Skip to main content

Apa Terjadi Ketika Sidang Tugas Akhir

Di awal tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka-mereka yang telah membantu saya hingga sampai di sini mulai dari bantuan, hadiah, kedatangan, maupun doa. Sekali lagi terima kasih terutama untuk ibu, bapak, Nova, keluarga (mas, adik, pakde, bude, lek, bapak ibu mertua), dan, dukteker IF ITB, dan kawan-kawan.

Mari saya mulai cerita atau lebih tepatnya kronologi sidang akhir saya pada Senin, 30 Mei 2016.

Pukul 06.30, saya sudah sampai di IF ITB untuk mengecek keadaan ruangan. Untungnya, hari jumat minggu sebelumnya, dukteker ITB sudah berkoordinasi dengan orang dapur agar ruang 7611 dapat dibuka sepagi mungkin.

Pukul 06.35, mulailah melakukan pengecekan ruangan. Internet OK, proyektor OK, AC lumayan, kursi OK, karpet OK, dan seterusnya hahaha. Intinya untuk ruangan dan peralatan tidak ada masalah. Nah, mengingat proyektor di 7611 agak-agak gimana, cek dulu tampilan slide presentasi yang dibuat saat digunakan proyektor. Untungnya datang jauh lebih awal dari jadwal karena memang ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan.

Suasana Sebelum Sidang


Pukul 06.40, mulailah mengulang materi yang hendak disampaikan. Intinya mengulang, supaya tidak ada yang lupa.

Pukul 07.25, kebelet pipis! Fix, ini bisa bikin kacau. Coba bayangkan, jadwal sidang adalah pukul 07.30, ruangan kalau tidak ditutup, risiko laptop hilang, kalau ditutup masih ribet harus cari kunci untuk membuka. Bisa jadi selesai kencing, ruangan tertutup dan enggak jadi sidang karena dosen pembimbing serta penguji tidak bisa masuk.


Untungnya, Yafi “The Kid” datang sebagai penyelamat dan memberikan saya kesempatan untuk kencing. Entah, apa yang akan terjadi saat sidang bila saat itu Yafi tidak datang dan saya tidak kencing. Sungguh, jasamu sangat besar, Yaf.


Pukul 07.40, sidang dimulai dengan pembukaan dari ketua sidang dan dilanjutkan dengan presentasi dari mahasiswa. Semua berjalan lancar walaupun di awal sangat amat terasa nervous. Anyway, terima kasih untuk kesempatan memimpin forum mulai dari di forum angkatan STEI 2012, forum taplok, forum GLF, hearing caketu-OSKM-KAT, hearing ketua pemira, dan forum-forum lain yang memberikan saya kesempatan untuk belajar banyak. Jadi, siapa bilang hal-hal non akademik tidak ada hubungannya dengan hal akademik. :v

Pukul 08.20, presentasi selesai dan dimulai sesi tanya jawab. Sejujurnya, tahap ini adalah tahap kedua menegangkan sebelum tahap termenegangkan nanti. Coba bayangkan, dari awal sesi, saya sudah bisa melihat ada banyak tulisan-tulisan di kertas yang ada di depan penguji. Ya Allah, apa saja isi tulisan itu.

Awal-awal sesi pertanyaan, mengenai tata tulis dan lain-lain, mulailah dalam hati muncul celetukan-celetukan, “insyaallah lulus ini mah.”. Namun, makin lama dan makin banyak pertanyaan yang diajukan, celetukan-celetukan tadi berubah dari pernyataan menjadi pertanyaan, “wah, ini lulus gak ya?”

Well, dalam waktu kurang dari 40 menit, rasa ini dibolak-balik, hahaha. Terima kasih kepada kakak-kakak yang dulu memberi materi tentang olah rasa, sedikit banyak membantu saya agar tetap fokus.

Pukul 08.55/09.00, sesi tanya jawab berakhir dan peserta sidang dipersilahkan untuk keluar sehingga panitia dapat melakukan diskusi tertutup. Setelah beberapa waktu, peserta sidang dipersilahkan masuk.

