Melanjutkan Hobi Yang Belum Tuntas: Refleksi 2 Tahun Billiard di Belanda
Setelah menjalani hobi di umur 30 tahun, aku punya dugaan sementara tentang alasan sesesorang memilih sebuah hobi. Bisa jadi, hal tersebut disadari ataupun tidak, tapi toh kejadian juga. Hipotesisku sederhana: seseorang cenderung memilih hobi yang belum 'tuntas' di masa kesil/remajanya. Belum tuntas di sini artinya bisa tidak mencoba sama sekali entah karena tidak ada kesempatan atau kapabilitas atau sudah pernah mencoba tapi tidak maksimal. Aku bisa lihat pola ini di beberapa teman. Ada teman yang sekarang hobinya koleksi/main mini 4WD (Tamiya), gundam, naik gunung, main game, dan lain sebagainya. Di kasusku, hal yang belum tuntas itu adalah billiard.
Hobi Yang Tertunda Saat Remaja
Saat kecil dulu, aku anak termasuk yang berprivilege, dalam artian, banyak hobi yang bisa aku lakukan. Sepedahan, main tamiya sampai upgrade dinamo, main playstation (bahkan punya), bahkan main senapan angin, semua itu aku sudah lakukan sampai 'khatam'. Namun, ada satu hobi yang aku sangat suka, tapi tidak bisa secara maksimal aku lakukan yakni bermain billiard.
Sebenarnya, bukan berarti aku tidak pernah bermain billiard. Aku pernah bermain billiard saat kelas 5-6 SD bersama beberapa teman, pun saat kelas 1 SMP. Aku masih ingat, untuk bermain billiard, kami harus patungan 1500-2000 rupiah untuk bermain dengan 3 koin. Iya, koin. Artinya, setiap bola habis, ada koin yang harus dimasukkan untuk mengeluarkan bola lagi. Namanya juga billiard ekonomis, jangan dipikir meja, stik, maupun bola yang digunakan proper, asal ada.
Berbeda dengan hobi lain seperti tamiya ataupun main game, saat bermain billiard, seingatku, aku selalu sembunyi-sembunyi dari orang tua karena memang orang tua melarang aku bermain billiard. Pernah suatu ketika aku ke tempat billiard agak jauh dari rumah, ketemu dengan pamanku, alhasil, juga disuruh pulang. Aku agaknya mengerti, karena di era itu, sekitar 2005-2006, billiard selalu identik dengan judi. Billiard ya tempat untuk main judi, bukan sebagai ajang olahraga.
Bermain Billiard saat Kuliah
Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah di Bandung. Alhasil, jauh dari orang tua. Sudah tidak perlu izin kalau mau kemana-mana, palingan hanya mengabari saja. Di saat-saat inilah, aku bisa mulai bermain billiard lagi. Awalnya, aku kira, aku bisa main billiard sepuas hati, tapi realita tidak seindah angan-angan. Sebagai anak kabupaten yang tinggal di kosan, setiap hari rata-rata menghabiskan uang 20-30rb untuk makan. Jadi bisa ditakar kalau satu bulan akan habis 800-900 ribu untuk makan. Di luar itu, biaya bensin untuk motor Honda Revo Absolut, pulsa, kuliah, dan lain sebagainya, juga harus dipertimbangkan menginat uang bulanan waktu itu sekitar 1-1.5jt. Alhasil, walaupun ada waktu dan tenaga, tapi tidak ada uang untuk bermain billiard. Sungguh, keniscayaan tentang hukum keterbatasan sumberdaya dalam diri manusia 😀
Walaupun begitu, bukan berarti aku tidak bisa bermain billiard. Toh, nyatanya aku tetap bisa bermain tapi dengan syarat: bermain bersama teman-teman, masih patungan. Aku ingat dulu main di Dago Plaza, ada paket murah meriah kalau weekend malam hari. Namun sayang, setelah beberapa waktu, mungkin kisaran 2013-2014, tempatnya tutup dan aku harus pindah main ke BTC Pasteur yang cukup jauh.
