Skip to main content

Posts

Pusat Penjualan Produk Lumajang

“Bertemu banyak orang memang memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaat yang paling bisa dirasakan adalah mendapat insight atau opportunity baru.”, Aryya Dwisatya W Tak Sekedar Bertemu Kalau ada kawan-kawan yang tidak merasakan manfaat dari bertemu dengan orang lain maka agaknya perlu ada sedikit introspeksi diri. Sebenarnya, bertemu itu memiliki beberapa macam yakni bertemu raga, bertemu pemikiran, dan bertemu perasaan. Kalau sebatas bertemu raga, bisa jadi tidak bertemu secara pemikiran, tapi bisa saja bertemu perasaan, macam-macam. Beberapa waktu yang lalu ketika berbuka bersama kawan-kawan SMA 2 Lumajang angkatan 2012 saya sedikit banyak berdiskusi singkat dengan seorang kawan tentang keinginan berwirausaha dengan pendekatan IT untuk memaksimalkan potensi alam yang ada di Lumajang. Alhasil, saya pun mulai merancang ProdukLumajang.com sebagai sarana promosi dan pusat penjualan. Selain berdiskusi dengan kawan seangkatan, saya pun bertemu dengan om saya beberapa hari ya

Islam Ini Itu

Kalau tidak salah, beberapa waktu ini sedang ramai tentang adanya istilah Islam Nusantara. Apa sih sebenarnya Islam Nusantara itu? Sejujurnya saya pun tidak tahu dan tak terlalu ingin tahu karena bagi saya tak terlampau penting memikirkan hal tersebut hingga-hingga melupakan islam yang sebenarnya. Mengenal Islam Ini Itu Kalau mau jujur, sebenarnya ada berapa banyak sih golongan dalam islam? Saya yakin tidak ada orang yang bisa menyebutkan dengan pasti dan benar. Sebelum istilah Islam Nusantara muncul, sebenarnya sudah ada banyak istilah lain seperti Islam Kejawen, Islam NU, Islam Muhammadiyah, dan Islam yang lain. Lantas mana yang benar? Sewaktu kecil, saya cukup bingung dengan golongan-golongan yang ada, sebut saja NU dan Muhammadiyah yang rasanya paling terkenal di Indonesia, pun di daerah saya terlahir. Lha, saya ikut yang mana? Saya jadi bingung. Sejak kecil di sekolah tidak pernah dikenalkan Islam NU atau Islam Muhammadiyah, sama sekali tak pernah. Orang tua saya pun tak

Mudah Untuk Melupakan

Terkadang berpisah adalah cara caling mudah untuk melupakan Dan bertemu adalah cara termudah untuk saling menyambung rindu Ketika waktu begitu membisu hingga cepat berlalu Tapi langit tak pernah berubah dan setia Kita saling berkembang tanpa tau jalan lain yang ditapaki Membuat kesalahan adalah hal biasa Terkadang waktu yang akan membenarkannya Ketika hati terbakar bara Sering kali waktu pula yang memadamkannya Dengan sendiri nya Ketika ada orang yang menganggapmu sahabat Percayalah dia mempercayaimu Dan dia bertaruh engkau pun menganggapnya demikian Maka hargai lah dia Karena sahabat tak lahir karena diminta Ia lahir dengan sendirinya Tanpa paksaan Ia yang dengan mudah membuatmu tertawa Tapi juga dengan mudah mebuatmu menangis Ia yang dengan sederhana dan tanpa perasaan menginjak kakimu Atau me-bully mu tapi dengan rangkulan hangatnya Aku cukup sebal kepada waktu Karena ia begitu lincah tanpa dilatih Karena ia begitu berharga

