Skip to main content

(Kembali) Menyeimbangkan Hidup

 Kemaren, tanggal 22 Maret 2021 pukul 15.00 adalah waktu pengumuman SNMPTN 2021. Saya, adalah produk dari SNMPTN, tapi tahun 2012. Artinya, sudah 9 tahun berlalu sejak pengumuman kelulusan SNMPTN yang mengantarkan saya ke ITB. Merantau dari kota kecil, Lumajang, ke kota besar bernama Bandung.

Siapa sangka, setelah 9 tahun merantau ke Bandung, dimulai dari kuliah pada 2012 hingga bekerja pada 2016, akhirnya saya pulang ke Lumajang. Biasanya, pertanyaan yang paling sering muncul adalah, "memangnya mau kerja apa di Lumajang?" Tentu, saya sendiri juga mempertanyakan hal tersebut. Untungnya, ada jawabnya, yakni melanjutkan pekerjaan yang ada di Bandung. 

Meskipun banyak dampak negatif pandemi tahun lalu, tapi satu hal yang patut disyukuri adalah, karena pandemi, model kerja programmer jadi banyak berubah, lebih menekankan Work From Home (WFH). Tentu hal itu dikarenakan adanya faktor risiko penularan Covid-19. Namun, di sisi lain, secara cost, WFH ini juga menurunkan pengeluaran kantor. Biaya makan berkurang, biaya meeting berkurang, biaya akomodasi berkurang. Selama ada internet, pekerjaan bisa diselesaikan dan rapat tetap bisa dihadiri.

Saya salah satu dari sekian banyak orang yang memanfaatkan momen pandemi kemaren untuk pulang ke kampung. Toh, pekerjaan bisa dibawa, deliverables bisa disetor sebagaimana mestinya. Apalagi, selama 9 bulan kemaren sejak maret sampai desember, praktis saya sekeluarga hanya di rumah. Beberapa kali keluar, itupun untuk vaksinasi dkk. Bekerja fully WFH. Mungkin, kalau ada sertifikat, saya sudah berhak mengajukan sertifikat trusted employee dalam ber-WFH ini.

Lebih Bahagia

Yang paling terasa, bagi saya, istri, maupun anak, setelah pindah ke Lumajang adalah lebih bahagia. Ini cerita istri saya, selama satu tahun kemaren stres terus karena saya kerjaannya kerja terus dan hanya di rumah. Olahraga? apa itu. Bayangkan, bangun jam 5 pagi lalu kerja sampai 10 malam atau bahkan lebih. Burnout? Ya pastilah, tapi karena memang kerjaannya banyak. Untungnya, sekali lagi, untungnya kontribusi sebanding dengan apresiasi. 

"Emang, setahunan sibuk terus?" Iya, mulai awal tahun ikut jadi tim pengembangan sistem baru di kampus yang langsung dimanfaatkan di awal pandemi.Yap, ijazah digital, berlanjut menjadi digital signature di level kampus. Beritanya bisa dibaca di https://www.itb.ac.id/berita/detail/57459/pertama-di-indonesia-itb-menerbitkan-ijazah-digital-dengan-tanda-tangan-elektronik-bersertifikat. Beres satu, ada yang lain, yakni implementasi sebagian sistem QR untuk keluar masuk kampus, dan juga terlibat di tim SIREKAP 2020, kerjasama antara KPU dan ITB. Jangan lupa, semua itu harus dikerjakan berbarengan dengan mendeliver 5 SKS dengan 3 kuliah yang berbeda seperti yang saya ceritakan di https://aryyadwisatya.blogspot.com/2021/03/berkesempatan-menjadi-pengajar.html

Dengan jadwal seperti itu, tentu ada yang stress, bukan hanya saya, tapi istri dan anak juga. Alhamdulillah, istri dan anak tidak rewelan selama satahun kemaren mendekam di rumah, satu hal yang sangat patut disyukuri.

Bedanya, saat ini saya bisa lebih punya banyak waktu baik untuk diri sendiri (ini yang sering terlewat, sampai stress dan gampang marah), untuk istri, untuk anak, dan untuk orang tua. Di Bandung? mana sempat, yang ada kejra-kerja-kerja. Di Lumajang, semua menjadi lebih santai. Saya punya waktu untuk sepedahan, hal ini jadi salah satu cara meredakan stress, melihat kebun, bersepeda bareng istri, bermain bersama anak, dan ngobrol dengan orang tua. Selama tahun 2021 ini saja, saya sudah nabung sepedahan sejauh 621 km. Alhasil, badan lebih sehat dan kuat, serta mental saya juga lebih sehat. Jadwal yang dulu kerja mulai dari jam 5 pagi, sekarang bisa digeser jadi jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Walaupun memang, kadang juga extend sampai malam kalau ada emergency case maupun rapat project yang lain, tapi oke lah masih hal yang wajar.

