Skip to main content

Ah, Aku Masih Mata Duitan

Sebut saja hari itu adalah Sabtu, 21 November 2015. Ketika beberapa minggu sebelumnya sudah ada kawan yang menghubungi untuk mengisi sharing terkait blogging pada acara pembinaan suatu beasiswa. Ah, ini kan teman ku, masak aku tolak, ya aku terima saja, toh aku juga cukup suka nge-blog, jadi ya agak bisa lah dipertanggungjawabkan, pikirku.
Waktu berlalu, hingga ada orang lain yang menghubungi saya untuk menindaklanjuti kegiatan ini. Usut punya usut ternyata kegiatan itu tidak dilakukan di Bandung melainkan Jatinangor. Wah, jauh juga ya? Seingat saya, hanya sekali saya ke Jatinangor yakni saat tingkat I dulu ketika menjadi peserta Diklat Dasar Aktivis Terpusat (DDAT) 2013. Wah, harus atur jadwal nih, wah harus nyiapin biaya nih. Mulailah pikiran-pikiran terkait materi muncul dalam benak saya. Pengalaman menjadi pembicara di beberapa di beberapa kegiatan membuat saya agak materialistis, banyak mikir tentang duit. Ah, ternyata saya masih serendah itu.

Ketika Hari Itu Tiba
Tanggung jawab adalah tanggung jawab, kalau tidak mau ya jangan diterima, bukan dilepas di tengah jalan. Kalau belum jelas ya tanyakan, jangan asal terima lantas menyesal. Hari itu seharusnya saya mengisi acara pukul 10.00, tapi karena saya tidak tau medan, ya sudah saya berangkat pukul 07.30 dari Tamansari menuju Jatinangor dengan asumsi jalanan macet dan saya datang sekitaran pukul 09.30. Sekali lagi saya salah, jalanan lancar dan saya datang pukul 08.05. Mau tidak mau saya harus ke tempat yang ditentukan, mau ngapain lagi? Jalan-jalan ke ITB Jatinangor? Atau ke Unpad? Ah sudahlah, saya ingat lagu dari Pidibaiq yang kira-kira begini, “Sudah jangan ke Jatinangor, dia sudah ada yang punya…”.Tak berapa lama setelah saya menghubungi pihak yang berkepentingan, dijemputlah saya dan kami menuju tempat yang ditentukan dalam waktu yang cukup singkat, hanya sepuluh menit saja.

Manusia Perlu Diingatkan
Ketika sebelumnya dikatakan bahwa sharing akan dilakukan di asrama akhwat maka di bayangan saya muncul bangunan yang cukup besar dengan kursi-kursi yang berjajar. Ya, ruangan seminar pada umumnya. Namun, ketika saya sampai, yang saya dapati adalah sebuah rumah sederhana yang nyaman, menyenangkan, dan sangat bisa dinikmati. Ah, kesederhanaan yang menyenangkan, pikir saya. Saat itulah saya tak lagi memikirkan berapa ongkos yang saya keluarkan untuk datang ke sana atau nanti kalau pulang apakah dapat sertifikat dan sebagainya. Ah, saya rendah sekali karena mengukur sesuatu dari timbal balik materi saja, bukan malah kebermanfaatan yang saya berikan. Maka tak pedulilah apa yang saya dapat, tapi saya akan peduli dengan apa yang bisa saya berikan saat itu.

Saat saya datang, sudah ada pemateri pertama, sebut saja Kang Rendy, Geologi 2009. Memang, manusia terkadang perlu diingatkan, Gusti Allah tau saja kalau saya jarang ngaji, jarang baca artikel yang agamais banget, baca kitab-kitab yang simbolis banget, atau bahkan memikirkan ayat-ayat Kauniah yang Gusti Allah berikan makanya saya disodori, disuapi, ilmu agama saat itu yakni tentang visi hidup. Sederhana, bahwa visi hidup ini ya beribadah pada Allah, walaupun pada penerapannya nanti beribadah bisa sangat luas. Menjadi dokter bisa jadi ibadah, menjadi software engineer bisa jadi ibadah, dan banyak profesi lain yang masih selaras dengan visi yang Allah berikan. Ah, saya memang harus sering diingatkan.