“Kami sudah memiliki nilai. Ada tiga pilihan yakni lulus, lulus bersyarat, atau tidak lulus. Anda pilih yang mana?” (redaksi bisa berbeda, tapi maknanya sama).

Oke, ada tiga pilihan yang diajukan. Ada dua pilihan yang ekstrem. Sidang ulang? Wah, amit-amit deh, jangan sampai, nanti stres lagi seperti kemarin. Fix saya tidak mau pilihan ini. Lulus? Well, melihat begitu banyak coretan maka saya cukup sadar diri bahwa saya tidak pantas untuk langsung lulus. Well, akhirnya saya memilih.

“Lulus bersyarat dengan revisi, Bu.”

“Baik, kami mengabulkan permintaan Anda.”

Dan, akhirnya, muncullah keputusan bahwa saya sudah mendapatkan gelar, S.T(b). Sarjana Teknik (bersyarat) yang harus mengumpulkan revisi laporan dalam waktu 2 minggu sejak jadwal sidang yakni 13 Juni 2016. Bila tidak, maka harus dilakukan sidang ulang. Naudzubillah.


Pukul 09.00-…, muncullah bergelombang kawan-kawan yang datang menyelamati, memberi hadiah, dan foto bersama. Well, terima kasih untuk semua, doakan revisinya bisa cepat beres sehingga bisa segera mengubah gelar ,S.T(b). menjadi ,S.T. Amin


-------
Selfie pertama setelah sidang. Semoga kalian lancar ya San, Lid, Van.

Hm...ini bareng siapa ya

Bareng Sang Penyelamat

Unch DDAT
 

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Belajarlah Wahai Anak Muda!

Dahulu kala hiduplah seorang lelaki tua bernama Doyanta yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk reot di samping sungai. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rumahnya, hanya sebuah gubuk dari bambu yang mungkin akan dengan mudah diterbangkan oleh angin pada zaman sekarang, betapa tidak, peti kemas saja yang begitu berat di Tanjung Priok bisa roboh tertiup oleh angin di zaman yang sudah edan ini. Rumah nya tak begitu besar malah dapat dibilang kecil, tak ada penerangan selain lilin kecil yang memberikan sedikit pencahayaan ketika malam hari selain rembulan yang terkadang pun pergi meninggalkan dirinya. Hidupnya sepi, sendiri, tak ada yang tau bagaimana masa lalu lelaki tua tersebut. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk merebahkan tubuhnya yang kurus kering itu di kursi yang tak jauh lebih gemuk dari butuhnya, mungkin sama ringannya. Matanya menerawang jauh menembus hutan, gunung, dan mungkin lautan. Beberapa waktu dia asyik hidup dalam dunianya sendiri, lalu lalang

Sobat Upgrade Plus-Plus

 Pada bulan april lalu saya membuat tulisan tentang pilihan saya untuk menjadi sobat upgrade ketimbang harus membeli sepeda balap baru yang harganya mencapai paling tidak 6 juta rupiah. Bulan demi bulan, saya mencoba mengganti komponen sepeda Polygon fork rigid saya mulai dari bottom bracket, hub free hub, ruji, dan yang paling baru adalah pedal di hari minggu lalu. Sebenarnya, saya punya prinsip, upgrade semaksimal mungkin sampai tidak bisa diupgrade atau costnya tidak efektif lagi. Contohnya, fork rigid ini sudah susah untuk diganti ban jadi ban balap karena ukuran rangka sepedanya terlalu kecil dan akan perlu pemotongan manual, jadi cerita mengganti ban balap harus diurungkan. Selain itu, FD nya juga sudah patah dan mencari FD yang sejenis lumayan susah dan biasanya malah harus ganti semuanya yang mana berarti mesti merogoh kocek lebih dalam. Upgrade Plus-Plus Balik ke cerita saya april lalu, salah satu alasan saya tidak mau beli sepeda balap baru ya karena harganya sangat mahal bag