Skip to main content

LGBT Tanpa Agama

Beberapa waktu belakangan, mungkin dalam hitungan tahun, isu LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender) semakin marak diperbincangkan dan katanya menuntut eksistensinya. Pada tulisan ini, saya akan mencoba membahas LGBT tanpa melibatkan agama. Jadi, silahkan saja anggap saya tidak beragama dari awal tulisan hingga tulisan ini berakhir.  Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri sehingga saya memiliki sikap terkait isu ini mengingat sangat mungkin isu ini berdampak bagi saya dan orang-orang terdekat saya. Lantas, mengapa tidak ditinjau dari surut pandang seseorang yang beragama? Well, tidak semua orang percaya agama, tidak semua orang mempercayai kebenaran suatu agama, dan yang terpenting adalah saya mencoba lebih se-frekuensi dengan berpikir memakai nalar dasar manusia. Mari kita mulai.

Simbol LGBT
source: wikipedia

What is LGBT stand for?
Menurut Wikipedia, LGBR merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (1), yakni sebutan bagi orang-orang yang menyukai sesama jenis baik lelaki maupun wanita, menyukai sesama jenis dan lawan jenis, serta orang-orang yang berganti gender. Sebetulnya, gerakan LGBT sudah ada di Indonesia sejak tahun 1980-an walaupun tidak dengan massa yang lebih banyak dari sekarang (2). Nah, barulah pada setelah beberapa tahun belakangan, aksi dari golongan ini semakin nampak terlebih setelah dilegalkannya pernikahan sejenis di beberapa negara di dunia.

Respon Terhadap LGBT di Indonesia
Di Indonesia sendiri, secara umum ada beberapa golongan reaksi terhadap LGBT yakni menentang, mendukung, dan membiarkan. Saya mencoba mempermudah klasifikasi dengan hanya membuat tiga golongan saja dengan definisi sebagai berikut. Golongan menentang adalah golongan yang yakin bahwa LGBT adalah sesuatu yang salah. Golongan mendukung adalah golongan yang yakin bahwa LGBT tidak salah. Golongan membiarkan adalah golongan yang tidak mau menentukan sikap secara ekstrim dengan dikotomi salah dan tidak salah. Nah, kita ada di golongan yang mana?
LGBT, didukung atau dilawan?

  1. Mari kita tinjau dahulu sebelum mengambil kesimpulan. Sebenarnya, LBGT ini positif atau negatif? Sebagai seorang non pelaku LGBT, saya bisa mencari-cari hal positif dari LGBT, paling tidak berikut adalah hal-hal positif yang seseorang dapatkan jika dia adalah pelaku LGBT:Seseorang akan punya banyak kesempatan untuk memuaskan diri. Oke, sebut saja setiap orang butuh kepuasan biologis, dan dengan adanya LGBT, seseorang bisa memiliki banyak kesempatan memuaskan kebutuhan biologisnya. Entah itu dengan sesama jenis, berlainan jenis, atau sekaligus dengan dua-duanya. Enak toh? Biar tidak masturbasi terus!
  2. Seseorang mendapatkan kesempatan untuk menyalurkan ketertarikannya yang bervariasi. Well, sebenarnya hal kedua tidak jauh berbeda dari hal pertama.
  3. ….

Sejujurnya, saya hanya bisa memikirkan dua keuntungan saja terkait LGBT yang semuanya cenderung terkait pribadi, kepuasan atau kebaikan pribadi saja.

Sebelum saya lanjutkan, ada prinsip yang harus sama-sama diyakini bahwa urutan kebaikan yang harus diutamakan adalah kebaikan bagi seluruh makhluk, kebaikan bagi masyarakat umum, barulah kebaikan bagi diri sendiri. Lantas, apa hal negatif dari LGBT tanpa berpijak pada agama?
  1. Sex Transmitted Diseases (STD, penyakit menular melalui sex) akan semakin banyak. Pakai nalar saja, semakin banyak jumlah pengulangan, semakin banyak juga jumlah kemungkinan yang terjadi. Dengan adanya LGBT, jumlah kemungkinan sex akan meningkat. Bukan hanya dengan lawan jenis, tapi juga sesama jenis.
  2. Kepunahan manusia. Salah satu tujuan reproduksi selain untuk memenuhi kebutuhan biologis adalah untuk mempertahankan spesies. Sampai saat ini saya tidak bisa menemukan kasus pelaku L, G, dan T yang menghasilkan keturunan. Cepat atau lambat, seberapa banyak pun penduduk dunia sekarang akan habis jika tidak ada manusia baru yang dilahirkan padahal kematian adalah yang pasti mulai dari faktor usia, penyakit, atau hal lain seperti bencana dan kecelakaan.

