Menikmati Libur Musim Panas 2026 di Vienna

Siapa sangka minggu pertama Agustus 2026 justru kami habiskan dengan liburan singkat ke Vienna, Austria. Sebagai orang yang mageran, tidak menyangka kalau liburan kali ini cukup seru. Di tulisan ini, kami akan cerita tentang liburan kali ini meliputi perjalanan ke Vienna, tips selama jalan-jalan, tempat makan yang recommended, dan rekomendasi aktivitas menikmati summer holiday di Vienna.

Penentuan Jadwal Liburan

Sebenarnya, dari perspektif waktu, minggu pertama Agustus adalah pilihan yang tepat mengingat kalau dari hasil cek, bulan terpanas di Vienna adalah bulan Juli, dan pun kalau panas, palingan sih 28 derajat saja.
Ekspektasi suhu di Vienna

Sayangnya, setelah penerbangan dan hotel dibooking, baru kami tahu kalau minggu itu, ada heat wave di Vienna dan suhu di luar rata-rata di atas 35 derajat Celcius. Panas? tentu. Oleh karena itu, ada beberapa penyesuaian di mana kami menginap dan apa saja yang dikejar (dilakukan) selama di Vienna.

Heat wave di Vienna, minggu pertama Agustus 2026

Menentukan Ekspektasi

Karena ada heat wave tersebut, kami harus atur ekspektasi karena jalan jauh dan lama di bawah terik matahari dengan suhu sedemikian tinggi sangat tidak nyaman dan mungkin bisa bahaya. Jadi teringat waktu jalan untuk lempar jumroh di Mina tahun lalu. Oleh karena itu, kami hanya punya 3 target utama: melihat panda di kebun binatang, bertemu teman di Vienna, dan berenang di Sungai Danube.

Sisanya? Fleksibel saja disesuaikan dengan kondisi. Alhasil, ada hari di mana kami baru keluar dari hotel sekitar pukul 11 siang dan baru pulang sekitar pukul 11 malam. Jam tidur dan makan pun disesuaikan saja. Semakin sak lek, semakin gampang kecewa dan ribet.

Perjalanan Menuju Vienna

Perjalanan ke Vienna kami mulai dari Rotterdam. Seperti biasa, pemberhentian pertama adalah Rotterdam Centraal supaya bisa naik kereta Intercity Direct langsung ke Schiphol yang hanya memerlukan 26 menit dan sekitar 16 Euro saja. Seperti biasa, selalu online check-in terlebih dahulu dan kalau bisa print saja boarding pass supaya lebih mudah ditunjukkan, tidak menggunakan hp. Selain itu, karena Austrian Air katanya penuh, mereka memberikan free check-in baggage. Waktu itu, ketika berangkat, kami perlu membawa sampai ke boarding gate karena miss informasi tersebut, tapi ketika pulang, bisa langsung check-in dan drop baggage di tempat yang sudah disediakan menggunakan alat ini.

Baggage Drop Area

Caranya cukup sederhana: cetak dan tempel baggage tag dari mesin lalu taruh bagasi tidur menyamping dan scan dengan barcode scan. Tadaa, baggage drop selesai.  
Kami menggunakan Austrian Air OS312 yang terbang di pagi hari dan sampai sedikit sebelum makan siang. Alasannya sederhana, hotel baru bisa check-in sekitar pukul 3 sore, alhasil ada jeda waktu sekitar 3 jam untuk menuju pusat kota dan makan siang.
Amsterdam menuju Vienna OS312


Boarding ke pesawat

Selama perjalanan dari Amsterdam ke Vienna Airport, tidak ada pengecekan ID, passport ataupun resident permit. Kami kira, paling tidak dicek resident permit karena masih sama-sama Schengen, tapi ternyata langsung saja. Bahkan selama beberapa hari di Vienna, tidak ada pengecekan apapun. Sepertinya cukup santai.