Beraksi Berbagi Menginspirasi
Saya memiliki waktu satu jam setengah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman saya terkait blogging. Slide, saya hanya sedikit, saya bahkan yakin bisa menghabiskan semua slide dalam 20 menit. Saya takut waktu yang diberikan terlalu banyak. Walaupun pada akhirnya, waktu yang diberikan semua terpakai, saya banyak bercerita, kawan-kawan di sana banyak bertanya. Sejujurnya saya nyaman berbagi terkait blogging dengan mereka mulai dari mengapa blogging itu penting, bagaimana cara membuat blog, bagaimana cara menulis, korelasi dengan sosial media, dan lain sebagainya. Berikut beberapa dokumentasi kegiatan kemarin.



Akhirnya
Pada akhirnya saya cukup senang karena bisa memberikan apa yang bisa saya berikan saat itu tanpa memikirkan apa yang akan saya dapatkan. Memberi ya memberi, bukan memikirkan apa yang akan didapatkan karena memberi dan mendapatkan balasan adalah dua hal yang berbeda. Saya jadi ingat ucapan Cak Nun, kalau ada tukang becak yang menawar harga dengan calon penumpangnya, ya itu hanya saat tawar-menawar saja, setelah itu ya sudah mengayuh supaya bisa sampai tujuan. Maksud saya, memikirkan sesuatu ada tempat dan waktunya, jangan di semua tempat atau waktu memikirkan sesuatu, nanti jadinya stres bahkan tidak bersyukur. Bagaimana kita bisa menikmati tempe kalau di pikiran kita adalah daging? Ya tidak akan bisa. Tempe adalah tempe dengan kenikmatannya dan daging adalah daging dengan kenikmatan yang demikian. Semoga apa yang saya berikan kemarin bermanfaat dan tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk amplopnya.

Salam,
Aryya Dwisatya W
Yang masih harus sering diingatkan.

Comments

  1. semoga semakin banyak memberi jadi makin terlatih untuk menjadi lebih baik ya, bang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Emang terkadang sudah untuk memberi tanpa berharap sesuatu.

      Delete

Post a Comment

Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

6 Tips Aman Berbelanja Online di Luar Negeri

Di era globalisasi dan teknologi seperti sekarang, berbelanja bukanlah sesuatu yang susah betapa tidak, hanya perlu meluangkan waktu beberapa saat saja di rumah, barang yang kita inginkan pun bisa kita dapatkan dengan cepat. Kali ini saya akan berbagi tips aman berbelanja online di luar negeri. Alat pembayaran Umumnya, ada dua alat pembayaran yang diterima oleh seller yakni paypal dan kartu kredit. Sebagian dari kita tentu agak kesusahan bila harus membayar dengan kartu kredit karena tidak semua orang berkesempatan memiliki kartu tersebut terlebih ada umur minimal untuk memilikinya. Namun, masalah tersebut dapat diatasi dengan dua cara yakni membeli virtual credit card atau menggunakan paypal. Virtual credit card memungkinkan rekan-rekan untuk memiliki kartu virtual dengan saldo yang rekan-rekan butuhkan, biasanya sih cocok untuk yang sekali transaksi. Sedangkan, paypal pun memberikan kemudahan karena banyak jasa penjualan balance atau saldo paypal sehingga rekan-

Hari pertama : Salam kenal dari BangSat

Salam kenal, Ca-Kawan :D Setelah sekian lama nge-blog karena keinginan sendiri tanpa keterikatan dan tuntutan maka sekarang saya sedang mencoba menaklukkan tantangan Bang Claude yakni “ Tantangan Ngeblog 30 Hari ”. Maklum, orang bergolongan darah B kan suka tantangan :p. Kalau biasanya saya bisa ngeblog sesuka hati, maka sekarang saya harus ngeblog dengan beberapa kriteria yang mungkin tidak asing, tapi tak begitu mudah dilakukan. Konsisten dan On Demand . Inilah poin penting yang menurut saya menjadi dasar diadakannya chalange ini. Oke, nama saya Aryya Dwisatya Widigdha. Saya biasa dipanggil Yayak, Aryya, Dwi, Satya, Widi, atau bahkan BangSat. Tiap nama panggilan punya sejarah masing semisal Yayak adalah nama panggilan dari orang-orang yang paling pertama mengenal saya seperti orang tua, saudara, teman sejak TK/SD. Aryya, panggilan dari rekan-rekan SMP dan SMA. Dwi, Satya, dan Widi merupakan panggilan yang kerap kali dilayangkan oleh kawan-kawan blogger, pecinta IT, dan