Skip to main content

Lantas, Dari Dulu Berangkat Dari Mana?

Rasanya ingin sekali saya ber-nostalgia ke masa-masa SMA ketika tidak terlalu banyak pikiran yang mengganggu atau paling tidak menuntut perhatian lebih sehingga masih banyak waktu untuk bermain-main, ‘bermain-main’, ataupun jalan-jalan. Namun, nampaknya ada beberapa hal di SMA yang tidak ingin saya ulangi, pola pikir.

Kepanitiaan & Keorganisasian

Selain mencoba berkembang di akademik, sejak SMP saya mencoba untuk mengembangkan diri dari hal-hal di luar akademik dengan mengikuti kepanitiaan serta keorganisasian. Adapun keorganisasian dan kepanitiaan yang saya lakoni saat itu adalah Bendahara di OSIS dan Sekretaris di MOS siswa baru. Sayangnya, dari kedua hal tersebut, saya masih kurang  bisa banyak belajar. Memang, saya tidak serta-merta langsung menyadari ketidakbelajaran saya selepas dari kedua hal tersebut. Tapi, jauh setelah itu, yakni sekarang, ketika saya sudah duduk di bangku perkuliahan tingkat III. Sayang sekali untuk waktu yang telah berlalu itu.
Ketika di SMA, saya kembali ingin mengembangkan diri di kepanitiaan dan keorganisasian. Banyak kepanitiaan yang saya ikuti, mulai dari MOS (kalau versi mahasiswa sih pengaderan ), seminar sinematografi, idul adha, panitia zakat, dll. Lagi-lagi, tidak banyak yang saya dapatkan kala itu karena apa yang saya kerjakan cenderung hanya berada di ranah teknis, bukan di ranah konsep sehingga saya lebih terkesan sebagai eksekutor, bukan konseptor. Ujungnya, pola pikir saya tidak berkembang, itu-itu mulu.

Ketua OSIS

Dua kali maju sebagai calon ketua OSIS dan dua kali itu pula saya gagal. Saya masih ingat betul, kala itu saya masih kelas VII SMP dan ada pemilihan ketua OSIS yang mana adik saya menjadi salah satu calonnya. Ada sebuah bangku dengan slot kosong di belakang panggung tempat para calon duduk. Lantas saya duduk di sana hingga terdengar suara seorang guru berkata, “lho Yak, itu tempat calon ketua OSIS, kalau mau ya maju.” Dan akhirnya, tahun depannya saya maju sebagai ketua OSIS dan kalah. Hehe. Salah satu momen yang menyenangkan, mencoba menerima kekalahan dari kawan sendiri.
Pun, ketika di SMA, lagi-lagi saya maju sebagai calon ketua OSIS. Ada lima pasang calon waktu itu. Saya masih ingat benar bagaimana rasanya keliling ke kelas-kelas untuk meminta dukungan hingga menjawab pertanyaan wakil kepala sekolah di podium dengan serbuan terik matahari dan adrenalin yang berlebihan. Suara saya patah-patah, rasa gugup saya memuncak. Lagi-lagi saya kalah. Namun, setelahnya, saya menjadi koordinator Sekbid IX tentang Pengembangan TIK di lingkungan sekolah.

Konseptor

Saya tidak benar-benar menjadi konseptor hingga menjadi koordinator sekbid IX karena pada saat itulah saya dengan sebebas-bebasnya membuat program kerja yang saya inginkan. Justru, saat ini saya merasa bersyukur tidak menang dalam pemilihan ketua OSIS ketika SMA melihat pola pikir saya waktu itu. Mengapa? Sederhana saja, karena apa yang saya lakukan ketika menjabat sebagai koordiantor sekbid IX bukanlah pemenuhan kebutuhan massa, tapi lebih kepada apa yang saya ingin lakukan di sana. Walaupun ada beberapa waktu, yang kami lakukan memang berdasarkan pada kebutuhan karena memang ada permintaan. Namun lagi-lagi, itu semua dalam ranah teknis, sehingga insting eksekutor lagi yang terasak, bukan pola pikir seorang konseptor.