Menuju Pusat Kota Vienna

Sesampainya di airport, ada banyak cara untuk menuju pusat kota, tapi menurut kami yang paling rekomen adalah dengan naik kereta. Ada dua tipe kereta, OBB train yakni kereta normal dan CAT train yakni kereta express. Bedanya di waktu dan biaya. CAT lebih cepat yang mana hanya perlu 16 menit tapi harganya lumayan mahal. Alhasil, kami memilih OBB train karena toh tidak buru-buru, selisih waktu hanya sekitar 10 menit, dan hanya perlu membayar 5.3 Euro. Lumayan murah kan?




Saranku, sebelum sampai di Vienna, install dan daftar OBB Tickets supaya lebih gampang untuk order tiket karena di sini tidak ada tap in dan tap out, tapi kadang ada pengecekan dari petugas. Lokasi stasiun kereta di Vienna Airport pun mudah ditemukan. Cari saja jalan menurun ke bawah dengan tanda seperti di foto berikut.

Lokasi stasiun kereta

Peron kereta OBB

Buatku, kereta di Vienna ini mengingatkanku dengan kereta di Swiss, serasa masih baru. Untuk kenyamanan pun memuaskan, tidak glodak-globak alias adem dan stabil.

Suasana di dalam OBB Train

Menentukan Tempat Menginap

Mengingat adanya heat wave ketika kami liburan, alhasil kami mencari tempat menginap yang ada AC nya. Kalau tidak, tidak terbayang betapa panas dan tidak nyamannya selama di Vienna. Akhirnya, kami memilih AM Parkring hotel yang lokasinya ada di samping Stadrpark yakni taman kota Vienna. Selain karena dekat dengan taman, lokasi hotel ini juga dekat dengan pusat kota (Stephanplatz), metro station, train station, dan tram halte sehingga memudahkan mobilitas terutama di cuaca yang sangat panas.





Free coffe & dessert sambil menunggu check-in

View dari kamar hotel

Memang, dari segi harga, per malam di hotel ini cukup mahal, tapi balik lagi, jalan-jalan dengan anak kecil yang diutamakan ya kenyamanan, toh tidak setiap bulan. Selama menginap, kami pun tidak include breakfast karena breakfast di hotel Eropa termasuk mahal dan tidak worth dengan harganya. Dulu ketika di Swiss pun juga sama, alhasil, lebih memilih untuk sarapan roti di pagi hari dan menggabungkan sarapan dan makan siang.

Ngomong-ngomong soal makan siang, kebetulan sekali di seberang hotel ada restoran timur tengah namanya Lord of S dan pegawai (atau ownernya) berasal dari Jerusalem, umurnya sudah 60 tahun.

Suasana Restoran Lord of S

Biryani Kambing

Biryani Kambing di restoran ini juara. Rasanya enak, porsi jumbo (bisa untuk dua orang dewasa) dan harganya masih wajar yakni sekitar 23 Euro.

Mulai Menjelajahi Kota

Setelah makan siang dan check-in, kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu karena kami sudah menempuh perjalanan sejak jam 5 pagi dan cuaca di luar masih terlampau panas untuk jalan-jalan. Tampaknya, hal tersebut adalah keputusan tepat karena setelahnya, di malam hari kami berencana untuk menjelajahi pusat kota yang walking distance dari hotel yakni Stephansplatz. Di Stephansplatz, ada beberapa point of interest tapi yang paling utama adalah Stephansdom yakni gereja katedral di Vienna.

Area luar Stephansdom

Bagian dalam Stephansdom

Stephansdom dari samping

Selain ada gereja katedral, ada banyak restoran yang bisa dijajaki. Untuk makan malam pun, kami memilih salah satu Turkish restoran karena mencari opsi halal.

Menikmati Vienna Saat Terang

Di hari kedua, setelah tenaga sudah terisi, aku memutuskan untuk jalan-jalan singkat dulu ke Stadtpark yang sangat dekat dari hotel. Sebenarnya, tidak banyak hal yang wow di sini, ada beberapa patung yang menarik, tempat duduk, dan kanal yang sedang surut saja.


