Skip to main content

Masa Depan Yang Nge-Blur, Mau?

Diambil dari fiksi.kompasiana.com

Selamat pagi,

Salam Bang Sat!, Alhamdulillah, kali ini saya tidak membuat orang sebal karena judul postingan saya yang menipu. Jelas sekali bahwa saya mau membahas tentang masa depan cuy. Masa depan = masa yang di depan, jadi belum terjadi, masih akan terjadi.

Semua orang pastilah punya masa depan, itu pasti. namun, masa depan seseorang berbeda-beda. Ada yang masa depannya cerah karena memang hidupnya di wilayah tropis dan adapula yang masa depannya suram karena hidup di wilayah yang berkabut, haha, kagak nyambung!

Tapi emang benar, ada masa depan yang cerah dan suram. Salah satu masa depan yang suram itu adalah masa epan yang nge-blur atau enggak jelas. Orang-orang tipe ini (baca: yang masa depannya nge-blur) adalah orang yang di kepalanya banyak kabutnya, jadi mau ngebayangin masa depan itu susah, samar.

Lah, terus gimana caranya biar amsa depan itu enggak nge-blur? Simple aja, kuncinya adalah punya tujuan. Kalau orang udah punya tujuan, mau ngebayangin apa aja mah gampang. Tak kasih contoh nih ada dua orang si K dan si L. mereka ini hidup di kota yang sama dan tau jalan yang sama, hafal jalan sekota. Dua duanya dikasih sepeda motor, dengan jatah bensin yang sama, tapi sendirian, ndak ada yang dibonceng :)). Si K adalah orang yang memiliki tujuan,. ketika ia mendapatkan sepeda motor, ia langsung menetapkan tujuannnya, "Saya mau ke rumah pacar, terus pas sore pulang" sedangkan si L enggak punya tujuan. Lima jam berlalu, si K sudah ada di rumah, tetapi si L masih juga belum pulang. Tujuh jam berlalu, si L pulang dengan rasa capek, tak ada sesuatu yang ia dapat kecuali capek yang ia rasakan. berbeda dengan si K yang pulang dengan perasaan bahagia dan perut kenyang karena dapet makanan dirumah pacarnya. tau dimana bedanya?

Ketika si K mulai melajukan motornya, ia langsung menuju tempat yang memang menjadi tujuannya, dan setelah ia mendapatkan apa yang inginkan, iapun pulang. berbeda dengan si L, karena tidak punya tujuan yang jelas, dia cuma melajukan sepeda motornya keliling kota, tak jelas mau kemana, sampai bensinnya habis dia belum mempunyai tujuan, tak jelas dan tak tentu arah. Dari sini sudah paham kan?

Kalau pingin masa depan yang jelas, mulailah dengan menetapkan tujuan, semisal impian kita. Jadikan setiap langkah itu berarti, walaupun hanya sedikit, tetapi bisa mendekatkan kita pada apa yang kita inginkan. Daripada melangkah cepat tetapi tanpa hasil dan hanya sia-sia.

Orang yang punya tujuan dan ngerti arah, pasti bisa sampai tujuan dengan mudah. Orang yang punya tujuan tanpa ngerti arah, ia masih bisa sampa ke tujuan, tetapi dengan waktu yang lebih lama. Namun jangan salah, ia terus berusaha untuk sampai. namun, untuk orang yang tau arah, tetapi tidak punya tujuan, ia hanya akan berjalan tak jelas dan tak tentu arah. Mau yang mana? Silahkan pilih sendiri.

Regards,

Bang Satya

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A