Mengapa?

Alasan saya bisa berlaku seenak yang saya inginkan adalah tidak adanya kontrol dari atas mengenai apa yang saya rumuskan. Yang penting ada proker. Akhirnya, rasa kaget saya pecah ketika mendengar cerita dari kawan-kawan saya mengenai apa yang telah mereka bisa lakukan di SMA. Aduhai kawan, cupu sekali diri ini ketika SMA. Merumuskan sesuatu hanya berdasar keinginan padahal hasil rumusan tersebut menyangkut kepentingan orang banyak.  Andai saja kala itu ada seorang yang menjadi mentor saya ketika sedang menjabat sebagai seorang koordinator sekbid IX, tentu apa yang saya rumuskan akan lebih bermanfaat. Namun semua telah berlalu, ya sudahlah, tinggal diambil pelajaran.

 Semuanya Berubah

Beruntung, pada tingkat III ini saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan ranah konseptor sekaligus eksekutor yakni dengan menjadi Kepala Sekolah Perangkat Mentor OSKM ITB 2014. Meskipun selama tiga tahun berturut-turut saya bersentuhan dengan acara ini (tingkat I sebagai peserta, tingkat II sebagai panitia, tingkat III sebagai pengader panitia), tapi barulah pada tingkat III ini pola pikir saya diputar-putar bahkan dibanting. Begini ceritanya:

Tingkat I

Pada tingkat I, sebagai seorang mahasiswa baru saya bersentuhan dengan OSKM hanya sebagai tamu. Saya seorang mahasiswa baru, ITB adalah tempat yang asing, dan ada OSKM yang menjembatani saya agar tidak terlalu asing dengan ITB dengan menghadirkan sosok tiga orang kakak Taplok (Tata Tertib kelompok).

Tingkat II

Beda tingkat beda peran. Ketika pada tingkat I saya adalah tamu yang di sambut, maka pada tingkat ini saya menjadi penyambut tamu tersebut. Sayalah pelayan dari tuan rumah. Saya sebatas pelaksana teknis di lapangan untuk membuat tamu dari tuan rumah merasa nyaman hingga sampai pada tahap anggap saja rumah sendiri.

Tingkat III

Barulah ketika di tingkat III ini saya berkesempatan untuk belajar membenari pola pikir saya. Betapa tidak, belajar mendidik calon penerus yang nantinya pun akan berada di posisi saya.

OSKM

Ketika wawancara kemarin, seorang adik diklat bertanya pada saya mengapa saya menjadi pendiklat. Saya pun menghela nafas sejenak lantas menjawabnya, “Saya mendiklat karena menurut saya OSKM bermanfaat dan saya ingin kalian juga mendapat manfaat itu. Saya pun seakan punya tanggung jawab moral untuk mendidik kalian setelah satu tahun lalu saya yang dididik. …”. Sesaat memang nampak klise tapi itu benar adanya. Terlebih seorang kawan saya sering berkata, “Tenang. Pengader memang akan lebih banyak belajar daripada yang dikader.” Benar saja ucapan seorang kawan itu, dengan menjadi pengader saya menjadi banyak belajar. Semoga tahun depan makin banyak pendiklat yang turun agar makin banyak orang yang belajar.

Sekolah Perangkat

Sekolah perangkat memang bukan satu-satunya sarana bagi kami atau saya secara khsusus untuk belajar, tapi bagi saya sekolah perangkat sangat berarti terutama untuk pengembangan pola pikir saya. Terlebih ketika merumuskan profil yang kami ingin ada pada penerus kami.
Bayangkan, hasil rembukan internal kami dimentahkan oleh pihak mamet karena pola pikir yang masih kurang terstruktur dan benar. Benar dalam artian menjawab kebutuhan, dan itu sendiri saya akui. Beruntung, setelah audiensi, pola pikir kami membaik dan apa yang kami bawa di sekolah perangkat insyaallah bisa menjawab kebutuhan. Bukan asal comot dari sana sini tanpa tau esensi ataupun hanya sebatas ikut-ikutan tradisi.

