Skip to main content

Memaknai Tiga Perkara Dalam Hidup

Mukadimah
“People’s dreams never end”, Blackbeard, One Piece
Impian manusia tidak pernah berakhir, karena ketika impian itu berakhir maka ia tak lagi layak disebut hidup karena jiwanya akan kosong, hampa.
Saya yakin, setiap orang memiliki impiannya masing-masing. Entah ia mau mengungkapkannya atau mendiamkan impian tersebut hingga waktu ia tak lagi bisa bermimpi. Ada banyak tipe orang di dunia ini yang belum saya ketahui, tapi salah satu yang saya ketahui adalah ada orang yang dengan keyakinannya akan selalu berusaha untuk mewujudkan impiannya. Kali ini, saya akan mencoba kembali bercerita tentang tiga perkara yang selalu ada dalam kehidupan manusia, kehidupan kita.


Perkara Pertama: Keinginan
Saya punya banyak impian, begitu banyak impian yang saya buat semenjak saya lahir ke dunia ini, sayangnya tidak semuanya saya ingat. Hanya beberapa dari semua itu yang dapat saya ingat karena keterbatasan ingatan saya.

Ketika masih SD, saya bermimpi untuk menjadi seorang tentara, tapi nyatanya sekarang saya belajar di ITB. mempersiapkan diri untuk menjadi seorang insinyur. Namun, apakah impian saya menjadi tentara 100% pupus? Ternyata tidak. Akan saya ceritakan kemudian.

Yang paling dekat ketika mulai perkuliahan di ITB, ada salah satu impian yang saya benar-benar inginkan yakni menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Informatika. Mungkin benar bahwa saya memimpikan hal ini sejak beberapa tahun yang lalu dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan personal hingga kini menjalar ke alasan mendasar tentang hakikat saya sebagai manusia dan mengapa saya diri serta bagaimana saya di sini. Terkadang perjalanan membuat kita belajar banyak hal dan suatu nikmat ketika kita bisa mengambil pelajaran dari setiap perjalanan tersebut.


Perkara Kedua: Kesempatan
Kini, saya sudah masuk tingkat III perkuliahan di ITB. Tiga tahun di STEI dan hampir dua tahun di Teknik Informatika. Ada orang yang bilang bahwa tingkat III merupakan masa emas dalam aktualisasi diri di kampus ini. Saya tidak bisa mengiyakan atau tidak karena saya belum menjalani masa terakhir yakni tingkat IV. Namun, yang saya dapati saat ini adalah, apa yang impian saya butuhkan tersedia di masa ini yakni kesempatan.

Hanya ketika tingkat III inilah apa yang dari dulu menjadi impian saya seakan memiliki jalan untuk terwujud. Impian saya ketika kecil untuk menjadi tentara ternyata tidak benar-benar pupus dengan adanya kesempatan untuk kerja praktek dan (semoga, insyaallah) bekerja di salah satu badan negara yang berkaitan dengan security nasional dan orang-orang di sana berlatar belakang militer. Lagi-lagi, apa yang saya inginkan dahulu tidak benar-benar lenyap melainkan diganti dengan hal yang mungkin menurut Allah lebih baik. Saya bersyukur masuk ITB.

Pada tingkat III ini pula lah keinginan saya untuk menjadi seorang Ketua Himpunan Mahasiswa Informatika terbuka. Betapa tidak, ada syarat yang hanya memungkinkan hanya mahasiswa tingkat III lah yang berkesempatan untuk maju.

Ada satu hal yang paling mendasar mengapa saya mengambil kesempatan yang ditawarkan pada saya saat ini yakni penyesalan. Saya tidak ingin melepaskan setiap kesempatan yang dapat saya usahakan sekuat tenaga saya. Saya tidak ingin di waktu mendatang timbul penyesalan akan ketidakmauan diri saya untuk berjuang dengan penuh. Bagi saya, salah ya salah, benar ya benar, menang ya menang, kalah ya kalah. Saya tidak ingin di waktu mendatang saya hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang merasa saya bisa  padahal kenyataannya saya tidak. Saya ingin menyelamatkan diri saya dari bayang-bayang penyesalan yang mungkin akan berpengaruh dalam kehidupan saya nantinya.

Perkara Ketiga: Kemampuan
Mungkin akan ada yang bertanya, apakah saya mampu menjalani semua ini? Pertanyaan yang cukup menarik. Biasanya, saya akan menjawab, “ya, saya mampu.”, tanpa terlalu berpikir,  tapi saya akan coba memberikan jeda untuk pertanyaan itu kali ini.
Beberapa waktu yang lalu seorang yang cukup kami sayangi berkata,

“Tuhan tidak hanya memberikan kesempatan pada orang yang memiliki kemampuan, tapi Ia juga memberikan kemampuan untuk orang yang mengambil kesempatan.”, Kak Adzul

Saya yakin, sendirian, saya tidak memiliki kemampuan untuk mengemban amanah dari impian yang saya miliki. Namun, bersama-sama dengan kawan dan orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama, kemampuan itu akan ada. Hingga, saya cukup yakin menjawab, “Ya, saya yakin mampu untuk melaksanakan semua ini atau saya yakin bahwa saya akan mendapatkan kemampuan untuk melaksanakan semua ini.”
Terlebih, Allah telah berfirman,

"Sesungguhnya Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya..." (surah Al-Baqarah: 286)
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”, (surah At-Thalaq: 2)

Kini jelas, bahwa saya, kita semua, pasti memiliki kemampuan untuk menjalankan amanah ketika kesempatan itu datang. Hanya saja pertanyaannya apakah kita akan berusaha terus menerus untuk melaksanakannya.


Penutup
Saya mengakui, dalam hidup, ada beberapa hal yang saya begitu yakin dan percaya diri terhadapnya. Namun, ada pula hal-hal yang unik yang membuat saya tidak serta merta percaya diri dan full of myself. Terlebih untuk perkara kesempatan ini. Biasanya, saya akan berdoa,
Ya Allah, berikanlah hamba ini….berilah hamba itu..”
seakan-akan saya sudah begitu yakin dan mampu untuk melaksanakannya, tapi untuk hal ini, saya berdoa,
Ya Allah, bila hamba memang kuat untuk menerima kesempatan itu maka berikanlah kesempatan itu pada hamba, bila hamba menerima kesempatan itu dalam keadaan belum mampu maka bantu dan tolonglah hamba agar kemampuan itu ada, dan apabila memang hamba tidak mampu untuk berusaha maka berikanlah kesempatan itu kepada orang lain yang memang berhak.”

Semoga kita selalu bisa memaknai apa yang kita inginkan, usahakan, dan dapatkan.

Salam,
Aryya Dwisatya Widigdha

Lembar pendaftaran dan dukungan calon Ketua Himpunan Informatika

Comments

  1. Wah jadi BALON alias Bakal Calon Ketua nih
    Hiehiehieiee

    ReplyDelete
  2. senengnyaaa...impian semasa SD tercapai juga :')
    jadi pengen berkaca diri

    ReplyDelete

Post a Comment

Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A