Memaknai Mencoba

Saya sering mendengar bahwa salah satu cara yang paling efektif dalam belajar adalah dengan mencoba. Mungkin, alasannya adalah agar seseorang mendapatkan pengalaman setelah mencoba sesuatu. Namun, apakah hanya demikian? Sebenarnya, saya sudah belajar nyetir mobil beberapa waktu lalu, pun sebelum liburan ini walaupun intensitasnya tidak setinggi sekarang. Nah, dalam beberapa hari ini akhirnya saya latihan lagi, bukan hanya di lapangan melainkan juga di jalan raya. Hasilnya? Tidak ada orang yang tersakiti! Hahaha. Yang saya sadari selama beberapa hari ini adalah berani mencoba sesuatu bukan serta merta agar kita bisa melakukan sesuatu tersebut tapi juga tentang mengukur diri. Sudah sanggup kah saya? Sudah siapkah saya? Sudah tenang kah saya? Paling tidak itulah yang saya pahami setelah beberapa sesi latihan ini. Oke, mungkin saat ini saya sudah bisa di jalanan lurus, di jalanan menurun, di jalanan menanjak, di tikungan, tapi sudah bisakah saya melaju dengan kecepatan tinggi? Lag

Ke-BENAR-An

Seringkali ketika saya menonton ceramah, atau lebih enak disebut berpikir bersama, dari Cak Nun, beliau sering kali mengungkapkan tentang macam-macam kebenaran. Pun yang saya suka dari cara dan konten yang disampaikan oleh beliau adalah tidak adanya paksaan untuk mempercayainya ataupun memutlakkan bahwa apa yang disampaikan itu adalah benar. Macam-Macam Kebenaran Kebenaran Sendiri Yang dimaksud dengan kebenaran sendiri adalah kebenaran yang hanya diri sendiri yakini bahwa itu benar atau bisa lah disebut kebenaran lokal. Saya yakin, setiap orang memiliki kebenaran nya sendiri yang mana tidak akan terusik oleh kebenaran orang lain walaupun seringkali dari luar akan terlihat sebagai orang yang keras kepala atau dalam pandangan positifnya teguh pendirian. Kebenaran Bersama Bisa juga disebut dengan kebenaran komunal yang mana benar karena disepakati benar oleh banyak orang. Contoh sederhananya apa? Ya demokrasi, ya musyawarah, ya apapun yang benar karena ada pihak-pihak yang setu

Tentang Bekerja

Baru kemarin sore saya sampai di Lumajang. Kota kecil yang dengan berada sekejap saja bisa membuat saya menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak bisa saya temukan selain di kota ini. Beberapa Kisah Suami Istri di Terminal Turun di Terminal Minak Koncar pukul setengah 5 sore sambil menunggu bapak dan ibu yang menjemput. Saya dan adik beristirahat di masjid dekat terminal. Sholat sejenak lantas memandangi takjil yang akan dibagikan ketika buka puasa nanti. Hingga tak terasa mobil jemputan pun mendekati dan kami bergegas naik. Tanpa ada isyarat, “Enggak nunggu maghrib dulu nak?”, tanya seorang ibu yang tak saya tahu siapa. Namun saya mengerti maksud ibu tersebut untuk menunggu maghrib untuk berbuka bersama dengan makanan yang beliau bawa bersama dengan suaminya. Saya bisa lihat dari pakaian dan kendaraan yang digunakan bahwa beliau berdua bukanlah pegawai di perusahaan besar dengan gaji berjuta-juta atau bahkan belasan juta. Bapak-Bapak Masjid Saat itu hampir pukul seten

Hilang Arah

Rasa-rasanya judul tersebut cukup menggambarkan saya saat ini. Hilang arah. Saya cukup bingung harus ke mana. Ketika minggu lalu saya begitu bersemangat untuk cepat-cepat pulang ke Bandung setelah kerja praktek di Jakarta yang begitu membuat gerah. Kini, saat badan saya sudah di Bandung, justru saya kehilangan arah, tak tahu harus berbuat apa. Tenang, saya bilang kehilangan arah bukan berarti pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya tak tuntas. Tetap tuntas. Toh akhirnya beberapa hari yang lalu dapat gaji lagi. Alhamdulillah. Namun tetap saja, rasanya seperti hilang arah. Goal besar seakan tidak ada dan yang paling penting adalah rasanya tak ada tempat untuk kembali. Sekre himpunan sepi dari kawan seangkatan karena sedang masa KP, kontrakan sepi karena memang sendirian, sekre kabinet pun masih belum terasa jadi rumah hingga akhirnya saya cukup sadar. “Setiap orang membutuhkan tempat kembali, paling tidak tempat yang membuat dia merasa dia adalah bagian dari suatu