Tidak Ingin Menyesal Lagi

 Aku sering baca atau dengar bahwa salah satu hal yang paling menakutkan dari tinggal di luar negeri adalah panggilan tiba-tiba dari keluarga. Sebenarnya, tahun ini aku tidak berencana untuk pulang ke Indonesia karena kemarin sudah liburan ke Austria. Rencananya, tahun depan barulah kami berencana untuk liburan ke Indonesia mengingat sudah tiga tahun Nova dan Aya belum pulang. Tapi toh, ternyata rencana manusia hanya rencana, minggu lalu, 14 Agustus 2026, aku harus pulang ke Indonesia setelah mendapat kabar ibu sakit.

Pemandangan langit saat perjalanan ke Indonesia

Tidak Ingin Menyesal Lagi

Ada di suatu masa aku sangat gila kerja sampai-sampai kerja jadi prioritas utama dalam hidup. Bahkan, saat itu, untuk menjenguk sahabat baik saat dia dirawat pun aku tidak sempat. Bahkan, untuk mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya pun, aku tidak bisa karena mementingkan pekerjaanku. Sudah lewat hampir 10 tahun, tapi rasa penyesalan itu masih sering datang. Aku hanya bisa mengirimkan Al-Fatihah jika mengingat dia.

Kalau aku ingat lagi, aku hanya pernah tahu ibuku masuk rumah sakit dua kali, kemarin ini dan 20 tahunan lalu saat idulfitri. Selebihnya? sakit biasa seperti demam atau kecapean saja. Oleh karena itu, saat mendapat kabar bahwa ibu sedang dirawat di rumah sakit, ada perasaan takut yang susah dijelaskan. Aku selalu mendoakan keluargaku, setiap hari, tidak lepas, tapi tentu saja, ada hal yang bisa aku lakukan lebih dengan kemampuanku saat ini: pulang ke Indonesia. Tentu, tidak serta merta dapat kabar lalu aku pesan tiket pesawat dan terbang, ada beberapa pertimbangan. Bagaimana mengatur jadwal dengan anggota tim, bagaimana dengan Nova dan Aya di rumah, dan lain sebagainya.

Aku sangat berterima kasih kepada kakakku yang sudah pulang terlebih dahulu, hal itu membuatku sedikit lebih tenang, terlebih karena sejak masuk rumah sakit sampai pulang ke rumah, terlihat ada perkembangan yang baik pada ibu. Aku selalu ingat salah satu ucapan ibu sewaktu aku mau kuliah dulu dan nge-kos di Jember untuk sebulan, "Iya, ini bukan hanya untuk anak berlatih merantau, tapi juga untuk orang tua berlatih jauh dari anaknya". Sebagai seorang ayah, sekarang aku lebih mengerti apa yang ibuku maksud saat itu. Orang tua tidak ingin mengekang anaknya, tapi tentu orang tua akan selalu senang jika ada anaknya di sekitarnya.

Beruntung, agustus ini adalah liburan musim panas di Belanda, jadi Aya tidak sekolah dan Nova tidak perlu terlalu repot untuk mengantar jemput. Pun, di kerjaan, aku baru saja pindah ke kantor lama yang mana managerku orang Asia, dia paham betul value dari sebuah keluarga, aku hanya perlu menjelaskan kondisiku dan mengabarkan rencanaku, puff, berangkatlah aku ke Indonesia menempuh 32 jam perjalanan door to door dari rumah sampai Lumajang.

Anak Mengingat

Sekitar tahun 2017 akhir, aku terkena DBD di Bandung. Saat itu aku sudah menikah dan Nova sedang hamil Aya. Mendengar kabar itu, ibu langsung datang ke Bandung dan menjengukku di Rumah Sakit Borromeus. Untuk sampai ke Bandung, ibu harus naik travel dari Lumajang ke Surabaya selama 4-5 jam disambung dengan kereta selama 10 jam, jadi bisa dianggap perlu 15-16 jam perjalanan sampai ke Bandung. Sebagai anak, aku ingat perasaan disayangi, diperhatikan, dan diprioritaskan itu. Oleh karena itupun, saat ini, saat aku punya kemampuan, aku tidak segan-segan untuk juga memberikan hal yang sama atau lebih baik kepada orang tua. Walaupun seringkali orang tua akan bilang, "tidak perlu, nanti repot", "masih cukup".

Agaknya, keputusan untuk pulang ini adalah keputusan yang sangat tepat. Kalau bukan secara langsung, paling tidak secara mental atau semangat benar-benar berpengaruh. Setidaknya sudah satu tahun ibu tidak melihat anak-anaknya berkumpul di satu tempat yang sama dalam satu waktu, maka momen inilah salah satu momen yang membuat ibu bahagia dan lebih semangat untuk pulih.

Tidak Ada Kata

Saat dijemput oleh kakak, sepanjang perjalanan aku sudah memikirkan bagaimana dengan reaksiku nanti, sepertinya biasa saja. Aku akan berkata bahwa aku pulang, menemani beberapa waktu, dan memberi kata-kata yang menenangkan. Nyatanya, saat sampai rumah dan melihat ibu pertama kali, tidak ada satu kata pun yang keluar, pun yang ibu ucapkan, hanya tiba-tiba, kami menangis. 
Tahun lalu aku sempat pulang tanpa memberitahu sebagai kejutan, reaksi ibu dan bapakku sangat terkejut tapi aku tidak sempat memvideokan. Barulah kali ini aku sempat, malah tiba-tiba menangis berdua. 

Menyayangi yang Tua

Selama pulang ini aku sadar bahwa aku sangat bisa untuk menghormati orang tua, tapi selama seumur hidup, rasanya tidak banyak momen saat aku menunjukkan rasa sayangku kepada orang tua. Mungkin karena dibesarkan di lingkungan Jawa, ada sekat antara orang tua-anak bahkan untuk menunjukkan perasaan. Beruntung, sebagai seorang ayah, aku tidak segan-segan untuk menunjukkan raya sayangku kepada Aya, pun memberikan penghormatan kepadanya atas keputusan yang dia ambil. Ada sedikit rasa kikuk bagiku melakukan hal yang sama kepada bapak dan ibu, tapi setelah kulakukan sekali, setelahnya menjadi lebih mudah dan normal.

Rasanya, baru kemarin inilah aku memeluk bapakku dan mencium kening ibuku. Biasanya, aku selalu menjadi anak kecil di mata beliau berdua dan selalu salim dan mereka mencium kepalaku. Karena kepulanganku kemarin inilah, aku sadar bahwa orang tuaku juga perlu disayangi seperti mereka menyayangiku.


Salam,

Comments

Popular posts from this blog

Hari pertama : Salam kenal dari BangSat

BangSatya Mini Give Away

Pengalaman Berangkat Haji Tanpa Antri dari Belanda (2025)