Tumbuh Kembang Anak

Lingkungan memang punya andil besar dalam tumbuh kembang anak. Saya sangat bersyukur walaupun 9 bulan anak saya di rumah saja, yang pastinya sangat kurang sinar matahari, alhamdulillah tumbuh dengan baik (insyaallah). Paling, yang biasanya dilakukan anak saya ya main sepeda dari depan ke belakang lalu ke depan lagi dan seterusnya. Bosan? Pastinya. Tapi anak saya sangat baik, mengerti, tidak menuntut, tapi kalau sudah diajak keluar walaupun untuk vaksin, sangat senang walaupun hanya untuk bisa melihat burung dan ikan sambil menunggu vaksin di Biofarma.

Tiga bulan sudah kembali ke Jawa Timur, saya bisa merasakan anak saya semakin ceria, semakin senang bercerita, kosakatanya meningkat pesat, berat badan bertambah, makin kuat, dan sebagainya. Alhamdulillah. Hal ini yang membuat saya yakin bahwa memang, pindah, kembali ke Lumajang adalah keputusan yang tepat. 

Selama tiga bulan ini, hampir setiap pagi, anak saya bisa melihat pepohonan hijau di belakang rumah. memanggil-manggil bebek, memanggil kucing, dan melihat burung yang hinggap di dahan belakang rumah. Hal-hal itu tidak bisa didapatkan jika tetap memaksakan diri untuk berdiam di Bandung. 

Dokumentasi

Ada banyak momen yang dilalui selama tiga bulan ini, tapi paling tidak, ada beberapa yang bisa terekam dalam bentuk gambar.

Statistik Strava saya



Sepedahan ke arah Gunung Semeru


Bersepeda bareng istri

Bunga di belakang rumah, foto oleh istri

Akhirnya, saya bisa bilang, bahwa berpindah, meninggalkan Bandung memang tidak mudah, tapi sebanding dengan ketenangan hati dan kesehatan baik jiwa dan raga.


See ya.

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Sobat Upgrade Plus-Plus

 Pada bulan april lalu saya membuat tulisan tentang pilihan saya untuk menjadi sobat upgrade ketimbang harus membeli sepeda balap baru yang harganya mencapai paling tidak 6 juta rupiah. Bulan demi bulan, saya mencoba mengganti komponen sepeda Polygon fork rigid saya mulai dari bottom bracket, hub free hub, ruji, dan yang paling baru adalah pedal di hari minggu lalu. Sebenarnya, saya punya prinsip, upgrade semaksimal mungkin sampai tidak bisa diupgrade atau costnya tidak efektif lagi. Contohnya, fork rigid ini sudah susah untuk diganti ban jadi ban balap karena ukuran rangka sepedanya terlalu kecil dan akan perlu pemotongan manual, jadi cerita mengganti ban balap harus diurungkan. Selain itu, FD nya juga sudah patah dan mencari FD yang sejenis lumayan susah dan biasanya malah harus ganti semuanya yang mana berarti mesti merogoh kocek lebih dalam. Upgrade Plus-Plus Balik ke cerita saya april lalu, salah satu alasan saya tidak mau beli sepeda balap baru ya karena harganya sangat mahal bag

Belajarlah Wahai Anak Muda!

Dahulu kala hiduplah seorang lelaki tua bernama Doyanta yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk reot di samping sungai. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rumahnya, hanya sebuah gubuk dari bambu yang mungkin akan dengan mudah diterbangkan oleh angin pada zaman sekarang, betapa tidak, peti kemas saja yang begitu berat di Tanjung Priok bisa roboh tertiup oleh angin di zaman yang sudah edan ini. Rumah nya tak begitu besar malah dapat dibilang kecil, tak ada penerangan selain lilin kecil yang memberikan sedikit pencahayaan ketika malam hari selain rembulan yang terkadang pun pergi meninggalkan dirinya. Hidupnya sepi, sendiri, tak ada yang tau bagaimana masa lalu lelaki tua tersebut. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk merebahkan tubuhnya yang kurus kering itu di kursi yang tak jauh lebih gemuk dari butuhnya, mungkin sama ringannya. Matanya menerawang jauh menembus hutan, gunung, dan mungkin lautan. Beberapa waktu dia asyik hidup dalam dunianya sendiri, lalu lalang