Mengapa saya tidak mencantumkan kerusakan tatanan sosial sebagai hal negatif LGBT? Sederhana, tatanan sosial adalah tentang kesepakatan, pada akhirnya ketika LGBT adalah mayoritas, ketika mereka semua sepakat definisi baru tentang ayah, ibu, anak, suami, istri, dan lain-lain maka alasan tersebut tidak lagi relevan. Hal negatif kedua yang saya sampaikan patutnya dipikirkan matang-matang bagi seluruh umat manusia pelaku LGBT maupun non LGBT. Pada titik ini saya menjadi seseorang yang kontra LGBT mengingat dampak buruk yang akan ditimbulkan jauh-jauh hari nanti. Bukankah lebih baik memadamkan api kecil daripada api yang sudah besar dan menjalar ke mana-mana?

Saya setuju dengan pendapat kaum LGBT yang berkata bahwa pelaku LGBT juga manusia. Ya benar, manusia juga. Oleh karena itu sebisa mungkin buka hinaan atau cacian, tapi bantuan untuk hidup yang baik demi kebaikan bersama lah yang harus kita berikan. Menolak bukan berarti harus mencela melainkan mengingatkan dan membantu untuk berubah. Semoga kita semua mempunyai keputusan yang jelas terhadap isu-isu yang ada di sekitar kita.

Salam,
Aryya Dwisatya W


(1) https://en.wikipedia.org/wiki/LGBT
(2) https://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas_di_Indonesia

Comments

  1. Kalau isu yg LGBT masuk kampus dan akan menular ke mahasiswa yang lain di jakarta itu apa sedemikian besar dampaknya bang?
    Dan juga adanya razia-razia LGBT yg diisukan/pernah terjadi di ibukota..itu apa bukan tindakan yg menyudutkan?
    Lalu bagaimana dengan LGBT yg dr awal bukan masuk klub atau grup..dan hanya sebatas saling mencintai layaknya cowok ke cewek..apa pengaruhnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelumnya harus diperjelas dulu nih, untuk pertanyaan pertama maksudnya bagaimana ya? Dampak ke siapa? masuk kampus yang mana? ada beritanya?

      Kedua, razia yang dilakukan seperti apa ya? Menyudutkan dari sudut pandang siapa? LGBT kah? Orang umum kah?

      LGBT yang masuk atau tidak pada suatu klub bukankah sama? Sama-sama membutuhkan sarana menyalurkan kebutuhan biologis?

      Delete
  2. "Sex Transmitted Diseases (STD, penyakit menular melalui sex) akan semakin banyak"

    LGBT itu orientasi. Dan STD itu ditularkan lewat perilaku. Tolong bisa bedakan.

    Coba kalau saya bilang semakin banyak orang Islam, semakin banyak pelaku bom bunuh diri, itu ada hubungannya tidak?

    "Dengan adanya LGBT, jumlah kemungkinan sex akan meningkat. Bukan hanya dengan lawan jenis, tapi juga sesama jenis."

    Data darimana?

    "Kepunahan manusia. Salah satu tujuan reproduksi selain untuk memenuhi kebutuhan biologis adalah untuk mempertahankan spesies."

    Yang heterosexual saja suka buang bayi lho. Kalo enggak buang, diperlakukan semena2 pun ada. Lha keluarga homoseksual itu biasanya ngadopsi anak2 dari panti, bagus untuk kesejahteraan umat.

    Dan kalo pakai data wikipedia, udah baca ini belum? https://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_sexual_orientation

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu lucu, hahaha

      "LGBT itu orientasi. Dan STD itu ditularkan lewat perilaku. Tolong bisa bedakan.

      Coba kalau saya bilang semakin banyak orang Islam, semakin banyak pelaku bom bunuh diri, itu ada hubungannya tidak?" Analoginya aneh, btw, kalau kamu bilang LGBT adlah orientasi, perilaku mereka seperti apa?

