Menyadari Trauma sebagai Seorang Suami dan Ayah

 Tadi malam sebelum tidur, entah mengapa pikiranku melayang seolah datang sebuah refleksi trauma sebagai seorang suami dan ayah. Menjadi seorang suami dan ayah adalah salah satu hal yang paling membahagiakan dalam hidup, tidak ada perdebatan tentang itu. Namun, ada masa di mana selama perjalanannya, ada trauma yang timbul. Bukan karena beratnya tanggung jawab, tapi justru ketidakmampuan untuk menjadi "sempurna". Apa yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah dan tentu ada hikmahnya, aku sangat sepakat. Namun, bukan berarti hal-hal tersebut tidak bisa meninggalkan trauma, entah mendalam atau cukup dangkal agar tiba-tiba teringat seperti tadi malam.

Menjadi Suami

Sejak menjadi suami, Bandung adalah kota pertama yang menjadi tempat tinggal kami. Sejak 2015 hingga 2020, kami tinggal di kota yang sangat padat tersebut. Aku baru menyadari bahwa aku suka mengunjungi Bandung sendirian, sebagai seorang laki-laki sendirian, tapi ketika harus datang bersama keluarga, rasanya,  ada kata hati yang seolah tidak rela. Aku pikir ini hal yang aneh, sampai aku coba cari-cari dalam diriku sendiri, dan aku sampai pada kesimpulan, aku menyangkal untuk mengakui bahwa ketika tinggal di Bandung dulu, aku "gagal" menjadi seorang suami yang bisa memberikan hidup yang "layak" untuk istriku.
Lorong rumah kontrakan pertama di Sadang Serang

Sebagai gambaran, aku menikah pada tahun 2015 ketika masih tingkat 3 kuliah. Saat itu, aku sudah bekerja paruh waktu di beberapa tempat sambil kuliah. Secara kelayakan hidup, lagi-lagi, menurutku sudah layak mengingat sebelum dan sudah menikah, lebih baik setelah menikah. dari yang sebelumnya tinggal di kamar kos, lalu pindah ke kontrakan setengah rumah yang ada kamar mandiri dan tempat untuk dijadikan dapur sendiri. Hal itu berlangsung dari 2015-2018 sebelum anak pertamaku lahir. Kalau kupikir lagi, kok bisa kami tinggal di sana? Maksudku, kenapa aku tidak afford tempat yang lebih layak? Aku merasa gagal sebagai suami di sana.

Menjadi Ayah

Ketika Aya lahir, kami tinggal di daerah Pesantren-Cigadung. Di rumah yang dipotong setengah menyisakan tempat tidur, ruang tengah, kamar mandi, dan sedikit pojok ruang untuk dapur. Lebih lega dari rumah pertama, tapi kalau kami memasak, asap dan bau masakan akan tetap tinggal di dalam rumah selama beberapa saat karena memang aliran udara tidak bagus.

Ruang tengah kontrakan kedua di Cigagung-Pesantren

Apakah aku bahagia di sana? Tentu. Ruangan lebih besar, daerah yang masih asri, harga kontrakan yang tidak terlalu mahal, dan  lain sebagainya. Namun, kembali lagi, ada masa-masa yang membuatku merasa gagal sebagai seorang ayah. Di kontrakan itu, tidak banyak ruang untuk Aya merangkak. Merangkak sedikit sudah ada sepeda motor, ke arah depan ada tempat sampah, ke kiri ada hal lain, dan sebagainya. Bagaimana bisa aku merasa tidak bersalah ketika untuk tumbuh kembangpun, sedikit sekali fasilitas yang bisa dia dapatkan? 