Jalan turunan di Stadtpark

Setelah puas menjelajahi taman kota, waktunya untuk menyelesaikan misi utama yakni melihat panda. Tujuan kami waktu itu adalah Tiergarten Schönbrunn  yakni kebun binatang tertua di dunia. Kebun binatang tersebut memang terletak di komplek yang sangat besar dan berdampingan dengan taman lain seperti botani dan desert

Schonbrunn Garden

Botanical Garden

Melihat Panda tiduran


Oh iya, untuk menuju ke Schönbrunn, kami menggunakan metro atau kereta bawah tanah. 


Metro station di Stadtpark

Metro di Vienna

Setelah melihat kereta jarak jauh yang begitu bagus dan rapi, agaknya kami cukup kaget dengan metro di Vienna yang terlihat tua. Selain itu, tidak ada AC di dalamnya dan ketika melaju dengan kecepatan tinggi, getaran dan goncangan cukup terasa. Mungkin, inilah salah satu kekurangan yang bisa kami temukan di Vienna.  Nah, untuk membeli tiket, bisa menggunakan OBB app tadi. Kalau memang dalam satu hari berencana untuk mengunjungi lebih dari satu tempat dengan metro, alangkah baiknya membeli daily pass saja yang harganya hanya 9 Euro. Dengan demikian, kita bisa menggunakan metro sebanyak mungkin kemanapun di area Vienna.

Di kebun binatang, kami tidak bisa bertahan lama karena sangat panas. Sekitar pukul 12, kami pun pulang ke hotel untuk istirahat agar energi bisa terisi sebelum target selanjutnya: berenang di Sungai Danube.

Menikmati Sungai Danube

Saat sore hari telah tiba, suhu sudah tidak setinggi siang hari dan sangat cocok untuk berenang, kami pun menuju Neue Donau / Sungai Danube di area Pier22. Ada jembatan yang sangat besar membentang di atas sungai yang sangat indah.

Sungai Danube

Terlebih, saat matahari hendak terbenam, hamburan cahaya senja membuat pemandangan sungai menjadi lebih magis.

Sungai Danube saat senja

Sebagai seorang yang tidak punya sertifikat renang, berenang di sungai ini tereasa seru karena arusnya tidak sederas Sungai Aare di Bern, Swiss. Mirip seperti tahun lalu, ketika summer, berenang di sungai di Eropa, mungkin bisa jadi ritual tahunan :D



Mandatory photo setelah berenang

Seperti sedia kala, setelah berenang ada yang wajib dilakukan yakni? makan. Nah, kali ini tidak makan masakan timur tengah melainkan makanan khas Vienna yakni schnitzel alias ayam krispi geprek :D

Ayam krispi geprek khas Vienna

Lagi-lagi, lokasinya di Stephansplatz karena memang area ini adalah pusat kota Vienna. 

Terkagum dengan mainan kecil di sekitaran Sptehanspaltz

Menikmati Bianglala Tertua di Dunia

Di hari ketiga, kami hanya ingin naik bianglala tertua di dunia yang ada di komplek permainan Prater di malam hari agar tidak terlalu panas. Untuk mengisi waktu sampai malam, kami memutuskan untuk kulineran saja di Vienna. Ada dua tempat yang ingin kami kunjungi: Mr. Chen Noodle yakni hand-pulled noodle dan Gelataria La Romana.

Kami penasaran dengan Mr.Chen Noodle karena di Rotterdam ada Lanzhou Yellow-River jadi mau tahu seperti apa bedanya. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota, hanya sekitar 15-20 menit saja dengan metro. Lokasinya pun dekat dengan jalan utama dan walkable dari stasiun metro terdekat. Kami membeli tiga menu: Curry Noodle, Tomato Noodle, Sliced Beef, dan Soya Pudding. Oh iya, restoran ini halal jadi bisa lebih tenang dan leluasa untuk makan.



