Skip to main content

Mempercepat Internet TRI 3 AlwaysON (AON) ke Facebook




PENDAHULUAN


Bagi para penggemar internet menggunakan kartu GSM, tentu TRI 3 AlwaysON (AON) merupakan primadona karena selain harga biaya paket yang murah yakni 25K sudah bisa mendapatkan kuota 1.25 Gb, ia juga memberikan akses gratis kepada 11 situs seperti facebook.com. Namun, primadona ini nampaknya makin lama makin ditinggalkan karena satu alasan, akses internet yang lemot.

KLARIFIKASI


Sebenarnya, tidak sepenuhnya benar bahwa akses internet dari TRI AON lemot karena pada kenyataannya, masalah ini hanya terjadi pada beberapa situs yakni salah satunya adalah FACEBOOK.COM.


Lantas, bagaimana pada situs lainnya? apakah cepat? Tentu! Saya mendownload dari file hosting bisa sampai ratusan KB, saya buka FACEBOOK menggunakan trik yang akan saya bagikan nanti juga bisa mencapai ratusan KB. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi?

AKAR PERMASALAHAN


Bila rekan-rekan mengecek IP address rekan-rekan di http://cmyip.com maka pasti rekan-rekan akan mendapatkan hasil bahwa IP rekan-rekan adalah 202.67.41.51. Lantas ada yang berteriak, “Woi, bohong lo. IP gue 10.x.x.x kok”. Oke, oke, kalem dulu ya. Saya tidak menyalahkan ketika ada yang berteriak demikian karena IP 10.x.x.x ya memang IP kita ketika kita terhubung ke jaringan TRI AON, tapi untuk terhubung ke internet, kita memiliki IP lain yakni 202.67.41.51. 


Pertanyaannya adalah, apakah bandwidth TRI tidak cukup untuk melayani pelanggannya yang mungkin sudah mencapai jutaan? Bisa jadi iya! tapi yang lebih logis adalah, pihak TRI tidak mau rugi dengan membuang bandwidth yang tak berbayar. Bayangkan, ada 11 situs yang digratiskan dan salah satunya adalah situs jejaring sosial besar yang hampir digunakan oleh masyarakat Indonesia yakni facebook. Bayangkan saja, ketika ada 10 juta pelanggan dan rata-rata tiap hari menghabiskan 100MB untuk browsing FB, stalking, dan upload foto. Pihak TRI harus menyediakan 1000TB untuk dihamburkan. Oleh karena itu, muncullah asumsi bahwa ada kebijakan dari pihak TRI untuk membatasi kecepatan akses ke facebook.com. Hal ini lah yang dapat menjelaskan kenapa ketika rekan-rekan mengakses situs selain facebook kecepatannya bisa maksimal karena rekan-rekan membayarnya dengan pemotongan kuota.

Nah, sampai sana, apakah sudah terjawab?

SOLUSI


Salah satu solusi yang dapat rekan-rekan gunakan adalah berlindung di balik proxy server. Sebenarnya, solusi ini cukup dilematis karena ia akan membinasakan esensi dari TRI AON yakni gratis akses ke 11 situs. Dengan menggunakan proxy, kecepatan akses internet rekan-rekan ke FACEBOOK bisa jadi mendekati maksimal, tapi saat itu pula, kuota rekan-rekan akan terpotong. Such a dilemma. Untuk proxy yang dapat rekan-rekan gunakan, silahkan cari proxy gratisan di http://nntime.com/proxy-country/Indonesia-01.htm atau di situs penyedia proxy lainnya. Cara menggunakan proxy di Mozilla, google chrome, dan browser lain silakan cari di google ya J



Salam,

Aryya Dwisatya W



Comments

  1. Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu

    ReplyDelete

Post a Comment

Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A