik yang saya angkat kali ini. Namun, di luar itu, saya sendiri berharap apa yang saya tulis ini adalah sesuatu yang salah dan tidak terbukti kebenarannya walaupun saya yakin hal ini akan terjadi. Mau menunggu untuk melihat jawaban dari sang waktu?

Regards,
Bang Satya

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A