Aku ingat seaktu kecil ada beberapa kesempatan bapak dan ibu membeli susu murni lalu dipanaskan sebelum aku dan kakaku minum. Saat dipanaskan dan didiamkan hingga dingin, lapisan paling atas akan mengental dan rasanya gurih. Perlahan, aktivitas minum susu itupun tidak berlanjut, entah mengapa.
Akhirnya, aku coba googling, walaupun dijawab AI, berapa sih konsumsi susu masyarakat Indonesia pertahun:
 |
| Data rentang tahun 2023 sampai Juni 2026 |
Jadi, tidak minum susu setiap hari di Indonesia adalah hal yang sangat wajar. kalau dilihat dari fakta diatas, sepertinya beberapa memang valid terlebih soal tantangan produksi yang mana kebanyakan sapi untuk diambil dagingnya, bukan susunya, dan juga, faktor pendapatan menjauhkan orang untuk minum susu sapi. Maksudnya, kalau yang utama saja, baca: makanan pokok, belum tuntas, kenapa harus beli susu sapi?
Aku coba cari harga susu sapi murni kemasan di marketplace Indonesia dan dapat angka sekitar Rp38.000,00. Buatku yang tinggal di Belanda, rasanya kok mahal ya? bukan dalam artian kalau dikonvesi ke Euro, tapi lebih ke kalau dikonversi ke satu piring makan siang di warteg, itu bisa 2-3 kali makan.
Rutin Minum Susu di Belanda
Sebenarnya, aku juga tidak ingat pasti sejak kapan rutin minum susu di Belanda, tapi sepertinya sih setelah pindah ke rumah baru, jadi anggaplah Januari 2026. Aku ingat ketika puasa pun, ada beberapa kesempatan ketika sahur pakai potongan pisang, muesli, dan juga susu sebagai pengganti nasi supaya praktis. Selepas puasa, minum susu sudah jadi rutinitas harian dengan campuran madu. Menurutku, kombinasi madu + air dingin sedikit sampai larut lalu ditambah susu segelas itu sangat pas apalagi di cuaca Belanda yang lagi panas begini. Segarnya dapet, kenyangnya juga dapet.
Balik lagi ke topik rutin minum susu ini. Sepertinya, bukan karena rasa susu di Belanda berbeda. Toh, aku belinya juga susu tanpa rasa tambahan hanya saja yang free laktosa karena DNA-ku masih seperti nenek moyang orang Asia Tenggara, kebanyakan susu bikin sakit perut. Kalau yang bebas laktosa, aman sentosa.
Tadi dibilang bahwa di Indonesia, salah satu faktor penghambat minum susu adalah pendapatan dan supply. bagiku, dua hal itu betul-betul teratasi di Belanda. Satu liter susu murni, harganya sekitar 1.9 Euro yang mana kalau dirupiahkan sekitar Rp38.000,00. LHO, KOK MIRIP? Nah, itu dia masalahnya. Gimana bisa orang Indonessia diminta minum susu yang kalau harga satu liternya saja sudah memakan 1.45% UMK salah satu kabupaten di Jawa Timur. Kalaupun ngomongin soal supply, sepertinya juga Belanda menang telak. Susu sapi melimpah berbagai merk di berbagai supermarker, dengan harga yang terjangkau tadi. Jadi, tidak heran kalau konsumsi susu di sini tinggi.
 |
| Merk susu langganan |
Dulu teman kantor yang asli Belanda cerita kalau dia bisa menghabiskan satu liter susu dalam sehari. Buatku waktu itu, tidak masuk akal. Gimana ceritanya susu satu liter, bisa habis dalam satu hari? Eh lah dalah, ternyata kali ini aku mengalami. Walaupun tidak habis sendiri, tapi diminum bersama, satu karton susu 1l yang aku beli tadi siang sudah habis saja malam ini. Balik lagi ke tadi, karena harganya masuk dan supplynya melimpah. Selain itu, dari sisi fungsionalitas menunda lapar, susu ini emang top banget. Minums atu gelas rasanya udah kenyang sekali. Apalagi ditambah madu, makin top.
Jadi memang, ada habit yang bisa terbentuk bukan karena keinginan, tapi karena lingkungan mendukung saja. Bukan serta merta akan jadi habit sih, tapi lebih ke energi aktivasi untuk melakukan habit itu lebih kecil yang mana akhirnya membuat hal tersebut terjadi.
Comments
Post a Comment
Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu