No Tikkie Needed

 Kalau teman-teman pernah baca cerita betapa perhitungannya orang Belanda, pasti pernah dengar cerita kalau hal apapun akan ada Tikkie-nya. Habis makan bareng? Ada Tikkie. Habis first date? Ada Tikkie. Bahkan untuk 0.5 EURO. Dengar-dengar sih bukan perkara pelitnya tapi ke arah tidak mau ada rasa berhutang budi atau enggak enak ke orang lain. Dan memang, hal itu lumrah, di manapun, tidak spesifik hanya di Belanda.

Kemarin (baca: semalam), aku ikut turnamen billiard di Mokum, Amsterdam. Jarak dari kantor enggak terlalu jauh, sekitar 20 menit saja. Bisa lebih cepat kalau sedang tidak ada konstruksi di Amsterdam Zuid. Aku udah daftar dari beberapa hari lalu dengan rencana pulang maksimal sekitar jam 11 karena kereta terakhir ke Rotterdam dari stasiun dekat situ sekitar 11:30 PM. 

Namun, pagi-pagi aku dapat DM dari kenalan main billiard di Belanda. Tidak ada angin tidak ada hujan, dia bilang mau ikut turnamen juga dan menawari tumpangan pulang. Lantas aku bilang aja, terima kasih tawarannya, tapi lihat nanti aja hasilnya gima karena bisa jadi aku pulang duluan kalau kalah.

Malam Turnamen

Aku sampai di Mokum sekitar pukul 6PM. Tentu, setelah kenyang makan Cheese Burger di FatPhill's Amstel Station yang harganya hanya 9 EURO itu. Mungkin pegawai di sana sudah hafal denganku karena selalu di hari selasa dan selalu Cheese Burger dengan nama pemesan Ary.

Aku latihan terlebih dahulu di meja yang kosong, sampai sekitar dua puluh menit, kenalanku ini datang dan kami latihan bersama sampai sekitar pukul 7:20PM. Turnamen mulai pukul 7:30PM jadi perlu ada sekitar 5 menit istirahat.

Ada di satu fase, kalau aku menang pertandingan, maka kami akan bertemu di ronde selanjutnya. Sayangnya (baca: untungnya), aku kalah 2-3 dari lawanku saat itu, jadi aku tidak melawan kenalanku ini, tapi lewat jalur ronde lain. Di ujung, kami sama-sama lolos ke babak kuarterfinal. Di sinilah hal yang menarik.

Aku mulai pertandignan kuarterfinal dari 10:17 PM dan selesai pukul 10:51PM. Artinya, hanya 9 menit sebelum rencana awalku yang mana kalau aku lakukan, aku harus withdraw dari pertandingan semifinal. Di sisi lain, kenalanku kalah di kuarterfinal. Langsunglah aku jalan mendekat menuju ke arahnya, belum sempat ngomong, dia udah ngomong duluan, "I know.". Maksudnya, dia tahu kalau jadinya aku mau nerima tawaran tumpangan dia. Aku timpali lah, "Do you want something to drink (while waiting)?", "No, i still have".

Tibalah di pertandingan semifinal yang dimulai pukul 11:01PM dan selesai di 11:26PM. Aku beruntung bisa menang, tapi artinya kenalanku ini harus menunggu lebih lama. Aku kembali menawari minum, tapi dia lagi-lagi menolak. Hingga pada akhirnya, aku kalah di final oleh lawan yang juga mengalahkan kenalanku ini. Pertandingan selesai sekitar pukul 00:18AM. Sudah, tidak ada kereta lewat dari stasiun terdekat. Jadi, sesuai rencana tadi, aku numpang mobil temanku dan diantar sampai samping rumah.

Sepanjang jalan, sekitar 50 menit kami ngobrol banyak hal tentang billiard dan juga proses pindahan ke Belanda. Lalu kukeluarkanlah jurus andalan, "suka teh atau kopi", "both". Oke, kalau gitu, karena tadi enggak mau ditraktir minum, aku bilang kalau sabtu besok aku akan bawakan teh dari Indonesia, sariwangi. Ini cara ampuh untuk balas budi secara smooth. 

Poin cerita ini sebenarnya lebih ke, bisa lho, pertemanan yang enggak transaksional. Tapi, juga harus sadar diri dan tahu balas budi. Karena itu pula lah, di akhir tumpangan aku enggak tanya, "kirim Tikkie ya buat bensinnya" karena jadinya malah akan awkward.

Comments

Popular posts from this blog

Hari pertama : Salam kenal dari BangSat

BangSatya Mini Give Away

Pengalaman Berangkat Haji Tanpa Antri dari Belanda (2025)