Skip to main content

Pengalaman Membuat Paspor di Bandung

Intermezzo

Lagi-lagi, blog saya kering kerontang tulisan akibat ketidakadaan niat dan usaha untuk menulis. Kalau tidak salah, sudah hampir sebulan sejak tulisan terakhir. Kali ini, saya akan berbagi cerita yang mestinya sih bermanfaat dan semoga membantu rekan-rekan sekalian.

Paspor

Andai saja ke luar negeri tak butuh paspor, saya tidak akan membuat paspor.Namun, ternyata eh ternyata, kalau mau ke luar negeri baik belajar dan wisata, butuh paspor, yasudah saya buat paspor supaya bisa ambil kesempatan di luar negeri semacam S2 atau bekerja.
Sebenarnya, wacana membuat paspor sudah ada sejak beberapa bulan lalu. Saya menargetkan bulan agustus sudah dapat paspor tapi nyatanya tertunda dua bulan karena satu dan lain hal. Ya mau gimana, kalau mau dapat beasiswa dari LPDP ke luar negeri harus ada paspor dan target daftar LPDP januari 2017 nanti. Insyallah selasa besok sudah punya paspor dan tinggal mengurus ganjalan S2 di Trento, sertifikat bahasa inggris.

Membuat Paspor di Bandung

Karena saya sementara tinggal di Bandung maka saya membuat paspor di Bandung juga. Kantor Imigrasi Kelas I bandung berlokasi di Jalan Suropati no 82 , Cihar Geulis dan ternyata tidak jauh-jauh dari kontrakan saya.
Jarak dari kontrakan ke kantor imigrasi
Untuk membuat paspor, ada beberapa persyaratan yang harus dibawa antara lain:
  • KTP, KK, Akta, dan Ijazah asli dan fotokopi dalam ukuran A4
Saya baru saja dapat informasi bahwa KTP yang diterima hanya KTP elektronik, untuk KTP tipe lama, sudah tidak diperkenankan lagi. Selain itu, ijazah yang dibawa harus yang mencantumkan nama orang tua, oleh karena itu saya membawa ijazah SMA, bukan ijazah kuliah. Nah, selain itu, yang sering keliru adalah ukuran fotokopi KTP yang dipotong, bukan tetap ukuran A4. Untungnya saya sudah mendapat informasi ini sebelum-sebelumnya dari Wahid Ghani dkk. Jadi, lancar.
  • Uang dengan nominal tertentu untuk membayar
Nominal ini bervariasi tergantung tipe paspor yang dibuat. Karena saya membuat paspor 48 halaman maka uang yang harus saya bayarkan untuk paspor adalah Rp.300.000

Persyaratan Pembuatan Paspor
Prosedur pembuatan paspor terbagi menjadi dua yakni pembuatan paspor via online dan manual. Kemarin, saya berniat untuk membuat paspor via manual dengan datang jam 8 pagi ke kantor dan mengikuti prosedur yang ada, tapi ternyata, saat saya datang saya mendapatkan antrian nomor ratusan dan selama 1 jam di sana, masih jauh dari nomor antrian saya. Akhir nya saya memutuskan untuk pulang dan mengurus paspor via online karena saat saya pulang, antrian via online baru sampai pada nomor 30 an saja. Beda jauh kan?

Mengurus Paspor via Online

Bagi saya, mengurus paspor via online sangat mudah dan memudahkan, terlepas dari server yang beberapa waktu mati entah karena apa. Langkah-langkah pembuatan paspor via online cukup sederhana yakni:
  • 1.       Masuk ke laman https://ipass.imigrasi.go.id:9443/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml
  • 2.       Pilih Pra Permohonan Personal
Halaman Utama Portal ipass Imigrasi
  • 3.       Isi form dengan data yang sesuai dan benar
  • 4.       Lakukan pembayaran
  • 5.       Konfirmasi tanggal kedatangan
  • 6.       Datang ke kantor