Gongnya, Januari 2019, Aya harus masuk rumah sakit, salah satu diagnosanya adalah demam berdarah. Aku tidak bisa membayangkan betapa tidak nyamannya dia selama sakit itu. Aku sebagai orang yang pernah terkena demam berdarah, juga beberapa waktu sebelum Aya lahir di rumah ini, tahu betapa lemasnya badan ketika sakit. Sekarang, Aya harus mengalami hal tersebut. Jadi, bayangkan perasaanmu sebagai ayah betapa bersalahnya dirimu karena memilih rumah itu, lingkungan itu untuk tinggal yang punya andil besar anakmu sampai sakit? Hal itu sangat membuat aku trauma dan menyalahkan diri sendiri karena aku berpikir, bisa lho untuk tinggal lebih layak, dan lain sebagainya.

Namun, Allah sepertinya ingin menghibur kami waktu itu. Ketika Aya rawat inap di rumah sakit saat itu, plafon di kamar tidur kami, tepat di posisi yang biasanya Aya tidur, jatuh.

Plafon Kamar Jatuh

Jikalah saat itu Aya sedang tiduran, mungkin kami akan lebih-lebih bersedih. Hikmah ini baru kami sadari sebagai cara Allah melindungi kami waktu itu.

Setelah periode itu, ada beberapa perubahan di lingkungan rumah kontrakan kami. Kolam ikan yang awalnya menampung air di depan rumah, ditutup oleh pemilik rumah, diuruk. Namun, dengan kondisi tinggal bertiga, rasanya kontrakan yang ini sudah tidak cukup besar dan kami perlu pindah ke tempat yang lebih layak.

Kontrakan Cigadung Timur

Dua bulan setelah Aya dirawat, kami pindah ke tempat baru. Kali ini, tempatnya lebih besar, ada parkir motor dengan pagar, ruang tengah, dua kamar tidur, dapur terpisah, dan kamar mandi.

Lorong Rumah Kontrakan kedua

Aku senang tinggal di rumah ini karena barulah di sini, Aya bisa lebih leluasa eksplorasi. Dia belajar merangkak dengan bebas, berjalan sambil berpegangan dinding, bahkan setelah bisa berjalan, dia bermain sepeda roda tiga di sini. Untuk kebekerjapun di sini lebih leluasa mengingat ada dua kamar yang satu aku gunakan untuk bekerja. Semua seakan "sempurna" kan?

Sampai pada akhirnya di Maret 2020, sebelum lockdown COVID-19, Aya harus rawat inap di Limijati karena batuk-demam dan nafas yang terengah-engah. Kami bisa lihat dadanya mengempis cekung dan ketika dicek saturasi oksigennya rendah. Alhasil, Aya harus dirawat inap selama beberapa hari. Begitupun kami. Sebagai gambaran, sewaktu itu belum ada tes COVID karena masih sangat awal. Akhirnya, kami bertiga di-isiolasi di satu ruangan di Limijati. Mungkin sewaktu itu, kami masuk ke dalam kategori PDP (pasien dalam pengawasan).

Kembali lagi, ketika Aya sakit waktu itu, aku menyalahkan diriku sendiri. Bagaimana bisa aku membiarkan keluargaku tinggal di kontrakan ini? Barulah aku sadari bahwa kontrakanku waktu itu cukup lembab, sirkulasi udara kurang bagus, dan posisinya sedikit lebih rendah dari jalan raya. Hal-hal itu yang baru aku sadari ketika Aya sakit. Setelahnya, kami langsung membeli air purifier untuk paling tidak membuat kualitas udara di dalam rumah lebih baik. Kalau saja waktu itu aku punya kemampuan lebih dalam hal finansial maupun pengetahuan, besar kemungkinan hal itu bisa dihindari, tapi toh, semua sudah terjadi dan sudah ada trauma yang terbentuk kembali.

Kembali ke Jawa Timur

Salah satu hikmah COVID saat itu adalah, kami bisa pindah ke Jawa Timur. Karena pekerjaan yang awalnya harus onsite bisa digantikan dengan remote, alhasil pindah ke Lumajang menjadi opsi. Bahkan, karena pindah ini, yakni pada Desember 2020, tiga/empat bulan setelahnya, aku mendapatkan kerja remote pertama dengan kantor berbasis di Singapura. Alhasil, secara finansial, ada lonjakan signifikan. Alhamdulillah.

