Skip to main content

Posts

Selangkah Lagi Menjadi Sarjana Teknik dari Informatika ITB

Sudah 13 jam yang lalu sejak selesainya seminar tugas akhir I saya di Ruang 7611 Labtek V. Rasanya begitu lega ketika satu beban terangkat walaupun pada akhirnya berganti dengan beban lain. Ya namanya juga hidup, kumpulan dari berbagai hal tersebut. // Kalau di Teknik Informatika ITB, setiap mahasiswa harus menjalani setidaknya dua seminar dan satu sidang. Seminar pertama adalah seminar kerja praktek. Bila selesai seminar ini, biasanya dengan bangga menyebut diri sebagai S.Kp yakni Sarjana Kerja Praktek, haha. Seminar kedua adalah seminar tugas akhir I yang mana adalah ajang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil pengerjaan tugas akhir I nya meliputi BAB I – Pendahuluan, BAB II – Dasar Teori, dan BAB III – Rancangan Solusi. Seminar ini menjadi gerbang mahasiswa untuk melanjutkan ke fase selanjutnya yakni menuju sidang tugas akhir sebagai syarat kelulusan dan mendapatkan gelar Sarjana Teknik (S.T.). Alhamdulillah, hari ini, saya sudah resmi menyelesaikan dua seminar walaupun nilai

Ketika Jogja dan Bandung Menarik Hati

Semester 8. Tingkat akhir. Itulah fase waktu yang harus saya jalani saat ini sebagai mahasiswa Teknik Informatika di Institut Teknologi Bandung. Nah, beberapa waktu ini saya sempat galau terkait kehidupan pascasarjana saya nanti. Bukan tentang apa yang akan saya lakukan, tapi lebih ke di mana saya akan melakukan hal tersebut. Jadi begini, saya berencana mengambil program magister Informatika. Awalnya, saya ingin di Bandung karena memang sekarang sudah cukup nyaman di Bandung (hampir empat tahun). Nah, konsentrasi yang ingin saya tekuni sebenarnya adalah cyber security  tapi ternyata konsentrasi tersebut di ITB bukan milik prodi informatika. Sayang sekali kan? Akhirnya saya berpikir sejenak. Mengingat Oktober 2015 ketika kawan-kawan dari Universitas Islam Indonesia Jogjakarta mempresentasikan makalahnya di Konferensi Nasional Informatika 2015, saya jadi tertarik terhadap UII terlebih karena katanya di sana ada Puslabfor (Pusat Laboratorium Forensi), wah kapan lagi kan bisa join lab

Tips Optimalisasi Resource VPS

Beberapa waktu lalu, saya cukup dibuat berpikir karena penggunaan resource yang digunakan di VPS saya hampir selalu 100%. Nah, bagaimana tidak, RAM nya hanya 512MB sedangkan ada banyak service yang harus dijalankan. Mau upgrade spesifikasi, males bayar lebih mahal, ingin enaknya saja kan? Hahahaha. Usut punya usut, optimalisasi resource ini akhirnya bisa dilakukan. Setelah dilakukan identifikasi service yang berjalan, ternyata service yang banyak menghabiskan resource baik RAM maupun cpu adalah Squid Proxy, Httpd, dan MySQL. Kebetulan, situs-situs yang saya host tidak banyak yang melakukan koneksi ke MySQL. Namun, untuk Squid proxy beda lagi karena usernya tidak hanya satu orang melainkan lebih dari belasan. MySQL diperlukan untuk menyimpan autentikasi pengguna. Nah, untuk akses authentikasi yang tidak seberapa itu, saya harus merelakan memory termakan dari puluhan MB hingga ratusan MB, sayang kan? Padahal, squid proxy pun memerlukan memory yang cukup tinggi. Oleh karena itulah, saya m

Cerita Kesulitan Membayar Kuliah di ITB

Banyak diantara siswa-siswi SMA yang memiliki minat dan bakat untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi tapi tidak mencoba karena takut karena biara. Ketika dulu saya melakukan sosialisasi penerimaan ke SMA yang ada di Lumajang, saya selalu menyampaikan, “Jangan takut kuliah di ITB kalau alasannya karena biaya.”. Karena saya berkuliah di ITB maka saya akan memberikan cerita kesulitan membayar kuliah di ITB beserta solusinya.   Logo ITB via itb.ac.id Bagi banyak orang yang tinggi di desa seperti saya, nama ITB sepertinya cukup asing. Kalau dilihat dari namanya, oh ini pasti di Bandung. Oh ini tempatnya banyak orang-orang hebat dulu kuliah. Oh ini ada di kota dan di Jawa Barat Wah, biaya hidup di sana pasti mahal. Wah, biaya kuliah di sana pasti mahal! Sejujurnya, tidak semua anggapan itu salah, dan justru benar. Aku Tak Mau Kuliah Karena Takut Kesulitan Membayar Kuliah di ITB Ketika awal menjadi mahasiswa baru, kakak tingkat saya memberitahu saya bahwa TIDAK ADA MAHASISWA DI

Opini Mahasiswa UI Terkait Titip Absen dan Mencontek

Beberapa waktu belakangan terjadi kegegeran akibat video opini mahasiswa UI terkait titip absen dan mencontek. Bagi saya ini adalah fenomena yang menarik, berikut opini saya:   Di awal mesti sama-sama paham bahwa yang ada di video ini hanya sample sehingga tidak bisa merepresentasikan keadaan dari populasi. Sample cuman bisa memberikan kesimpulan "ada" bukan "keseluruhan" Pertama, saya jadi ingat kata-kata Cak Nun, "..coba, cari dulu kebaikan yang ada." Oke, terlepas dari nyontek dan tipsen itu tidak dibenarkan peraturan akademik dan moral paling enggak mereka udah berani jujur untuk mengakuinya. Sayangnya, ada pertanyaan yang kurang, "nyontek dan tipsen itu bener gak sih?". Kalau nyontek itu salah, paling enggak mereka tau kalau mereka ngelakuin kesalahan. Untungnya, mereka enggak jadi kandidat presiden km tahun-tahun lalu yang kalau enggak salah sampe ditanya, "lo pernah tipsen gak?" "lo pernah nyontek gak?" wah kan