| Hangout Pool Lounge di BTC Pasteur |
Bermain Billiard saat Bekerja
Beruntung, 2016, aku lulus kuliah dari Teknik Informatika dan langsung bekerja. Jadi cerita tidak ada uang harusnya sudah terselesaikan. Namun, ternyata tidak demikian hehe. Karena aku menikah di tahun 2015 dan sudah punya tanggunan, akhirnya uang yang kudapat dari kerja, alhamdulillah agak jauh dari UMR Kota Bandung saat itu, harus dialokasikan untuk kehidupan sehari-hari keluarga kecilku: kontrakan, makan-minum-have-fun, dan juga biaya kuliah S2. Jadi, bermain billiard benar-benar ada di urutan terbawah. Di samping itu, masa-masa 2016 itu adalah masa aku workaholic parah yang benar-benar setiap hari bisa begadang untuk kerja. Jadi, bye-bye dulu bermain billiard.
| Circa 2017 |
Nah, sampai sini, sudah paham kan kalau uang, waktu, dan tenaga sudah habis untuk dialokasikan ke billiard, tapi ada satu hal krusial lain yang sebenarnya bikin aku tidak bisa bermain billiard setelah menikah: tempat billiard di Bandung saat itu memperbolehkan merokok di ruangan. Jadi bayangkan, selama 2-3 jam bermain billiard, harus menghirup asap rokok di ruangan tertutup. Selepas pulang pun, pakaian, rambut, dan seluruh badan benar-benar bau rokok. Maksudku, aku memang sempat merokok waktu kuliah, tapi enggak harus 2-3 jam terpapar asap rokok orang lain di tempat tertutup juga. Terlebih setelah punya anak di 2018, main billiard artinya membawa tempelan asap rokok yang artinya tidak bisa dekat dengan anak, jadi ya harus direlakan untuk tidak main.
Billiard di Belanda
Sewaktu pindah ke Belanda, aku tidak terpikir untuk bermain billiard, yang ada malah aku berpikir mau jadi atlit sepeda karena jalan di sini bagus banget dan datar. Itu sebelum aku kena dua fakta: angin-hujan di Belanda ganasnya beda level plus suhunya sangat dingin untuk bersepeda di winter (aku tiba di Belanda bulan November). Fakta kedua adalah, di perusahaan tempatku bekerja, ada meja billiard yang bisa dipakai, gratis. Jadi bayangkan, sebagai seseorang yang ingin bermain billiard tapi terhalang uang, waktu, dan energi, akhirnya ada fasilitas dari kantor yang bisa digunakan. Desember 2023 saat pertama kali masuk kerja, langsung aku manfaatkan untuk bermain billiard di kantor, hehe.
| 14 Desember 2023 - Bermain billiard dengan kawan satu onboarding dari Iran |
Selama bekerja di kantor, kira-kira jadwal harianku adalah:
- 8AM-12PM: kerja
- 12PM-1PM: lunch dan bermain billiard
- 1PM-5PM: kerja
- 5PM-6/7PM: bermain billiard
Dan itu rutin dilakukan dua kali seminggu saat ke kantor. Alhasil, aku sangat senang ketika bekerja karena selain load kerjaannya rendah dan gampang (saat pindah ke kantor ini aku turun level dari Senior ke non senior, apa aja deh asal bisa #kaburajadulu buat haji), juga bisa kenal banyak orang lintas tim-departemen-bahkan lantai lewat billiard. Anggota timku saja yang ada di NL dan CH kalau ditotal tidak lebih dari 10, tapi orang yang aku kenal karena rutin bermain billiard di kantor, jauh lebih banyak dari itu. Beberapa masih in touch sampai sekarang dan jadi teman dekat walaupun sudah tidak satu kantor.