Barulah ketika di Jawa Timur ini, kami bisa lebih leluasa untuk bergerak bahkan bisa mengontrak rumah dengan tiga kamar, halaman, ladang, parkiran, dan lain sebagainya di dekat pusat kota (yang mana harganya sama dengan kontrakan petak di Bandung kala itu). 

Alhamdulillah, sejak berpindah ke Jawa Timur, Aya tidak pernah di rawat di rumah sakit lagi. Walaupun, ada beberapa masa, sakit, tapi hanya rawat jalan. Hingga suatu ketika di Agustus 2023, Aya harus dirawat di rumah sakit (sebelumnya sepertinya juga pernah ada, karena sesak /tipes, tapi lupa waktunya kapan), karena ada riwayat sakit beberapa kali demam tapi tidak ada tanda-tanda lain sehingga dokter saat itu menyarankan rawat inap untuk kultur darah yang mana untuk memastikan tidak ada infeksi bakteri di dalam darah. Beruntung, semua aman dan setelah beberapa hari, Aya diperbolehkan pulang. Yang menakjubkan adalah, justru saat menemani Aya rawat inap itulah, di malam hari sekitar pukul 8-9 malam, aku melakukan wawancara kerja dengan Swisscom yang akhirnya mengantarkan kami semua pindah ke Belanda.

Jadi, kalau mau dibilang, 8 tahun menjalani hidup sebagai suami dan ayah punya trauma tersendiri. Bukan karena Indonesianya, tapi kebetulan semua itu terjadi ketika kami di Indonesia. Alhasil, ada pola di otakku yang mengasosiasikan aku, keluarga, dan Indonesia sebagai bentuk trauma atau kegagalan sebagai seorang suami dan/atau ayah untuk memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Itupula alasannya, sampai sekarang, aku seakan enggan untuk kembali ke Indonesia karena ada trauma-trauma Aya dirawat di rumah sakit terlebih faktor risikonya besar: kualitas udara dan kultur merokok orang Indonesia yang berkaitan dengan pernafasan, merujuk pada data yang lalu-lalu bahwa Aya pernah sesak dan dirawat karena itu. Demam berdarah karena nyamuk yang kita tidak bisa benar-benar hilangkan faktor risikonya dan benar-benar gambling, atau tipes yang mana berasal dari makanan/kebersihan. 

Ketika di Indonesia dulu, aku cenderung sangat strict ke Aya terutama soal makanan karena ada beberapa kejadian, bahkan untuk makan donat goreng dengan gula tabur saja, kurang dari 24 jam dia bisa demam, radang tenggorokan. Pun juga sama ketika makan snack kemasan. Aku sempat meledak marah-marah karena ada kerabat yang memberikan makanan snack kemasan ke Aya di siang hari dan malamnya, Aya langsung demam. "Kasian, sepertinya kepingin". Aku tidak bisa terima hal itu karena tahu betapa capeknya menjaga supaya Aya tetap sehat dengan menjaga makanannya lalu yang dengan entengnya memberi tanpa mengonfirmasi. 

Aku hanya berharap, rasa bersalah atau trauma yang aku rasakan dan amini ini hanya ada pada diriku saja. Semoga istri dan anakku, tidak pernah menganggap hal-hal yang aku sebutkan tadi sebagai trauma. Paling tidak, biarlah ini semua hanya buah dari overthinking seorang bapak-bapak yang ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya, tapi belum kesampaian saja.

Comments

Popular posts from this blog

Hari pertama : Salam kenal dari BangSat

BangSatya Mini Give Away

Pengalaman Berangkat Haji Tanpa Antri dari Belanda (2025)