Skip to main content

Tidak Siapkah Kita Menikah Tanpa Sekolah Pra Nikah?


Sebagai mahasiswa tingkat empat atau sering disebut sebagai mahasiswa tingkat akhir sudah barang tentu ada banyak hal yang dipikirkan. Kehidupan pasca sarjana merupakan salah satu hal yang pasti dipikirkan bahkan dirisaukan oleh mahasiswa tingkat empat. Ada banyak hal yang terkait kehidupan pascasarjana seperti pekerjaan hingga pernikahan. Masing-masing orang memiliki sikap yang berbeda mengenai hal tersebut. Ada yang sejak kuliah sudah mencari pekerjaan hingga mencari calon untuk menjadi pendamping wisuda (PW) lalu pendamping di pelaminan nanti.

Menyiapkan (Untuk) Pernikahan
Bagi yang sudah memikirkan pernikahan pada tingkat ini, mulailah dia berpikir tentang apa, siapa, dan bagaimana sebuah pernikahan tersebut terjadi, terjalin, dan hidup. Beruntung, saat ini internet sudah mudah diakses sehingga informasi terkait hukum pernikahan, motivasi menikah, tata cara menikah, hingga bagaimana menjalin rumah tangga bisa didapatkan. Ada pula yang merasa semua itu tidak cukup hingga mengikuti kegiatan yang biasanya disebut “Sekolah Pra Nikah” (SPN).

Kalau tidak salah, SPN merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mempersiapkan masing-masing orang untuk menikah. Saya kurang tau detil sebab memang tidak pernah ikut. Namun, bila dilihat dari namanya, kira-kira demikian tujuannya. Apalagi setelah saya mencari-cari dan mendapatkan daftar materi SPN pada tahun 2010 di tautan https://dhimaskasep.wordpress.com/2010/10/24/materi-sekolah-pranikah/comment-page-1/, ada 10 materi yang dibahas.

Tentu, tiap orang punya caranya masing-masing untuk belajar dan menyiapkan diri untuk menikah, tapi terkadang saya bertanya-tanya, mengapa untuk menikah, harus sampai ada sekolah khusus? Apakah sekolah pra nikah tersebut menjamin hal yang tidak kalah penting yaitu pasca nikah pasti berjalan mulus? Apakah tidak ada guru terdekat yang bisa mengajari kita tentang hal tersebut?

Belajar Tentang Pernikahan & Keluarga
Saya jadi teringat sebuah kisah tentang seorang anak muda yang ingin menguasai suatu ilmu, berkelanalah ia ke kota A untuk bertemu orang pintar di sana. Sesampainya di sana, si pintar tersebut tidak bisa mengajari pemuda itu dan menyuruhnya pergi ke kota B untuk bertemu dengan si pintar lain. Demikian secara terus menerus pemuda tersebut mengunjungi puluhan kota hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang menyuruhkan pergi ke kota X yang mana adalah kota asalnya sendiri dan di sanalah ia mendapatkan ilmu yang ingin ia kuasai yakni dari ibunya sendiri.

Yang ingin saya utarakan adalah, terkadang kita mencari sesuatu terlampau jauh hingga tidak melihat apa yang dekat. Sering kali kita belajar dari orang yang tak kita kenal padahal orang di sekitar kita lebih nyata. Saya benar-benar ingin bertanya, pernahkah kita bertanya pada orang tua kita tentang apa yang ingin kita ketahui? Atau kita selalu berasumsi, “ah, mana orang tuaku tau”? Untuk kasus pernikahan, pernahkah kita belajar secara langsung pada orang tua kita bagaimana cara menikah, bagaimana cara membangun keluarga, dan bagaimana cara mendidik kita? Saya yakin orang tua kita adalah guru terbaik untuk hal ini ketika kita tetap menggunakan akal dan hati kita.

Lain-Lain
Sejujurnya, saya pun tak pernah secara tersurat bertanya, “Pak, Bu, bagaimana cara membangun keluarga? Bagaimana cara membesarkan anak?” Tidak! Sama sekali saya tidak pernah bertanya demikian. Yang salah lakukan adalah belajar dari keseharian orang tua saya. Bagaimana orang tua saya memperlakukan saya dan kakak saya, bagaimana bapak saya memperlakukan ibu saya, dan sebaliknya. Sesederhana itu.

Beberapa waktu lalu sering kali, saya membaca tulisan tentang, “Masak dan mencuci bukan tugas istri.”, Pikir saya, ya masak beginian saja diperdebatkan. Hal yang begituan ya barang tentu tugas bagi yang sedang bisa melakukan. Kalau lapar ya masak, kalau baju kotor ya dicuci. Sesederhana itu. Paling tidak itulah yang saya dapatkan dari kedua orang tua saya. Ketika ibu saya terlelap karena lelah bekerja maka bapak saya mencuci pakaian. Ketika bapak saya membersihkan kebun belakang maka ibu saya yang memasak. Ketika ibu saya pergi penataran maka bapak saya yang memasak. Sesederhana itu. Sungguh saya sangat menyayangkan diri kita yang tidak bisa belajar banyak dari orang tua kita sendiri malahan pergi untuk mencari orang lain untuk mengajari sesuatu yang orang tua kita capable untuk melakukannya. Sekali lagi, saya hanya ingin kita lebih menghargai dan ngangsuh kawruh (menimba ilmu) dari kedua orang tua kita.

Maafkan tulisan random saya ini.

Salam,
Aryya Dwisatya W
Seorang anak dan suami.

[*] Pada suatu ketika barulah saya mengetahui bahwa orang tua saya merupakan contoh keluarga harmonis dan bapak pernah mengisi sosialisasi di kecamatan tentang membangun keluarga harmonis.

Comments

  1. cermin terdekat untuk tahu seberapa bagusnya sebuah keluarga adalah orang tua. tapi kadang ada juga orang tua yang broken home, dan anak jadi takut untuk memulai diri menikah dengan seseorang. atau anak punya trauma karena kekerasan yang dilakukan oleh salah satu orang tuanya. mungkin ini yang jadi sasaran pra nikah kali ya. biar tahu seberapa pentingnya mengetahui bahwa pernikahan nggak melulu yang bahagianya aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya sederhana, dari orang tua kita bukan hanya bisa belajar kita harus seperti apa melainkan juga kita tidak boleh seperti apa. Justru saya enggak yakin kalau di pra nikah diberikan contoh-contoh yang tidak baik lho. Kalimat saya sebelumnya harus dikonfirmasi oleh yang pernah mengikuti sekolah semacam itu sih.

      Delete

Post a Comment

Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A