      "Data darimana?"
      Menurut gue, dengan adanya LGBT, pandangan sex bukan hanya dengan lawan jenis, tapi juga sesama jenis, alhasil, kemungkinan nya makin banyak.
      Kalau misalkan ada 5 lelaki dan 5 wanita, semua normal, kemungkinan sex normalnya, ya sekitaran 25 kemungkinan. Minimal 5, kalau mereka memegang norma 1 lelaki 1 wanita atrau sebaliknya, tapi bisa jadi 25 kalai 1 lelaki bisa dengan 5 wanita.
      Nah, kalau LGBT, kan gak harus tuh lelaki dan wanita, jadi bisa makin banya. LelakixLelaki, LelakixWanita, WanitaxWanita

      "Yang heterosexual saja suka buang bayi lho. Kalo enggak buang, diperlakukan semena2 pun ada. Lha keluarga homoseksual itu biasanya ngadopsi anak2 dari panti, bagus untuk kesejahteraan umat."
      Hal ini tidak menjawab permasalahan bahwa sex sejenis tidak dapat menghasilkan keturunan yang pada akhinya sama saja, kematian akan lebih banyak daripada kelahiran. Mengadopsi anak itu hal bagus, tapi ingat, anak itu lahirnya dari pasangan yang hetero. Mau LGBT atau enggak, membuang bayi itu salah, tapi bukan jadi pembenaran LGBT akan menghasilkan keturunan.

      Delete
    2. "Analoginya aneh, btw, kalau kamu bilang LGBT adlah orientasi, perilaku mereka seperti apa?"

      "Menurut gue, dengan adanya LGBT, pandangan sex bukan hanya dengan lawan jenis, tapi juga sesama jenis, alhasil, kemungkinan nya makin banyak.
      Kalau misalkan ada 5 lelaki dan 5 wanita, semua normal, kemungkinan sex normalnya, ya sekitaran 25 kemungkinan. Minimal 5, kalau mereka memegang norma 1 lelaki 1 wanita atrau sebaliknya, tapi bisa jadi 25 kalai 1 lelaki bisa dengan 5 wanita.
      Nah, kalau LGBT, kan gak harus tuh lelaki dan wanita, jadi bisa makin banya. LelakixLelaki, LelakixWanita, WanitaxWanita"

      Dari sinilah yang lucu, kamu tidak paham LGBT itu apa. LGBT itu adalah orientasi. LGBT menyatakan kecenderungan. Kalau Gay berarti cenderung suka sesama lelaki. Kalau lesbian ya cenderung suka sesama perempuan. Tapi itu adalah orientasi, bukan perilaku. Dan dengan jadi LGBT, bukan berarti gampang ngeseks atau fleksible. Mbok yo kalau gangerti ya baca dulu.

      Perilaku seksual adalah ekspresi seksualitas. STD itu berkaitan dengan ekspresi seksualitas yang tidak bertanggung jawab, tidak ada kaitannya dengan LGBT karena heteroseksual juga bisa kena dan tentunya jumlah pasien STD heterosex lebih banyak dong secara logika. Seorang LGBT ketika tidak berperilaku seksual secara seenaknya, maka dia tidak menyumbang kedalam penyebaran STD. Jadi perilaku seksual bergantung pada orangnya. Bukan pada orientasi, ngerti?

      Istilah itu sangat berpengaruh dalam tulisan, dan ini sangat krusial. Kenapa saya bawa2 analoginya ekstrim (Islam dan Bom)?

      Karena kamu sama pola pikirnya, ngga ngerti dan ngga nyambung. Islam itu adalah agama. Sedangkan bom bunuh diri adalah perilaku radikal, yang tidak ada kaitannya dengan Islam, tetapi kaitannya dengan individual, politik, situasi ekonomi dan lainnya.

      Kamu itu enggak ngerti seksualitas berani buat tulisan begini. Kalau sampai banyak yang share dan menyesatkan orang banyak, kamu harus bisa bertanggung jawab. Ya kalau kamu percaya akhirat, ya disana kamu harus bertanggung jawab atas tulisan ngaco kamu.

      Delete
    3. Btw pertanyaan terkait perilaku LGBT belum dijawab lho, karena bagi saya perilaku kita ya bergantung dari orientasi kita. Tolong pertanyaan ini dijawab dulu.

      Kalau dibilang jumlah STD apda hetero paling banyak, ya memang, orang populasinya paling banyak. Ada data gak, prosentase STD pada LGBT? Lebih besar mana prosentase pengidap STD pada LGBT dan orang "normal"? Supaya bisa menjawab nih kalau orientasi enggak ada kaitannya degan perilaku.

      Biar saja setiap orang membaca dari tulisan sampai komentar ini dan menarik kesimpulannya masing-masing. Saya menulis dengan pengetahuan saya dan pembaca menarik kesimpulan dengan pengetahuannya.