Curry Noodle dan Tomato Noodle

Buatku, aku lebih suka Tomato Noodle karena ada sensasi sedikit asam. Selain itu, rasanya tidak terlalu kuat / nyegrak, jadi pas. Kalau Nova, dia lebih suka mie Lanzhou yang di Rotterdam. Balik lagi, dengan porsi, harga, dan rasa, aku bisa bilang layak untuk mencoba makan di sini jika sedang ke Vienna. harga per porsi mi tersebut di kisaran 13 Euro saja.

Tidak jauh dari situ, sekitar 5 menit jalan kaki ada toko gelato terkenal jadi kami memutuskan untuk mencoba juga. Harga satu cup gelato dengan dua varian adalah 4.5 Euro, kami membeli dua cup dengan 3 varian rasa: vanilla, pistachio, dan biscotto. Kalau mau diulang, pistaschio dan vanilla saja rasanya sudah pas.

Mr. Noodle Chen ke Gelateria La Romana


Suasana di dalam Gelataria La Romana



Klein Gelato

Setelah kenyang dan segar dengan gelato, di akhir petang kami menuju ke Prater park untuk melihat dan menikmati wahana yang ada. Sampai sana, kami melihat-lihat terlebih dahulu hingga memutuskan untuk naik bianglala tertua di dunia dan juga komedi putar kuda :v

Bianglala tertua di dunia

Pintu masuk Prater park

Naik kuda

Menemani princess kecil naik kuda

Memilih kuda mini

Prater dilihat dari atas (bianglala)

Hari Terakhir di Vienna

Setelah puas menjelajahi sebagian kota Vienna selama beberapa hari, akhirnya kami harus pulang. Namun, ada satu kendala yakni hotel mewajibkan untuk checkout pukul 11 siang dan pesawat dijadwalkan pukul 8 malam. Alhasil ada waktu 9 jam yang harus diisi. Untuk itu, kami tetap checkout pukul 11 siang karena late checkout hanya sampai jam 1 siang dan ada charge 40 Euro yang mana cukup mahal untuk 2 jam saja. Kalau bisa sampai jam 3, pasti akan kami ambil.

Setelah checkout, kami menuju ke Wien train station dengan dua koper yang harus diseret. Tip lain, bisa gunakan CityLocker untuk menyimpan koper dengan biaya 8 Euro selama satu hari. Lokasinya persis di sebelah Wien station. Barulah setelah itu, kami menikmati makan siang di resto India bernama Bella Santi

Bella Santi resto

Biryani lamb, king prawn, dan butter naan


Jujur, butter naan di sana adalah naan terenak yang pernah aku makan. Lembut, tipis, tapi ada renyahnya. Setelah makan siang sampai pesawat mendarat di Schiphol tidak ada yang unik, perjalanan seperti biasa selain menunggu yang sangat lama karena kami memutuskan untuk ke airport saja, sudah tidak ada tenaga untuk jalan-jalan dan malas ke museum. Akhirnya, kami sampai rumah sekitar tengah malam.


Buatku, Vienna adalah kota yang indah mengingat bentuk bangunan yang kontras dengan Rotterdam. Namun, dua hari saja sudah bosan karena ya bangunan sih begitu-begitu saja. Terlebih, kota ini terlalu banyak aspal dan sedikit hehijauan, jadinya terasa sangat panas. Mungkin suatu saat akan ke sana lagi, tapi kalau ada pilihan lain, mungkin akan mencoba ke tempat lain terlebih dahulu.

Apapun itu, pengalaman jalan-jalan ke Vienna adalah pengalaman yang menyenangkan dan patut disyukuri sebagai jalan-jalan untuk merayakan tahun ke-11 pernikahan.

Sampai jumpa lagi (bye)



Comments

Popular posts from this blog

Hari pertama : Salam kenal dari BangSat

BangSatya Mini Give Away

Pengalaman Berangkat Haji Tanpa Antri dari Belanda (2025)