Lalu apa?

Untuk merumuskan sekolah yang durasinya tidak lebih dari 2 minggu saja membutuhkan tenaga yang tidak sedikit dan orang-orang yang tulus. Apalagi untuk memimpin himpunan dengan massa yang jauh lebih banyak dengan durasi yang lebih panjang. Oleh karenanya, bila ditanya setelah ini saya ingin melakukan apa, jawabnya sederhana yakni saya ingin berbincang dengan massa himpunan saya agar saya tahu, sebenarnya, apa yang dibutuhkan himpunan ini, apa yang mereka inginkan, dan apa yang saya inginkan. Tidak muluk-muluk apa yang saya bawa dulu, tapi saya ingin benar-benar mengenali apa yang himpunan ini butuhkan barulah saya berani menambahkan apa yang saya inginkan.

Terima kasih

Sebagai penutup tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut serta menyukseskan sekolah perangkat ini mulai dari rekan-rekan perangkat bumi sudah, teman-teman pendiklat yang always on, tim mamet terutama Maryam yang rela meluangkan waktu untuk simulasi audiensi, tim acara yang begitu, mantan kepala sekolah tahun lalu, calon perangkat Actias Arcamaya yang berprogress sejak awal sekolah, dan rekan-rekan di SPARTA 2013 yang merelakan saya menghilang untuk sejenak. Terima kasih. 

Salam,
Aryya Dwisatya Widigdha

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Belajarlah Wahai Anak Muda!

Dahulu kala hiduplah seorang lelaki tua bernama Doyanta yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk reot di samping sungai. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rumahnya, hanya sebuah gubuk dari bambu yang mungkin akan dengan mudah diterbangkan oleh angin pada zaman sekarang, betapa tidak, peti kemas saja yang begitu berat di Tanjung Priok bisa roboh tertiup oleh angin di zaman yang sudah edan ini. Rumah nya tak begitu besar malah dapat dibilang kecil, tak ada penerangan selain lilin kecil yang memberikan sedikit pencahayaan ketika malam hari selain rembulan yang terkadang pun pergi meninggalkan dirinya. Hidupnya sepi, sendiri, tak ada yang tau bagaimana masa lalu lelaki tua tersebut. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk merebahkan tubuhnya yang kurus kering itu di kursi yang tak jauh lebih gemuk dari butuhnya, mungkin sama ringannya. Matanya menerawang jauh menembus hutan, gunung, dan mungkin lautan. Beberapa waktu dia asyik hidup dalam dunianya sendiri, lalu lalang

Sobat Upgrade Plus-Plus

 Pada bulan april lalu saya membuat tulisan tentang pilihan saya untuk menjadi sobat upgrade ketimbang harus membeli sepeda balap baru yang harganya mencapai paling tidak 6 juta rupiah. Bulan demi bulan, saya mencoba mengganti komponen sepeda Polygon fork rigid saya mulai dari bottom bracket, hub free hub, ruji, dan yang paling baru adalah pedal di hari minggu lalu. Sebenarnya, saya punya prinsip, upgrade semaksimal mungkin sampai tidak bisa diupgrade atau costnya tidak efektif lagi. Contohnya, fork rigid ini sudah susah untuk diganti ban jadi ban balap karena ukuran rangka sepedanya terlalu kecil dan akan perlu pemotongan manual, jadi cerita mengganti ban balap harus diurungkan. Selain itu, FD nya juga sudah patah dan mencari FD yang sejenis lumayan susah dan biasanya malah harus ganti semuanya yang mana berarti mesti merogoh kocek lebih dalam. Upgrade Plus-Plus Balik ke cerita saya april lalu, salah satu alasan saya tidak mau beli sepeda balap baru ya karena harganya sangat mahal bag