Lebih Serius Bermain Billiard
Setelah puas bermain billiard untuk fun di kantor, ada satu masa di mana aku punya keinginan untuk bermain billiard di level yang lebih. Untuk itu, aku harus ikut turnamen yang mana diadakan di luar kantor. Beruntung, ada Poolcafe yang jaraknya hanya 4 stop dari kantor dan bisa dijangkau dengan metro: Poolcafe Delfshaven, di sanalah untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengikuti turnamen billiard.
| Pertama kali mengikuti turnamen billiard |
Aku masih ingat betul betapa aku hanya sedikit tahu tentang billiard. Di kantor, kami biasanya bermain 8-ball. Di Poolcafe Delfshaven, game yang dimainkan adalah 9-ball. Seminggu sebelumnya, aku datang ke poolcafe hanya untuk minum dan menonton bagaimana turnamen tersebut diselenggarakan. Aku lihat betul prosesnya, pendaftarannya, dan bagaimana orang-orang bermain. Untuk pertama kali itupula, dalam hidupku, 29 July 2024 aku bermain 9-ball. Tentu aku kalah, dibantai habis oleh Mario dan Awin, mereka berdua adalah top player di Belanda, the big boys lah sebutannya.
| Warming up sebelum turnamen 29 Juli 2024 |
Apakah aku berhenti setelah dibantai begitu? Tentu tidak. Aku sangat paham cara untuk mempercepat proses belajarku adalah dengan melihat dan mempelajari bagaimana orang-orang yang levelnya jauh di atasku bermain. Sejak saat itu, hampir setiap minggu, aku selalu datang untuk bermain di turnamen. Tentu ada kalanya aku mulai mempertanyakan keputusanku untuk terus datang, tapi, karena aku juga masih bermain di kantor, aku bisa melihat perbedaan cara bermain setelah rutin mengikuti turnamen dengan pemain-pemain hebat. Aku selalu percaya bahwa setiap orang ada masanya. 22 Februari 2025, setelah sekitar satu tahun bermain billiard di Belanda, aku mendapatkan juara pertamaku bersama mentorku: Morteza
| In-action saat final turnamen billiard tim di Swisscom Rotterdam |
| Foto bersama piala yang diperjuangkan penuh dengan keringat |
Semenjak itu, aku makin rajin berlatih dan percaya bahwa aku bisa menjadi lebih baik lagi. Selain meningkatkan skill, aku sangat menyadari dengan rajin ikut turnamen benar-benar menambah jumlah kenalan-teman di Belanda karena skena billiard memang itu-itu saja. Sepertinya aku bisa menyebutkan 50 nama kenalan/teman yang aku dapatkan dari bermain billiard dan kalau mereka ditanya apakah tahu Aryya, mayoritas akan menjawab ya.
Buatku, bermain billiard bukan sekedar stress release atau untuk have fun, tapi ada kepuasan tersendiri bisa melakukan sesuatu yang selalu ingin dilakukan saat remaja-dewasa tapi terhalang ini dan itu. Tentu, aku tidak mau hanya emosional dengan olahraga ini, aku selalu punya target bahwa setiap turnamen, menang adalah tujuan. Siapa juga yang pergi berperang untuk kalah, kan?
Aku juga penasaran dengan bagaimana performance ku selama dua tahun ini. Jadi, aku coba ekstrak data dari cuescore (https://cuescore.com/player/Aryya+Widigdha/45996829) dan analisa, kira-kira begini kata ChatGPT:
| My performance analysis |
Selama dua tahun, 171 turnamen sudah aku ikuti, jika dirata-rata setiap turnamen mewajibkan registrasi 10 EURO, artinya aku sudah menghabiskan 1710 EURO selama dua tahun ini atau mungkin sekitar 2.8-3 juta untuk hobi. Kalau dilihat sepertinya sangat besar, tapi kalau diingat bagaimana aku kerja bagai kuda selama di Indonesia, sepertinya hal ini masih bisa dimaklumi terlebih ketika aku tanya ke beberapa kawan di Indonesia, budget hobi mereka lebih besar daripada ini 😅
Selain itu, yang tidak kalah penting, dengan ikut turnamen, aku tidak hanya meningkatkan skill dan pertemanan, tapi juga kesempatan untuk mendapatkan uang.
| Prize Money @ Poolcafe Delfshaven Home Tournament Masters |
| Prize Money 3rd Place - Amateur Tournament @ Poolcentrum Keus |
| Prize Money 2nd Place - Amateur Tournament @ Poolcentum Keus (19 may 2025) |
Akhirnya, aku bisa bilang, setiap hal ada masanya dan masa-masa untuk bermain billiard mungkin adalah sekarang.
Salam,
Aryya
"sorry, i got lucky"
Comments
Post a Comment
Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu