Skip to main content

Hati Yang Keruh

Diambil dari izancraft.blogspot.com

Assalamualakum Saudaraku,

Semoga kita selalu mendapatkan rahmat serta hidayah dari Allah SWT. Dilancarkan dan dimudahkan dalam setiap urusan, serta selalu berada dalam bimbingan-NYA.

Saudaraku, setiap manusia lahir di dunia dalam keadaan suci, bukankah begitu? Ia lahir dalam bentuk bayi, saat pertama lahir ia mengis, kemudian sang bapak mengumandangkan adzan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya. Bukan lagu pop, rock, atau mantra yang diperdengarkan pertama kali, tetapi panggilan untuk menghadap Tuhan semesta alam lah yang diperdengarkan dengan merdu untuk pertama kalinya.

Kita terlahir dalam keadaan suci, hati kita masih bersih, ibarat segelas air yang bening. Lalu, lambat laun kita tumbuh, tak menutup kemungkinan kita melakukan kesalahan hingga kini. Setiap dosa yang kita lakukan, setiap khilaf yang tak terelakkan, setiap penyakit hati yang mendatangi tak mampu kita ingkari menghasilkan bintik hitam pada hati kita, semakin lama semain dilakukan, semakin gelap pula hati kita. Laksana air di dalam gelas yang dicampur dengan kopi, sedikit demi sedikit ia menjadi semakin keruh.
"Seorang mukmin, apabila berbuat suatu dosa, akan tampak suatu titik hitam di hatinya. Maka jika ia bertobat dan beristighfar, hatinyapun menjadi bersih kembali. Tetapi jika ia menambah perbuatan dosanya, titik-titik hitam itupun makin bertambah, sedemikian sehingga meliputi seluruh hatinya. Dan itulah kotoran dan kenistaan yang menutupi hati, sebagaimana disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya : "Kallaa bal raana 'alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun – Sebenarnyalah apa-apa (dosa-dosa) yang mereka lakukan itu menutupi hati mereka (Al Muthaffifiin : 14)". (HR. Tirmidzi)

Wahai saudaraku, kita memang manusia yang tak sempurna, tetapi hal ibu bukan alasan bagi kita untuk tidak berusaha menjadi lebih baik. Bila di masa lalu kita adalah orang yang berlumur dosa, apakah kita harus tetap seperti itu? Mungkin ada ayng merasa bahwa dosa yang diperbuat sudah begitu banyak hingga menganggap Allah tidak akan mengampuninya. Saudaraku, ingatlah bahwa Allah memiliki nama Ya Ghoffar, yaitu Maha Pengampun.
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az Zumar: 53)

Berikut ini dari sebuah hadist, tetapi sayang saya kurang tau ke-shahihannya
“Sesungguhnya, tatkala hamba yang bermaksiat menengadahkan kedua tangannya ke langit, dan berkata, “Ya Tuhanku.” Maka malaikat akan menutupi suaranya. Kemudian, hamba itu mengulanginya lagi, “Ya Tuhanku”, Malaikatpun menutupi suaranya lagi. Hamba itu lalu mengulanginya lagi “Ya Tuhanku” Malaikatpun menghalangi suaranya. Kemudian ketika si hamba mengulanginya untk keempat kali, “Ya Tuhanku.” Maka berfirmanlah Allah, “Sampai kapan engkau akan terus menutupi suara hambaKu ini? Aku memenuhi panggilanmu, wahai hambaKu; Aku memenuhi panggilanmu, wahai hambaKu; Aku memenuhi panggilanmu, wahai hambaKu; Aku memenuhi panggilanmu, wahai hambaKu.”

Wahai saudaraku, apakah masih ada hal yang menghalangi kita untuk bertaubat sedangkan pintu Allah selalu terbuka untuk orang yang bertaubat? Seperti air yang ada dalam gelas, mungkin ia begitu keruh karena begitu banyak kotoran di dalamnya. namun, cobalah perhatikan ketika setetes demi setetes jatuh kedalamnya, walaupun lama tetapi akan terlihat jelas bahwa air yang tadinya keruh perlahan menjadi semakin terang hingga akhirnya menjadi bening seperti awalnya. begitu pula hati ini, walaupun begitu banyak dosa yang dilakukan di masa lalu, tidakkah ia akan kembali bersinar ketika kita bertaubat dan menggantinya dengan kebaikan?

Wahai saudaraku, coba perhatikan air dalam gelas yang keruh. Apabila diletakkan tulisan dibawah gelas tersebut, akankah tulisan tersebut terbaca dengan jelas? Tentu tiak. Bagaimana bila air yang ada dalam gelas tersebut jernih? pastilah, tulisan tersebut dapat kita baca dengan jelas. Bila hati kita bersih, tentulah kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang benar, kita akan mampu memilih dengan tepat, insyaalah dalam bimbingan Allah.

Guru Imam Syafi'i pernah bertutur:
"ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah bukan untuk pelaku dosa"

Lalu, bagaimana bisa ilmu kita terima bila hati kita masih saja kotor? Wahai saudaraku, marilah kita bertaubat atas semua dosa yang pernah kita lakukan. Mari kita jadikan masa lalu kita yang begitu kelam sebagai cambuk pengingat bagi kita bila kita hendak berbuat dosa seperti apa yang kita lakukan dahulu.

Semoga apa yang saya tulis disini bermanfaat, semoga Allah SWT selalu mencurahkan Rahman dan Rahim-NYA kepada kita, membimbing kita, mengampuni setiap dosa kita dan memudahkan urusan kita. Amin

Wassalam,

Bang Satya.

 

Beberapa hadiis diambil dari:

  • http://rirismanis.multiply.com/journal/item/34/JANGAN_TAKUT_ALLAH_MAHA_PENGAMPUN

  • http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=3221102&page=109

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A