      Delete
  3. Perilaku LGBT ya bergantung orangnya. LGBT itu sekali lagi adalah kecenderungan, ga ada hubungannya sama perilaku, coba kamu baca ini

    https://www.facebook.com/notes/dina-astuti/lesbian-gay-bisexual-transgender-lgbt/10153952304806340?hc_location=ufi

    Tulisan sesat gini sangat sulit dikoreksi di Indonesia, karena yang mau ngoreksi takut dituduh LGBT lah. Ujung-ujungnya LGBT yang semakin teraniaya. Ingat konsekuensi dari menyebarkan tulisan yang tidak didasari ilmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Btw masih ada pertanyaan yang belum dijawab.

      Terima kasih sudah mengingatkan dan berbagi info.

      Delete
    3. Ini ada data, dari populasi gay dan biseksual, 80% menderita HIV. Kalau dibilang generalisasi, ini ada data general.
      https://www.nzaf.org.nz/getting-tested/testing-month/hiv-risk-for-gay-men/
      https://www.nzaf.org.nz/hiv-aids-stis/hiv-aids/hiv-in-new-zealand/

      Sayangnya, stand LGBT "hanya" kecenderungan sepertinya tidak benar secara praktik. Dapat dilihat bahwa G dan B mayoritas memiliki perilaku yang sama.

      Delete
    4. Kamu menarik kesimpulan dari situs saja sudah salah, coba baca yang bener:

      80% dari hasil diagnosa HIV adalah gay dan bisex.

      Kalimat diatas TIDAK bisa disimpulkan menjadi:

      80% populasi gay dan bisex menderita HIV.

      tidak heran saya jelaskan pelan-pelan, ngeyel terus. narik kesimpulannya saja ngawur.

      coba baca yang benar dulu, lalu link yang saya kasih pelan-pelan bacanya. bedakan gender, orientasi seksual, perilaku seksual, serta hubungan satu sama lainnya.

      soal HIV AIDS itu, sekali lagi, tidak disebabkan oleh orientasi. kalau kamu suka ngeseks sembarangan ya kena AIDS dong. ngerti?

      Mengenai pertanyaan yang belum dijawab, saya tidak paham cara jawabnya kalau kamu masih mengkaitkan langsung antara STD dan orientasi seksual. Simply ga bisa dikaitkan saja.

      Delete
    5. Oke, saya mengakui kesalahan saya dalam membaca grafik tersebut. Namun, dari kesalahan tersebut, terpatahkan pernyataan "Perilaku seksual adalah ekspresi seksualitas. STD itu berkaitan dengan ekspresi seksualitas yang tidak bertanggung jawab, tidak ada kaitannya dengan LGBT karena heteroseksual juga bisa kena dan tentunya jumlah pasien STD heterosex lebih banyak dong secara logika. Seorang LGBT ketika tidak berperilaku seksual secara seenaknya, maka dia tidak menyumbang kedalam penyebaran STD. Jadi perilaku seksual bergantung pada orangnya. Bukan pada orientasi, ngerti?"

      Dari nalar saudara yang menyatakan hetero pasti lebih banyak, nyatanya, gay dan bisexual mengidap HIV lebih banyak daripada hetero menurut data tersebut. Padahal, menurut data yang ada, populasinya hanya 2.5% tapi menyimbang penderita HIV yang paling banyak. Masih menyangkal kalau LGBT menjadi penyumbang STD yang banyak dengan adanya kemungkinan melakukan sex dengan berbagai pasangan lebih banyak?

      Delete

Post a Comment

Tanggapilah, dengan begitu saya tahu apa yang ada dalam pikiranmu

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari

Berbicara Tentang Nama

Tak banyak orang menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat setia menemani mereka. Sama setianya dengan dua malaikat yang katanya ada di kiri dan kanan kita. Mereka yang tak lelah mencatat ini itu yang mungkin akan menjadi jutaan buku bila diterbitkan. Dia yang sangat setia, tapi tak sepenuhnya disadari dan diresapi. Dia yang sangat mulia tapi dianggap biasa, nama. Sejatinya nama bukan hanya sebatas alat untuk mengidentifikasi seseorang. Bukan hanya sebagai alat untuk membedakan antarmanusia. Tidak sedangkal itu, bagi saya nama lebih dari itu melainkan sebuah pengharapan. Saya yakin bahwa setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya dengan berbagai tujuan yang mana salah satunya adalah sebagai pengharapan. Berharap sang anak menjadi seperti nama yang diamanahkan. Nama juga amanah. Amanah yang harus kita perjuangkan, amanah yang melekat kepada kita sejak kita lahir. Hampir dua puluh satu tahun yang lalu orang tua saya memberikan amanah pada saya berupa nama, A