Membayar Permohonan Paspor

Ada beberapa cara untuk melakukan pembayaran seperti transfer via ATM, datang ke bank, atau menggunakan ibanking. Dari hasil riset kecil, mayoritas menggunakan BNI untuk melakukan pembayaran, nah karena saya adanya mandiri, ya sudah coba pakai fasilitas internet banking dari mandiri dan ternyata berhasil. Menu yang dipilih Home -> Pembayaran -> PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) lalu masukkan nomor MGN yang didapat dari hasil pra permohonan. Tak berselang lama, bila pembayaran sukses akan didapatkan NTPN yang harus diinputkan ke website imigrasi. Eureka, selanjutnya tinggal konfirmasi tanggal kedatangan ke kantor imigrasi dan datang ke kantor imigrasi.

Datang Ke Kantor Imigrasi

Kedatangan ke kantor imigrasi untuk beberapa hal yakni verifikasi berkas, wawancara, foto, dan pengambilan sidik jari. Saran saya, datang pukul 6 pagi untuk mengambil nomor antrian karena makin awal makin cepat dilayani dan makin cepat selesai. Tadi pagi saya datang pukul 6 pagi dan mendapatkan antrian nomor 2 dan dilayani pertama karena yang nomor satu tidak nyahut saat dipanggil.

Verifikasi berkas sebenarnya sederhana dan cepat, hanya mengecek apakah dokumen asli dan fotokopi lengkap dan benar. Tadi sempat ditanya ijazah sarjana tapi saya tidak bawa lalu saya disuruh mundur, saya kira bermasalah, ternyata tidak. Saya diberikan nomor antrian untuk wawancara. 

Pada saat wawancara pun sebenarnya cepat dan mudah, hanya mencocokkan data diri dengan menanyakan pertanyaan sehingga bisa ketahuan apakah data yang tertera benar seperti ditanya nama, tempat tanggal lahir, dan lain-lain. Nah, tadi itu, si mas-mas nya bilang, Aryya, langsung saja saya jawab Aryya Dwisatya W, terus dia bilang, iya, nama kita sama, dan saat itu saya baru sadar. Wawancara beres, lanjut pengambilan foto dan sidik jari. Total waktu yang diperlukan tidak sampai 30 menit lho dari verifikasi sampai dapat bukti pengambilan paspor untuk selasa besok. 

Secara umum, mengurus paspor di Kota Bandung asik-asik saja dan cepat serta memuaskan. Jadi, kalau bisa urus sendiri, kenapa harus pakai calo?

Comments

Popular posts from this blog

Wirid Sesudah Sholat

Assalamualaikum, Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tentang beberapa dzikir sesudah sholat yang saya amalkan beserta beberapa penjelasan pun sekaligus pengharapan yang ada di dalamnya. Basmalah (33x) Dalam memulai setiap pekerjaan, hendaknya kita memulainya dengan membaca basmalah supaya pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” ( Shifatush Shalah , ha

Aku, Keterpurukanku, dan Mereka yang Kutinggalkan

Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia bersama kedua orang tua saya dan satu orang gadis cantik yang selalu bisa membuat saya nyaman di dekatnya. Seperti biasa, saya mengecek total buku Carding for Beginner yang sudah terjual, ternyata di stok online masih sama dengan beberapa hari yang lalu walaupun di rak buku sudah ada buku yang terjual, updatenya kurang cepat. Apakah kali ini saya akan bercerita tentang buku yang saya tulis atau buku yang akan saya tulis? Tidak, sama sekali tidak. Kali ini saya ingin berbagi kisah nyata saya sebagai pengamal yang entah itu sukses atau tidak kepada kawan-kawan sekalian. Sebuah kesadaran tentang spiritualitas saya. Sebuah kesadaran setelah membaca buku agama yang membahas tujuh amalan pelejit kesuksesan. Kisah Nyata Sebagai Pengamal Cerita ini saya mulai ketika saya SMA. Sebuah tahap ketika saya benar-benar mencoba ini dan itu. Sebuah tahap saya dengan kuatnya melakukan sesuatu. Saya berkaca dari